Menkeu Purbaya Mau Blacklist Importir Balpres, Ini Bahaya Pakaian Bekas bagi Kesehatan
Minggu, 26 Oktober 2025 - 11:12 WIB
loading...
Waspada, pakaian bekas bisa menyebabkan penyakit kulit. Foto/Extre Vous
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kebijakan tegas terkait larangan impor pakaian bekas atau balpres. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan peredaran barang ilegal sekaligus memperkuat industri tekstil dan UMKM dalam negeri.
Purbaya mengatakan, langkah yang akan diambil dengan memasukkan para pemasok pakaian bekas ke dalam daftar hitam importir.
"Sepertinya mereka sudah tahu, kita sudah tahu pemerintahnya siapa aja. Saya lupa tadi, kalau ada yang pernah balpres, saya akan blacklist, enggak boleh impor barang-barang lagi," ujar Purbaya saat berada di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Baca Juga : Pasar Legendaris Pakaian Bekas di Jakarta Bakal Ditutup Kemendag
Dia menegaskan, kebijakan ini tidak akan mematikan pasar pakaian bekas seperti yang ada di Pasar Senen atau pusat thrifting lainnya. Pemerintah berencana mengganti pasokan barang dengan produk dari dalam negeri.
Selain berpengaruh dalam sektor ekonomi, kebijakan ini juga berpengaruh bagi kesehatan masyarakat. Pasalnya, impor pakaian bekas atau balpres memang marak belakangan ini.
Thrifting alias baju bekas ini pun digandrungi masyarakat, terutama anak muda. Namun tanpa disadari, ternyata ada resiko kesehatan yang dapat ditimbulkan dari penggunaan baju bekas atau thrift tersebut.
Baca Juga : Awas! Beli Pakaian Bekas Berisiko Tinggi Terkena Kutu Busuk
Dikutip dari National Library of Medicine, sebuah studi deskriptif-sectional dilakukan pada 800 pakaian bekas. 400 pakaian bekas yang dicuci dan 400 pakaian bekas yang tidak dicuci Teheran, Iran.
Dari 800 pakaian bekas, 22 (2,7%) positif untuk parasit dan kontaminasi ektoparasit. Tingkat kontaminasi tertinggi dan terendah diamati pada pakaian laki-laki dan anak-anak.
Kontaminasi ini tertinggi ada pada pakaian jeans. Ektoparasit dapat mengakibatkan reaksi alergi yang parah, hipersensitivitas, dermatitis, dan infeksi sekunder pada individu yang rentan.
Temuan lainnya adalah S. scabiei, yang merupakan tungau berkaki delapan yang bisa masuk ke dalam kulit inang dan menyebabkan gatal dan melepuh yang intens. Kesimpulannya, prevalensi parasit dan ekto-parasit ditemukan dalam pakaian bekas, terlebih yang tidak dicuci.
Pakaian bekas dapat menyebarkan penyakit kulit dan rambut terutama pediculosis dan kudis. Selain itu, pakaian ini harus dicuci, disetrika, atau didesinfeksi untuk mengurangi kemungkinan penularan patogen atau bakteri yang bisa menyebabkan penyakit ke manusia.
Purbaya mengatakan, langkah yang akan diambil dengan memasukkan para pemasok pakaian bekas ke dalam daftar hitam importir.
"Sepertinya mereka sudah tahu, kita sudah tahu pemerintahnya siapa aja. Saya lupa tadi, kalau ada yang pernah balpres, saya akan blacklist, enggak boleh impor barang-barang lagi," ujar Purbaya saat berada di Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Rabu (22/10/2025).
Baca Juga : Pasar Legendaris Pakaian Bekas di Jakarta Bakal Ditutup Kemendag
Dia menegaskan, kebijakan ini tidak akan mematikan pasar pakaian bekas seperti yang ada di Pasar Senen atau pusat thrifting lainnya. Pemerintah berencana mengganti pasokan barang dengan produk dari dalam negeri.
Selain berpengaruh dalam sektor ekonomi, kebijakan ini juga berpengaruh bagi kesehatan masyarakat. Pasalnya, impor pakaian bekas atau balpres memang marak belakangan ini.
Thrifting alias baju bekas ini pun digandrungi masyarakat, terutama anak muda. Namun tanpa disadari, ternyata ada resiko kesehatan yang dapat ditimbulkan dari penggunaan baju bekas atau thrift tersebut.
Baca Juga : Awas! Beli Pakaian Bekas Berisiko Tinggi Terkena Kutu Busuk
Dikutip dari National Library of Medicine, sebuah studi deskriptif-sectional dilakukan pada 800 pakaian bekas. 400 pakaian bekas yang dicuci dan 400 pakaian bekas yang tidak dicuci Teheran, Iran.
Dari 800 pakaian bekas, 22 (2,7%) positif untuk parasit dan kontaminasi ektoparasit. Tingkat kontaminasi tertinggi dan terendah diamati pada pakaian laki-laki dan anak-anak.
Kontaminasi ini tertinggi ada pada pakaian jeans. Ektoparasit dapat mengakibatkan reaksi alergi yang parah, hipersensitivitas, dermatitis, dan infeksi sekunder pada individu yang rentan.
Temuan lainnya adalah S. scabiei, yang merupakan tungau berkaki delapan yang bisa masuk ke dalam kulit inang dan menyebabkan gatal dan melepuh yang intens. Kesimpulannya, prevalensi parasit dan ekto-parasit ditemukan dalam pakaian bekas, terlebih yang tidak dicuci.
Pakaian bekas dapat menyebarkan penyakit kulit dan rambut terutama pediculosis dan kudis. Selain itu, pakaian ini harus dicuci, disetrika, atau didesinfeksi untuk mengurangi kemungkinan penularan patogen atau bakteri yang bisa menyebabkan penyakit ke manusia.
(wur)
Lihat Juga :