Kisah Fitriesya Maulani, Perempuan Tangguh di Balik Bisnis Berat
Jum'at, 19 September 2025 - 17:40 WIB
loading...
Ketika banyak perempuan ragu menekuni sektor konstruksi dan energi yang didominasi laki-laki, Fitriesya Maulani justru memilih jalan berbeda. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Ketika banyak perempuan ragu menekuni sektor konstruksi dan energi yang didominasi laki-laki, Fitriesya Maulani justru memilih jalan berbeda. Lahir di Biak, Papua, perempuan berusia 37 tahun ini berhasil membangun Dhanteras Group, perusahaan penyedia material alam dan solar industri yang telah berdiri lebih dari 11 tahun dan kini memiliki sekitar 200 pegawai.
Dari pemasok perlengkapan kerja sederhana—seragam, sepatu, helm, hingga kebutuhan K3—Fitriesya membawa perusahaannya naik kelas menjadi salah satu pemasok material yang berperan penting dalam proyek infrastruktur nasional. Jaringan distribusi Dhanteras Group kini menjangkau hampir seluruh Indonesia, dengan rekam jejak kontribusi mulai dari pembangunan jalan tol, proyek gedung bertingkat, pengadaan pemerintah daerah, hingga penyaluran material untuk mendukung pemulihan pascagempa Cianjur.
Infrastruktur: Pasar Bernilai Ratusan Triliun
Bisnis material alam dan energi tidak bisa dilepaskan dari tren pembangunan infrastruktur. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran sebesar Rp 422,7 triliun dalam APBN 2024. Sektor konstruksi sendiri menyumbang hampir 10% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Pemerintah melalui Kementerian PUPR menargetkan penambahan 203 kilometer jalan tol baru yang siap operasi pada tahun 2025. Target ambisius ini menciptakan permintaan besar untuk material alam seperti pasir, batu, serta energi pendukung seperti solar industri. BPS juga mencatat, sektor konstruksi juga telah menyerap lebih dari 8,7 juta tenaga kerja atau 5,97% dari total penduduk bekerja di Indonesia.
“Kami melihat kebutuhan material akan terus meningkat sejalan dengan proyek infrastruktur pemerintah. Tantangan kami adalah menjaga kualitas mulai dari tenaga kerja yang professional dan distribusi agar bisa memenuhi standar proyek berskala nasional,” kata Fitriesya dalam wawancara.
Dari Bank ke Bisnis Jalan Tol
Sebelum menjadi pengusaha, Fitriesya menempuh pendidikan Diploma Akuntansi di Institut Pertanian Bogor (IPB) lulusan tahun 2010 dan melanjutkan S1 Administrasi Bisnis di Sekolah Tinggi Ilmu Mandala lulusan tahun 2011. Karier profesionalnya berawal sebagai sales promotion girl (SPG) untuk berbagai produk, lalu diterima di Telkomsel, perusahaan dengan target penjualan yang ketat.
Dari pemasok perlengkapan kerja sederhana—seragam, sepatu, helm, hingga kebutuhan K3—Fitriesya membawa perusahaannya naik kelas menjadi salah satu pemasok material yang berperan penting dalam proyek infrastruktur nasional. Jaringan distribusi Dhanteras Group kini menjangkau hampir seluruh Indonesia, dengan rekam jejak kontribusi mulai dari pembangunan jalan tol, proyek gedung bertingkat, pengadaan pemerintah daerah, hingga penyaluran material untuk mendukung pemulihan pascagempa Cianjur.
Infrastruktur: Pasar Bernilai Ratusan Triliun
Bisnis material alam dan energi tidak bisa dilepaskan dari tren pembangunan infrastruktur. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pemerintah Indonesia mengalokasikan anggaran sebesar Rp 422,7 triliun dalam APBN 2024. Sektor konstruksi sendiri menyumbang hampir 10% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Pemerintah melalui Kementerian PUPR menargetkan penambahan 203 kilometer jalan tol baru yang siap operasi pada tahun 2025. Target ambisius ini menciptakan permintaan besar untuk material alam seperti pasir, batu, serta energi pendukung seperti solar industri. BPS juga mencatat, sektor konstruksi juga telah menyerap lebih dari 8,7 juta tenaga kerja atau 5,97% dari total penduduk bekerja di Indonesia.
“Kami melihat kebutuhan material akan terus meningkat sejalan dengan proyek infrastruktur pemerintah. Tantangan kami adalah menjaga kualitas mulai dari tenaga kerja yang professional dan distribusi agar bisa memenuhi standar proyek berskala nasional,” kata Fitriesya dalam wawancara.
Dari Bank ke Bisnis Jalan Tol
Sebelum menjadi pengusaha, Fitriesya menempuh pendidikan Diploma Akuntansi di Institut Pertanian Bogor (IPB) lulusan tahun 2010 dan melanjutkan S1 Administrasi Bisnis di Sekolah Tinggi Ilmu Mandala lulusan tahun 2011. Karier profesionalnya berawal sebagai sales promotion girl (SPG) untuk berbagai produk, lalu diterima di Telkomsel, perusahaan dengan target penjualan yang ketat.
Lihat Juga :