Musik Indonesia Siap Mendunia, KMI 2025 Dorong Kolaborasi Pemerintah dan Industri Kreatif
Kamis, 09 Oktober 2025 - 21:24 WIB
loading...
A
A
A
General Manager VAS and Music Business Telkomsel, Riset Wijoyo, menekankan pentingnya membangun ekosistem yang saling mendukung di dunia digital. Sebagai distributor, Telkomsel memiliki keterkaitan dengan YouTube dan Spotify, namun skema platform musik tanpa berlangganan masih menjadi isu yang perlu ditangani.
Senada dengannya, CEO GDP Venture, Martin Hartono, mendukung perlunya tata kelola yang sehat dan sistem langganan (subscription) agar seniman dapat hidup lebih sejahtera.
Ia juga menyoroti pentingnya human connection bagi musisi dalam membangun hubungan dengan audiens, seperti yang dilakukan oleh penyanyi Indonesia berprestasi, Niki.
“Jika karya kita ingin terhubung dengan orang lain, para musisi harus lebih dalam mempelajari ilmu koneksi. Ini memengaruhi seberapa adaptif seorang seniman dalam mengikuti perkembangan zaman. Jadi, ketika berinteraksi dengan penggemar, bisa lebih nyambung,” jelasnya.
Mewakili Langit Musik, Adib Hidayat memaparkan program inkubasi seniman daerah melalui Harmoni Nusantara, platform lokal yang membuka ruang bagi musisi daerah untuk berkembang.
“Harmoni Nusantara, sebagai sebuah platform lokal, satu-satunya, tidak ada lagi, hanya Langit Musik,” ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Direktur Film, Musik, dan Seni Syaifullah, sejumlah musikus tanah air, perwakilan organisasi dan asosiasi musik Indonesia, serta para pegiat budaya.
Konferensi Musik Indonesia 2025 masih akan berlangsung hingga 11 Oktober 2025, menghadirkan rangkaian diskusi strategis untuk memperkuat ekosistem musik nasional.
KMI 2025 menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi musik Indonesia di panggung global. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan platform digital, KMI menegaskan komitmen bersama untuk menyiapkan talenta serta karya musik Indonesia yang berdaya saing, berkarakter, dan berkelanjutan.
Dari ruang lokal hingga panggung dunia, musik Indonesia terus bergerak membawa semangat kebudayaan dan identitas bangsa menuju masa depan yang gemilang.
Senada dengannya, CEO GDP Venture, Martin Hartono, mendukung perlunya tata kelola yang sehat dan sistem langganan (subscription) agar seniman dapat hidup lebih sejahtera.
Ia juga menyoroti pentingnya human connection bagi musisi dalam membangun hubungan dengan audiens, seperti yang dilakukan oleh penyanyi Indonesia berprestasi, Niki.
“Jika karya kita ingin terhubung dengan orang lain, para musisi harus lebih dalam mempelajari ilmu koneksi. Ini memengaruhi seberapa adaptif seorang seniman dalam mengikuti perkembangan zaman. Jadi, ketika berinteraksi dengan penggemar, bisa lebih nyambung,” jelasnya.
Mewakili Langit Musik, Adib Hidayat memaparkan program inkubasi seniman daerah melalui Harmoni Nusantara, platform lokal yang membuka ruang bagi musisi daerah untuk berkembang.
“Harmoni Nusantara, sebagai sebuah platform lokal, satu-satunya, tidak ada lagi, hanya Langit Musik,” ujarnya.
Kolaborasi Menuju Masa Depan Musik Indonesia
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Direktur Film, Musik, dan Seni Syaifullah, sejumlah musikus tanah air, perwakilan organisasi dan asosiasi musik Indonesia, serta para pegiat budaya.
Konferensi Musik Indonesia 2025 masih akan berlangsung hingga 11 Oktober 2025, menghadirkan rangkaian diskusi strategis untuk memperkuat ekosistem musik nasional.
KMI 2025 menjadi momentum penting dalam memperkuat posisi musik Indonesia di panggung global. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan platform digital, KMI menegaskan komitmen bersama untuk menyiapkan talenta serta karya musik Indonesia yang berdaya saing, berkarakter, dan berkelanjutan.
Dari ruang lokal hingga panggung dunia, musik Indonesia terus bergerak membawa semangat kebudayaan dan identitas bangsa menuju masa depan yang gemilang.
(nnz)
Lihat Juga :