Trump Murka Acara Jimmy Kimmel Kembali Tayang, Ancam Gugat ABC
Kamis, 25 September 2025 - 09:40 WIB
loading...
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan murka karena tayangan komedi larut malam Jimmy Kimmel Live!, yang kerap mengkritiknya kembali tayang. Foto/People
A
A
A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan murka karena tayangan komedi larut malam Jimmy Kimmel Live!, yang selama ini dikenal kerap mengkritiknya secara terbuka kembali tayang. Ia bahkan mengancam akan gugat ABC, stasiun televisi yang menayangkan program tersebut.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut kehadiran Kimmel di layar kaca bukan hanya merugikan citranya, melainkan juga dianggap sebagai bentuk dukungan terselubung untuk Partai Demokrat. Ia bahkan menuding hal tersebut bisa dikategorikan sebagai sumbangan kampanye ilegal dan mengisyaratkan akan membawa ABC ke meja hijau.
![Trump Murka Acara Jimmy Kimmel Kembali Tayang, Ancam Gugat ABC]()
Foto/Time Magazine
Baca Juga: Apa Itu Chronic Venous Insufficiency? Penyakit yang Diderita Donald Trump
Ketika Jimmy Kimmel tampil kembali di layar kaca pada Selasa, 23 September 2025 malam, ia menyampaikan monolog yang meramalkan bahwa ABC akan menghadapi tekanan besar dari pemerintahan Trump. Ramalan itu terbukti, sebab hanya satu jam sebelum monolog ditayangkan, sang presiden sudah lebih dulu mengunggah ancaman hukum baru.
Dalam unggahannya, Trump menuduh Kimmel merusak jaringan televisi dengan menjadi corong politik Demokrat. Ia bahkan menyebut monolog Kimmel sebagai "peran SAMPAH Demokrat" dan menuduh siaran tersebut sebagai sumbangan ilegal bagi Partai Demokrat.
Trump tidak hanya mengejek Kimmel dengan menyebut penontonnya sudah pergi, tetapi juga mengingatkan kembali penyelesaian sengketa hukum yang pernah dilakukannya dengan ABC. Ia menyinggung bahwa pada Desember lalu, ABC memilih menyelesaikan gugatan pencemaran nama baik dengan memberikan kompensasi sebesar USD16 juta atau sekitar Rp248 miliar.
"Terakhir kali saya menuntut mereka, mereka memberi saya USD16 juta. Yang ini terdengar lebih menguntungkan," tulis Trump di Truth Social dilansir dari CNN, Kamis (25/9/2025).
Namun, klaim Trump ini dipandang menyesatkan. Pembayaran tersebut bukan diberikan karena "kebaikan hati", melainkan sebagai strategi ABC untuk menghindari sidang panjang dan pengungkapan fakta hukum yang tidak terduga. Banyak pihak menilai langkah itu justru melemahkan posisi media di hadapan presiden yang gemar menekan lawan politiknya.
Baca Juga: Kisah Cinta Donald Trump dan Melania bak Rollercoaster, sang Presiden Sempat Ditolak
Ancaman terbaru Trump langsung menuai kritik dari kalangan politik Amerika Serikat. Chuck Schumer, Pemimpin Minoritas Senat, menegaskan bahwa upaya Trump untuk menekan media merupakan tanda bahaya bagi demokrasi.
“Ini adalah ujian demokrasi. Adalah apa yang dilakukan oleh kediktatoran. Itulah yang dilakukan oleh negara-negara otoriter,” kata Schumer di MSNBC.
Schumer menilai Trump berusaha membungkam siapa pun yang tidak sependapat dengannya, yang ia gambarkan sebagai "belati yang menusuk jantung Amerika."
Meski mendapat serangan keras, Jimmy Kimmel tetap melanjutkan siarannya dengan gaya khasnya. Ia menyinggung serangan Trump sebagai bukti nyata bahwa kebebasan berbicara sedang terancam. Dalam siarannya, Kimmel juga meminjam kalimat legendaris mendiang komedian Jack Paar.
"Seperti yang saya katakan sebelum saya diinterupsi," tuturnya.
Dengan pembukaan itu, Kimmel sengaja menempatkan skorsingnya sebagai jeda semata, bukan hukuman. Menurut analis TV larut malam, strategi Kimmel adalah cara untuk membingkai kembali narasi bahwa ia tetap mengendalikan percakapan dengan penontonnya, meskipun sempat dihentikan.
