Bukan Sekadar Hiburan, Entertainment Jadi Kekuatan Soft Power Indonesia di Panggung Global
Kamis, 09 Oktober 2025 - 19:38 WIB
loading...
A
A
A
Pendekatannya bukan dengan meniru tren, tetapi menghadirkan warna baru yang lahir dari karakter, dan nilai-nilai khas Indonesia yang justru menjadi daya tarik di mata dunia.Inisiatif ini dilakukan secara menyeluruh, mulai dari proses pengembangan artistik, pembentukan visi kreatif, produksi, hingga distribusi di pasar global.
Dengan fondasi tersebut, GDP Venture dan 88rising berhasil menumbuhkan talenta yang kini dikenal luas di kancah internasional, seperti Rich Brian, NIKI, Warren Hue dan kini hadir grup vokal No Na, yang membawa karakter unik musik Indonesia dan mulai mencuri perhatian internasional.
“Kami membentuk No Na dengan keyakinan bahwa girl group Indonesia bisa melampaui K-Pop, dan yang menarik, data yang diperoleh dari Orchid, fanbase No Na, menunjukkan penggemar terbesar kedua mereka justru berasal dari Korea. Hal ini membuktikan bahwa soft power bisa hadir lewat cara yang segar dan relevan bagi audiens global”, tambah Martin.
“Indonesia mampu menciptakan girl group dengan karakter dan penampilan berbeda di setiap anggota sesuatu yang jarang dilakukan di negara lain. Pendekatan ini berhasil karena menunjukkan keaslian dan keberagaman khas Indonesia.
”Upaya memperkenalkan budaya Indonesia ke kancah dunia juga diperkuat melalui Djarum Foundation, di mana inisiatif seperti Indonesia Kaya berperan penting dalam mempopulerkan seni pertunjukan (performing arts) Indonesia. Program Ruang Kreatif: Intensif Musikal Budaya, misalnya, telah melahirkan talenta yang kini tampil di panggung West End, London. Harapannya, para talenta ini kelak dapat kembali ke tanah air dan mengembangkan ekosistem seni pertunjukan yang setara dengan “Broadway”.
Dari sisi film, Visinema melihat arah industri perfilman Indonesia kini tengah bergerak ke fase baru, dari sekadar produksi konten menuju bisnis hiburan berbasis ekosistem dan Intellectual Property (IP). Menurut data Lokadata (2025), film horor masih mendominasi bioskop dengan pangsa sekitar 55% dari total penonton nasional, menunjukkan selera pasar yang kuat terhadap genre tersebut. Namun, di tengah dominasi tren ini, Visinema justru memilih jalur berbeda: menghadirkan cerita yang berakar pada nilai-nilai kehidupan dan realitas sosial, dengan pendekatan naratif yang lebih emosional dan universal.
“Industri film nasional sedang tumbuh pesat, tapi yang penting bukan hanya mengikuti tren, melainkan membangun cerita yang punya napas panjang, kami percaya film bukan sekadar produk akhir, tapi medium untuk mendistribusikan cerita. Dari situ, IP bisa berkembang ke bentuk lain seperti serial, musik dan merchandise, sehingga menciptakan ekosistem ekonomi budaya yang berkelanjutan.”ujar Angga Dwimas Sasongko, CEO Visinema.
Salah satu implementasi dari visi tersebut adalah proyek animasi JUMBO, yang berakar pada nilai-nilai keluarga dan dikembangkan sebagai long-term IP dengan rencana produksi hingga lima tahun ke depan.
“JUMBO kami bangun dengan economic runway yang panjang agar proses kreatifnya matang. Kreator butuh waktu untuk menciptakan sesuatu yang relevan lintas generasi,” tambah Angga.
Dengan fondasi tersebut, GDP Venture dan 88rising berhasil menumbuhkan talenta yang kini dikenal luas di kancah internasional, seperti Rich Brian, NIKI, Warren Hue dan kini hadir grup vokal No Na, yang membawa karakter unik musik Indonesia dan mulai mencuri perhatian internasional.
“Kami membentuk No Na dengan keyakinan bahwa girl group Indonesia bisa melampaui K-Pop, dan yang menarik, data yang diperoleh dari Orchid, fanbase No Na, menunjukkan penggemar terbesar kedua mereka justru berasal dari Korea. Hal ini membuktikan bahwa soft power bisa hadir lewat cara yang segar dan relevan bagi audiens global”, tambah Martin.
“Indonesia mampu menciptakan girl group dengan karakter dan penampilan berbeda di setiap anggota sesuatu yang jarang dilakukan di negara lain. Pendekatan ini berhasil karena menunjukkan keaslian dan keberagaman khas Indonesia.
”Upaya memperkenalkan budaya Indonesia ke kancah dunia juga diperkuat melalui Djarum Foundation, di mana inisiatif seperti Indonesia Kaya berperan penting dalam mempopulerkan seni pertunjukan (performing arts) Indonesia. Program Ruang Kreatif: Intensif Musikal Budaya, misalnya, telah melahirkan talenta yang kini tampil di panggung West End, London. Harapannya, para talenta ini kelak dapat kembali ke tanah air dan mengembangkan ekosistem seni pertunjukan yang setara dengan “Broadway”.
Dari sisi film, Visinema melihat arah industri perfilman Indonesia kini tengah bergerak ke fase baru, dari sekadar produksi konten menuju bisnis hiburan berbasis ekosistem dan Intellectual Property (IP). Menurut data Lokadata (2025), film horor masih mendominasi bioskop dengan pangsa sekitar 55% dari total penonton nasional, menunjukkan selera pasar yang kuat terhadap genre tersebut. Namun, di tengah dominasi tren ini, Visinema justru memilih jalur berbeda: menghadirkan cerita yang berakar pada nilai-nilai kehidupan dan realitas sosial, dengan pendekatan naratif yang lebih emosional dan universal.
“Industri film nasional sedang tumbuh pesat, tapi yang penting bukan hanya mengikuti tren, melainkan membangun cerita yang punya napas panjang, kami percaya film bukan sekadar produk akhir, tapi medium untuk mendistribusikan cerita. Dari situ, IP bisa berkembang ke bentuk lain seperti serial, musik dan merchandise, sehingga menciptakan ekosistem ekonomi budaya yang berkelanjutan.”ujar Angga Dwimas Sasongko, CEO Visinema.
Salah satu implementasi dari visi tersebut adalah proyek animasi JUMBO, yang berakar pada nilai-nilai keluarga dan dikembangkan sebagai long-term IP dengan rencana produksi hingga lima tahun ke depan.
“JUMBO kami bangun dengan economic runway yang panjang agar proses kreatifnya matang. Kreator butuh waktu untuk menciptakan sesuatu yang relevan lintas generasi,” tambah Angga.
Lihat Juga :