Vision+ Gandeng Cheppy Gober, Angkat Kisah Gen Z lewat Bosku Cintaku
Jum'at, 26 September 2025 - 22:16 WIB
loading...
Vision+ gandeng Cheppy Gober, angkat kisah gen Z lewat Bosku Cintaku. (Foto/Muhammad Fadli)
A
A
A
JAKARTA - Microdrama menjadi format yang semakin populer di Indonesia. Ini memberikan hiburan yang hadir dalam durasi singkat, tapi membuat penontonnya semakin penasaran dengan jalan cerita berikutnya.
Vision+ menjawab tren ini dengan menghadirkan microdrama terbaru berjudul Bosku Cintaku. Menggandeng sutradara Cheppy Gober, microdrama yang dihadirkan diangkat dari kehidupan generasi Z atau Gen Z masa kini di dunia perkantoran.
"Inspirasinya ini jelas dari kawan saya bernama Thaleb Wahjudi. Suatu malam kita berkhayal bahwasannya di era Gen Z ini, ada beberapa kekhawatiran tentang kepemimpinan. Jadi, memang isu atau tema yang diangkat itu tentang leadership, di mana memang introvert dan extrovert itu punya kelebihan masing-masing," kata Cheppy di Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Baca Juga: Bosku Cintaku, Drama Perkantoran Penuh Intrik Hadir di Vision+ dengan Format Microdrama
Berbeda dengan serial televisi yang biasanya berdurasi panjang, Cheppy menilai tantangan terbesar microdrama adalah bagaimana menarik perhatian penonton hanya dalam hitungan detik.
"Dalam 15 tahun terakhir memang saya acap kali membuat serial untuk TV-nya. Itu kan durasinya satu episode 60 sampai 90 menit kisaran. Nah, tantangan sekarang itu dengan zaman sosial media, kita dituntut untuk bisa nge-grab perhatian penonton di hitungan menit. Nah, biasanya yang saya pelajarin mikrodrama itu di menit pertama atau bahkan di 30 detik pertama sudah bisa menarik perhatian penonton," ucapnya.
Oleh sebab itu, diperlukan formula khusus agar Bosku Cintaku bisa langsung menarik perhatian agar tidak beralih ke konten lainnya. Menurut Cheppy, ini menjadi tantangan terbesar selama belasan tahun dirinya menjadi seorang sutradara.
"Sehingga ada beberapa formula yang saya upayakan untuk bisa meningkatkan spend atau grab attention penonton lebih cepat. Bahkan, mungkin di hitungan detik ketujuh ya. Sehingga penonton sudahterketuk lah istilahnya," ucapnya.
Menurut Cheppy, Bosku Cintaku memang dirancang untuk dekat dengan keseharian Gen Z, terutama lewat tema romansa komedi yang disukai anak muda.
"Mikrodrama ini mungkin lebih kepada temanya ke Gen Z ya. Tapi tetap yang namanya naratif. Pasti mereka punya satu formula sendiri. Romkom(romantis komedi) itu salah satu yang paling digemarin," ujarnya.
Cheppy menambahkan, microdrama menjadi jawaban atas kebutuhan generasi yang tidak ingin menghabiskan waktu lama untuk menonton. Sebab, saat ini dunia menuntut kecepatan, sehingga tidak banyak waktu untuk bersantai, termasuk menyaksikan film.
"Microdrama ini bener-bener salah satu produk ya saya bilang ya. Ini menjadi sebuah kebutuhan ya. Karena memang banyak di luar sana. Mereka tidak mau terlalu banyak meluangkan banyak waktu untuk duduk hingga nonton puluhan menit," katanya.
"Mereka inginnya yang cepat-cepat aja ya. Karena memang generasi sudah beda di sosial media ini. Terutama dengan itu spendingnya bahkan sampai 7-15 detik lah kalau bisa sih per episode," kata Cheppy.
Baca Juga: Microdrama Tren di Indonesia, Vision+ Hadirkan Bosku Cintaku sebagai Tontonan Segar
Untuk microdrama Bosku Cintaku, Cheppy berharap ini bukan hanya menghibur, tapi juga memberi pesan bermakna bagi penontonnya. Sebab, akan ada banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh GenZ untuk menyikapi dunia nyata.
"Harus (nonton) lah, karena memang Gen Z ya terutama. Kita punya salah satu dorongan dan motivasi buat mereka yang banyak menghabiskan waktu di layar itu, bersosialisasi lebih sering. Karena memang komunikasi via devices atau gadget itu jauh berbeda dengan interaksi atau komunikasi tatap muka seperti ini. Jadi, memang di Bosku Cintaku ini saya punya satu asupan untuk para Gen Z bagaimana menyikapi dunia nyata," katanya.