Baca Juga: Sutradara Sebut Penampilan Donald Trump di Home Alone 2 sebagai Kutukan
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut kehadiran Kimmel di layar kaca bukan hanya merugikan citranya, melainkan juga dianggap sebagai bentuk dukungan terselubung untuk Partai Demokrat. Ia bahkan menuding hal tersebut bisa dikategorikan sebagai sumbangan kampanye ilegal dan mengisyaratkan akan membawa ABC ke meja hijau.

Foto/Time Magazine
Baca Juga: Apa Itu Chronic Venous Insufficiency? Penyakit yang Diderita Donald Trump
Trump Marah atas Monolog Jimmy Kimmel
Ketika Jimmy Kimmel tampil kembali di layar kaca pada Selasa, 23 September 2025 malam, ia menyampaikan monolog yang meramalkan bahwa ABC akan menghadapi tekanan besar dari pemerintahan Trump. Ramalan itu terbukti, sebab hanya satu jam sebelum monolog ditayangkan, sang presiden sudah lebih dulu mengunggah ancaman hukum baru.
Dalam unggahannya, Trump menuduh Kimmel merusak jaringan televisi dengan menjadi corong politik Demokrat. Ia bahkan menyebut monolog Kimmel sebagai "peran SAMPAH Demokrat" dan menuduh siaran tersebut sebagai sumbangan ilegal bagi Partai Demokrat.
Klaim dan Ancaman Trump
Trump tidak hanya mengejek Kimmel dengan menyebut penontonnya sudah pergi, tetapi juga mengingatkan kembali penyelesaian sengketa hukum yang pernah dilakukannya dengan ABC. Ia menyinggung bahwa pada Desember lalu, ABC memilih menyelesaikan gugatan pencemaran nama baik dengan memberikan kompensasi sebesar USD16 juta atau sekitar Rp248 miliar.
"Terakhir kali saya menuntut mereka, mereka memberi saya USD16 juta. Yang ini terdengar lebih menguntungkan," tulis Trump di Truth Social dilansir dari CNN, Kamis (25/9/2025).
Namun, klaim Trump ini dipandang menyesatkan. Pembayaran tersebut bukan diberikan karena "kebaikan hati", melainkan sebagai strategi ABC untuk menghindari sidang panjang dan pengungkapan fakta hukum yang tidak terduga. Banyak pihak menilai langkah itu justru melemahkan posisi media di hadapan presiden yang gemar menekan lawan politiknya.
Baca Juga: Kisah Cinta Donald Trump dan Melania bak Rollercoaster, sang Presiden Sempat Ditolak
Reaksi Publik dan Tokoh Politik
Ancaman terbaru Trump langsung menuai kritik dari kalangan politik Amerika Serikat. Chuck Schumer, Pemimpin Minoritas Senat, menegaskan bahwa upaya Trump untuk menekan media merupakan tanda bahaya bagi demokrasi.
“Ini adalah ujian demokrasi. Adalah apa yang dilakukan oleh kediktatoran. Itulah yang dilakukan oleh negara-negara otoriter,” kata Schumer di MSNBC.
Schumer menilai Trump berusaha membungkam siapa pun yang tidak sependapat dengannya, yang ia gambarkan sebagai "belati yang menusuk jantung Amerika."
Jimmy Kimmel Tetap Lanjutkan Kritik
Meski mendapat serangan keras, Jimmy Kimmel tetap melanjutkan siarannya dengan gaya khasnya. Ia menyinggung serangan Trump sebagai bukti nyata bahwa kebebasan berbicara sedang terancam. Dalam siarannya, Kimmel juga meminjam kalimat legendaris mendiang komedian Jack Paar.
"Seperti yang saya katakan sebelum saya diinterupsi," tuturnya.
Dengan pembukaan itu, Kimmel sengaja menempatkan skorsingnya sebagai jeda semata, bukan hukuman. Menurut analis TV larut malam, strategi Kimmel adalah cara untuk membingkai kembali narasi bahwa ia tetap mengendalikan percakapan dengan penontonnya, meskipun sempat dihentikan.
Baca Juga: Sutradara Sebut Penampilan Donald Trump di Home Alone 2 sebagai Kutukan
(dra)
Lihat Juga :