Bukan Sekadar Hiburan, Entertainment Jadi Kekuatan Soft Power Indonesia di Panggung Global
Kamis, 09 Oktober 2025 - 19:38 WIB
loading...
A
A
A
Pertumbuhan film lokal yang kian signifikan juga memperkuat keyakinan tersebut, dalam tiga tahun terakhir, market share film Indonesia menembus lebih dari 50%, menandakan bahwa penonton semakin percaya pada cerita dari rumah sendiri.
Angga menilai bioskop memiliki peran penting dalam ekosistem ini, bukan sekadar sebagai tempat menonton, melainkan sebagai ruang budaya (cultural space) yang mempertemukan penonton dan pencipta dalam pengalaman kolektif. “Berbeda dengan platform digital yang viral tapi cepat berlalu, bioskop menciptakan cultural event, pengalaman emosional yang memperkuat hubungan antara karya dan publik,” ujarnya.
Sementara itu, Industri gim Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan. Sebelum pandemi, pasar gim tumbuh 9–10% per tahun, melonjak signifikan saat pandemi, dan kini stabil pasca-COVID dengan kontribdusi lebih dari 8,5% terhadap ekonomi kreatif nasional.
“Gim adalah medium kolaboratif yang mempertemukan seni, teknologi, dan budaya. Ini cara baru memperkenalkan nilai Indonesia ke dunia,” ujar Arief Widhiyasa, Co-Founder Agate dan CEO Confiction Labs.
Secara global, industri gim kini bernilai US$192,7 miliar, melampaui gabungan pendapatan industri film dan musik. Di Indonesia, nilainya meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam dua dekade, dari US$10 juta pada tahun 2000 menjadi hampir US$100 juta pada 2025.
Agate telah merilis berbagai gim global seperti Valthirian Arc, Code Atma, dan Rifstorm, yang berhasil masuk dalam Top 50 Most Played Game saat perilisan demonya.“Keberhasilan mengembangkan gim bergantung pada kekuatan SDM. Karena itu sejak 2018 kami mendirikan Agate Academy, lembaga pelatihan yang memberi pendidikan pembuatan gim untuk sekolah, universitas, dan profesional agar siap bersaing secara global,” tambah Arief.
Perkembangan lintas sektor ini menegaskan bahwa kreativitas Indonesia kini menjadi kekuatan baru, dari musik, film, hingga gim, para pelaku industri kreatif berhasil mengubah entertainment menjadi sarana memperkenalkan nilai dan identitas bangsa kepada dunia.
Kekuatan ini tidak lahir semata dari popularitas, melainkan dari kemampuan talenta Indonesia mengemas nilai dan identitas bangsa menjadi karya yang relevan secara global. Kolaborasi lintas antara teknologi, budaya, dan bisnis melahirkan ekosistem kreatif yang berkelanjutan, sebuah soft power yang membangun persepsi positif Indonesia di mata dunia.
Dengan semakin banyaknya karya Indonesia yang hadir di panggung internasional, Indonesia bukan lagi sekadar penonton dalam percakapan budaya global, tetapi turut menjadi narator yang membawa suara, nilai, dan kisahnya sendiri.
Angga menilai bioskop memiliki peran penting dalam ekosistem ini, bukan sekadar sebagai tempat menonton, melainkan sebagai ruang budaya (cultural space) yang mempertemukan penonton dan pencipta dalam pengalaman kolektif. “Berbeda dengan platform digital yang viral tapi cepat berlalu, bioskop menciptakan cultural event, pengalaman emosional yang memperkuat hubungan antara karya dan publik,” ujarnya.
Sementara itu, Industri gim Indonesia juga menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan. Sebelum pandemi, pasar gim tumbuh 9–10% per tahun, melonjak signifikan saat pandemi, dan kini stabil pasca-COVID dengan kontribdusi lebih dari 8,5% terhadap ekonomi kreatif nasional.
“Gim adalah medium kolaboratif yang mempertemukan seni, teknologi, dan budaya. Ini cara baru memperkenalkan nilai Indonesia ke dunia,” ujar Arief Widhiyasa, Co-Founder Agate dan CEO Confiction Labs.
Secara global, industri gim kini bernilai US$192,7 miliar, melampaui gabungan pendapatan industri film dan musik. Di Indonesia, nilainya meningkat hampir sepuluh kali lipat dalam dua dekade, dari US$10 juta pada tahun 2000 menjadi hampir US$100 juta pada 2025.
Agate telah merilis berbagai gim global seperti Valthirian Arc, Code Atma, dan Rifstorm, yang berhasil masuk dalam Top 50 Most Played Game saat perilisan demonya.“Keberhasilan mengembangkan gim bergantung pada kekuatan SDM. Karena itu sejak 2018 kami mendirikan Agate Academy, lembaga pelatihan yang memberi pendidikan pembuatan gim untuk sekolah, universitas, dan profesional agar siap bersaing secara global,” tambah Arief.
Perkembangan lintas sektor ini menegaskan bahwa kreativitas Indonesia kini menjadi kekuatan baru, dari musik, film, hingga gim, para pelaku industri kreatif berhasil mengubah entertainment menjadi sarana memperkenalkan nilai dan identitas bangsa kepada dunia.
Kekuatan ini tidak lahir semata dari popularitas, melainkan dari kemampuan talenta Indonesia mengemas nilai dan identitas bangsa menjadi karya yang relevan secara global. Kolaborasi lintas antara teknologi, budaya, dan bisnis melahirkan ekosistem kreatif yang berkelanjutan, sebuah soft power yang membangun persepsi positif Indonesia di mata dunia.
Dengan semakin banyaknya karya Indonesia yang hadir di panggung internasional, Indonesia bukan lagi sekadar penonton dalam percakapan budaya global, tetapi turut menjadi narator yang membawa suara, nilai, dan kisahnya sendiri.
(wur)
Lihat Juga :