Vision+ menjawab tren ini dengan menghadirkan microdrama terbaru berjudul Bosku Cintaku. Menggandeng sutradara Cheppy Gober, microdrama yang dihadirkan diangkat dari kehidupan generasi Z atau Gen Z masa kini di dunia perkantoran.
"Inspirasinya ini jelas dari kawan saya bernama Thaleb Wahjudi. Suatu malam kita berkhayal bahwasannya di era Gen Z ini, ada beberapa kekhawatiran tentang kepemimpinan. Jadi, memang isu atau tema yang diangkat itu tentang leadership, di mana memang introvert dan extrovert itu punya kelebihan masing-masing," kata Cheppy di Jakarta, Jumat (26/9/2025).
Baca Juga: Bosku Cintaku, Drama Perkantoran Penuh Intrik Hadir di Vision+ dengan Format Microdrama
Berbeda dengan serial televisi yang biasanya berdurasi panjang, Cheppy menilai tantangan terbesar microdrama adalah bagaimana menarik perhatian penonton hanya dalam hitungan detik.
"Dalam 15 tahun terakhir memang saya acap kali membuat serial untuk TV-nya. Itu kan durasinya satu episode 60 sampai 90 menit kisaran. Nah, tantangan sekarang itu dengan zaman sosial media, kita dituntut untuk bisa nge-grab perhatian penonton di hitungan menit. Nah, biasanya yang saya pelajarin mikrodrama itu di menit pertama atau bahkan di 30 detik pertama sudah bisa menarik perhatian penonton," ucapnya.
Oleh sebab itu, diperlukan formula khusus agar Bosku Cintaku bisa langsung menarik perhatian agar tidak beralih ke konten lainnya. Menurut Cheppy, ini menjadi tantangan terbesar selama belasan tahun dirinya menjadi seorang sutradara.
"Sehingga ada beberapa formula yang saya upayakan untuk bisa meningkatkan spend atau grab attention penonton lebih cepat. Bahkan, mungkin di hitungan detik ketujuh ya. Sehingga penonton sudahterketuk lah istilahnya," ucapnya.
Menurut Cheppy, Bosku Cintaku memang dirancang untuk dekat dengan keseharian Gen Z, terutama lewat tema romansa komedi yang disukai anak muda.
"Mikrodrama ini mungkin lebih kepada temanya ke Gen Z ya. Tapi tetap yang namanya naratif. Pasti mereka punya satu formula sendiri. Romkom(romantis komedi) itu salah satu yang paling digemarin," ujarnya.
Cheppy menambahkan, microdrama menjadi jawaban atas kebutuhan generasi yang tidak ingin menghabiskan waktu lama untuk menonton. Sebab, saat ini dunia menuntut kecepatan, sehingga tidak banyak waktu untuk bersantai, termasuk menyaksikan film.
"Microdrama ini bener-bener salah satu produk ya saya bilang ya. Ini menjadi sebuah kebutuhan ya. Karena memang banyak di luar sana. Mereka tidak mau terlalu banyak meluangkan banyak waktu untuk duduk hingga nonton puluhan menit," katanya.
"Mereka inginnya yang cepat-cepat aja ya. Karena memang generasi sudah beda di sosial media ini. Terutama dengan itu spendingnya bahkan sampai 7-15 detik lah kalau bisa sih per episode," kata Cheppy.
Baca Juga: Microdrama Tren di Indonesia, Vision+ Hadirkan Bosku Cintaku sebagai Tontonan Segar
Untuk microdrama Bosku Cintaku, Cheppy berharap ini bukan hanya menghibur, tapi juga memberi pesan bermakna bagi penontonnya. Sebab, akan ada banyak pelajaran yang bisa dipetik oleh GenZ untuk menyikapi dunia nyata.
"Harus (nonton) lah, karena memang Gen Z ya terutama. Kita punya salah satu dorongan dan motivasi buat mereka yang banyak menghabiskan waktu di layar itu, bersosialisasi lebih sering. Karena memang komunikasi via devices atau gadget itu jauh berbeda dengan interaksi atau komunikasi tatap muka seperti ini. Jadi, memang di Bosku Cintaku ini saya punya satu asupan untuk para Gen Z bagaimana menyikapi dunia nyata," katanya.
(tty)
Lihat Juga :