Pakar Peringatkan Bahaya Minuman Energi: Bom Waktu untuk Jantung Anak Muda
Rabu, 01 Oktober 2025 - 05:30 WIB
loading...
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Christy Efiyanti, SpPD, FINASIM, konsumsi minuman energi secara berlebihan bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan jantung, khususnya pada anak muda. Foto/Getty Images.
A
A
A
JAKARTA - Peringatan tegas datang dari Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Christy Efiyanti, yang menyebut konsumsi minuman energi secara berlebihan bisa menjadi “bom waktu” bagi kesehatan jantung, khususnya pada anak muda. Pesan ini ia sampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September.
Menurut Christy, Hari Jantung Sedunia harus menjadi momentum untuk menyadarkan masyarakat bahwa penyakit jantung kini bukan lagi ancaman bagi usia lanjut saja. Pola hidup modern seperti konsumsi minuman energi berlebihan, kebiasaan begadang, hingga kurang berolahraga membuat generasi muda semakin rentan mengalami gangguan jantung.
Baca juga: Tinggi Gula dan Kafein, Minuman Berenergi Bisa Menyebabkan Serangan Jantung
Ia mengungkapkan bahwa kasus gagal jantung akibat konsumsi minuman energi bukanlah hal baru. Fenomena ini telah dilaporkan di berbagai negara, termasuk Indonesia, seiring tren penggunaan minuman energi untuk menunjang stamina kerja maupun aktivitas.
“Salah satu kasus, pasien berusia 21 tahun mengalami gagal jantung setelah rutin mengonsumsi empat kaleng minuman energi setiap hari. Kandungan kafein dalam jumlah besar dapat memicu gangguan irama jantung yang berujung pada gagal jantung jika tidak segera ditangani,” jelasnya, melalui siaran pers, Rabu (1/10/2025).
Baca juga: Apakah Minuman Energi Tinggi Gula hingga Berbahaya buat Kesehatan? Ini Faktanya
Christy menegaskan bahwa risiko tersebut bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu, ia mendorong adanya peringatan yang lebih jelas pada label minuman energi mengenai potensi bahaya bagi jantung bila dikonsumsi berlebihan.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa kebiasaan buruk anak muda seperti begadang, konsumsi makanan cepat saji, merokok atau vape, serta jarang berolahraga semakin memperbesar risiko gangguan jantung.
“Olahraga rutin adalah kunci yang sering dianggap klise, padahal justru itulah penyelamat hidup. Dengan berolahraga, kita bisa menjaga fungsi jantung sekaligus mencegah sarkopenia dan osteoporosis di usia tua,” tegasnya.
Christy mengingatkan bahwa menjaga kualitas hidup dapat dimulai dari kebiasaan sederhana seperti pola makan sehat, olahraga teratur, cukup minum air putih, menghindari gaya hidup sedentari, menjauhi obesitas, serta tidak merokok.
“Tidak ada tawar-menawar untuk hidup sehat. Itu investasi seumur hidup agar jantung tetap prima, hati tetap sehat, dan tubuh terbebas dari risiko penyakit kronis,” pungkasnya.
Menurut Christy, Hari Jantung Sedunia harus menjadi momentum untuk menyadarkan masyarakat bahwa penyakit jantung kini bukan lagi ancaman bagi usia lanjut saja. Pola hidup modern seperti konsumsi minuman energi berlebihan, kebiasaan begadang, hingga kurang berolahraga membuat generasi muda semakin rentan mengalami gangguan jantung.
Baca juga: Tinggi Gula dan Kafein, Minuman Berenergi Bisa Menyebabkan Serangan Jantung
Ia mengungkapkan bahwa kasus gagal jantung akibat konsumsi minuman energi bukanlah hal baru. Fenomena ini telah dilaporkan di berbagai negara, termasuk Indonesia, seiring tren penggunaan minuman energi untuk menunjang stamina kerja maupun aktivitas.
“Salah satu kasus, pasien berusia 21 tahun mengalami gagal jantung setelah rutin mengonsumsi empat kaleng minuman energi setiap hari. Kandungan kafein dalam jumlah besar dapat memicu gangguan irama jantung yang berujung pada gagal jantung jika tidak segera ditangani,” jelasnya, melalui siaran pers, Rabu (1/10/2025).
Baca juga: Apakah Minuman Energi Tinggi Gula hingga Berbahaya buat Kesehatan? Ini Faktanya
Christy menegaskan bahwa risiko tersebut bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu, ia mendorong adanya peringatan yang lebih jelas pada label minuman energi mengenai potensi bahaya bagi jantung bila dikonsumsi berlebihan.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa kebiasaan buruk anak muda seperti begadang, konsumsi makanan cepat saji, merokok atau vape, serta jarang berolahraga semakin memperbesar risiko gangguan jantung.
“Olahraga rutin adalah kunci yang sering dianggap klise, padahal justru itulah penyelamat hidup. Dengan berolahraga, kita bisa menjaga fungsi jantung sekaligus mencegah sarkopenia dan osteoporosis di usia tua,” tegasnya.
Christy mengingatkan bahwa menjaga kualitas hidup dapat dimulai dari kebiasaan sederhana seperti pola makan sehat, olahraga teratur, cukup minum air putih, menghindari gaya hidup sedentari, menjauhi obesitas, serta tidak merokok.
“Tidak ada tawar-menawar untuk hidup sehat. Itu investasi seumur hidup agar jantung tetap prima, hati tetap sehat, dan tubuh terbebas dari risiko penyakit kronis,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :