Langkah Tepat Menjaga Kualitas Hidup Pasien Kanker Ovarium Stadium Lanjut
Sabtu, 04 Oktober 2025 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
Sekitar 50% pasien kanker ovarium stadium lanjut sendiri memiliki status HRD-positif, termasuk yang tidak memiliki mutasi BRCA. HRD adalah kondisi dimana tubuh tidak dapat memperbaiki kerusakan pada DNA , dan menjadi penanda biologis (biomarker) penting untuk menentukan apakah kelayakan pasien menjalani maintenance therapy berbasis PARP (Poly ADP-Ribose Polymerase) inhibitor seperti Olaparib.
Adapun, terdapat data klinis yang mendukung pentingnya terapi lanjutan ini. Studi PAOLA-1 menunjukkan pasien HRD-positif yang menjalani maintenance therapy dengan Olaparib dan Bevacizumab memiliki masa bebas penyakit hingga 37 bulan, hampir dua kali lebih lama dibanding terapi dengan Bevacizumab saja. Sementara itu, studi SOLO-1 membuktikan bahwa pasien dengan mutasi BRCA yang menggunakan Olaparib memiliki risiko progresi 70% lebih rendah, dan hampir setengahnya tetap dalam remisi setelah lima tahun. Dengan pemahaman lebih baik mengenai peran pemeriksaan HRD serta pemanfaatan maintenance therapy, akan lebih banyak pasien kanker ovarium dapat memperpanjang masa bebas penyakit dan meraih kualitas hidup yang lebih baik.
“Akses terhadap pemeriksaan HRD dan maintenance therapy bagi pasien kanker ovarium di Indonesia sangat penting. Data klinis global telah membuktikan manfaat signifikan terapi ini dalam memperpanjang masa bebas penyakit. Kami berharap lebih banyak pasien di Indonesia dapat memperoleh manfaat dari maintenance therapy, sehingga kualitas hidup mereka semakin baik,” kata dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.
Selain upaya medis, keterlibatan komunitas juga berperan penting dalam memperluas edukasi mengenai kanker ovarium. Melalui saling berbagi pengalaman, komunitas mampu meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai penanganan kanker ovarium yang tepat seperti pentingnya pemeriksaan HRD serta akses terhadap maintenance therapy. Komunitas Cancer Information and Support Center (CISC), dengan dukungan AstraZeneca, terus berperan aktif dalam meningkatkan edukasi masyarakat tentang kanker.
Salah satu upayanya diwujudkan melalui sesi edukasi bertema “Mengenal Kanker Ovarium dan Terapi Inovatifnya”, yang diselenggarakan pada 27 September, 2025. Kegiatan ini menghadirkan tenaga kesehatan sebagai narasumber untuk berbagi informasi ilmiah terkini dan temuan terbaru terkait kanker ovarium.
Adapun, terdapat data klinis yang mendukung pentingnya terapi lanjutan ini. Studi PAOLA-1 menunjukkan pasien HRD-positif yang menjalani maintenance therapy dengan Olaparib dan Bevacizumab memiliki masa bebas penyakit hingga 37 bulan, hampir dua kali lebih lama dibanding terapi dengan Bevacizumab saja. Sementara itu, studi SOLO-1 membuktikan bahwa pasien dengan mutasi BRCA yang menggunakan Olaparib memiliki risiko progresi 70% lebih rendah, dan hampir setengahnya tetap dalam remisi setelah lima tahun. Dengan pemahaman lebih baik mengenai peran pemeriksaan HRD serta pemanfaatan maintenance therapy, akan lebih banyak pasien kanker ovarium dapat memperpanjang masa bebas penyakit dan meraih kualitas hidup yang lebih baik.
“Akses terhadap pemeriksaan HRD dan maintenance therapy bagi pasien kanker ovarium di Indonesia sangat penting. Data klinis global telah membuktikan manfaat signifikan terapi ini dalam memperpanjang masa bebas penyakit. Kami berharap lebih banyak pasien di Indonesia dapat memperoleh manfaat dari maintenance therapy, sehingga kualitas hidup mereka semakin baik,” kata dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.
Selain upaya medis, keterlibatan komunitas juga berperan penting dalam memperluas edukasi mengenai kanker ovarium. Melalui saling berbagi pengalaman, komunitas mampu meningkatkan pemahaman pasien dan keluarga mengenai penanganan kanker ovarium yang tepat seperti pentingnya pemeriksaan HRD serta akses terhadap maintenance therapy. Komunitas Cancer Information and Support Center (CISC), dengan dukungan AstraZeneca, terus berperan aktif dalam meningkatkan edukasi masyarakat tentang kanker.
Salah satu upayanya diwujudkan melalui sesi edukasi bertema “Mengenal Kanker Ovarium dan Terapi Inovatifnya”, yang diselenggarakan pada 27 September, 2025. Kegiatan ini menghadirkan tenaga kesehatan sebagai narasumber untuk berbagi informasi ilmiah terkini dan temuan terbaru terkait kanker ovarium.
Lihat Juga :