Khasiat Jahe Merah, Herbal Asli Indonesia yang Diakui Ilmiah
Selasa, 04 November 2025 - 19:05 WIB
loading...
A
A
A
“Ekosistem obat herbal dari hulu sampai hilir diperlukan agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, kualitas, dan khasiat,” tutur dr. Inggrid Tania.
Ekosistem terintegrasi ini dimulai dari perbenihan dan budidaya bersama petani binaan, berlanjut ke proses pascapanen, ekstraksi, destilasi, hingga riset dan distribusi produk ke tangan konsumen. Dengan sistem ini, kualitas bahan alami dapat dipastikan, mendukung traceability dan keberlanjutan (sustainability) bisnis yang selaras dengan alam.
Namun, tantangan terbesar industri herbal nasional adalah belum terbentuknya ekosistem terintegrasi di sebagian besar produsen lokal. “Mayoritas industri obat herbal di Indonesia belum memiliki ekosistem. Kita jadi tidak bisa melacak sumber bahan baku, lokasi penanaman, dan potensi pencemaran. Permasalahan ini perlu kita perbaiki bersama pelaku usaha, pemerintah, dan organisasi agar standar produk herbal kita mampu bersaing secara global,” jelas dr. Inggrid.
Pembentukan standarisasi global ini menjadi fokus utama WHO-IRCH dengan membentuk farmakope dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menjadi farmakope internasional acuan dunia dalam memproduksi produk herbal. Dengan adanya standarisasi dan jaringan internasional yang kuat melalui Traditional Medicine Strategy, negara-negara bisa mengenalkan produk herbalnya secara global.
Agenda penyusunan ini sudah dilakukan sejak 2024 dan di tahun 2025 ini, Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) ke-16. Indonesia dapat memamerkan kemajuan riset dan industri yang telah memiliki ekosistem herbal terintegrasi berstandar tinggi, terutama jahe merah sebagai ikon Indonesia yang dengan giat dikembangkan oleh PT Bintang Toedjoe.
Dr. Inggrid pun menunjukkan signifikansi kunjungan ini. “Kedatangan WHO-IRCH ke Indonesia diisi oleh workshop dan kunjungan ke industri-industri terpilih yang sudah memanfaatkan jahe merah yang jadi herba asli Indonesia sebagai benchmark dan percontohan untuk masukan dalam pembuatan farmakope herbal internasional," pungkasnya.
Ekosistem terintegrasi ini dimulai dari perbenihan dan budidaya bersama petani binaan, berlanjut ke proses pascapanen, ekstraksi, destilasi, hingga riset dan distribusi produk ke tangan konsumen. Dengan sistem ini, kualitas bahan alami dapat dipastikan, mendukung traceability dan keberlanjutan (sustainability) bisnis yang selaras dengan alam.
Namun, tantangan terbesar industri herbal nasional adalah belum terbentuknya ekosistem terintegrasi di sebagian besar produsen lokal. “Mayoritas industri obat herbal di Indonesia belum memiliki ekosistem. Kita jadi tidak bisa melacak sumber bahan baku, lokasi penanaman, dan potensi pencemaran. Permasalahan ini perlu kita perbaiki bersama pelaku usaha, pemerintah, dan organisasi agar standar produk herbal kita mampu bersaing secara global,” jelas dr. Inggrid.
Pembentukan standarisasi global ini menjadi fokus utama WHO-IRCH dengan membentuk farmakope dari berbagai negara, termasuk Indonesia, menjadi farmakope internasional acuan dunia dalam memproduksi produk herbal. Dengan adanya standarisasi dan jaringan internasional yang kuat melalui Traditional Medicine Strategy, negara-negara bisa mengenalkan produk herbalnya secara global.
Agenda penyusunan ini sudah dilakukan sejak 2024 dan di tahun 2025 ini, Indonesia menjadi tuan rumah Pertemuan Tahunan WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) ke-16. Indonesia dapat memamerkan kemajuan riset dan industri yang telah memiliki ekosistem herbal terintegrasi berstandar tinggi, terutama jahe merah sebagai ikon Indonesia yang dengan giat dikembangkan oleh PT Bintang Toedjoe.
Dr. Inggrid pun menunjukkan signifikansi kunjungan ini. “Kedatangan WHO-IRCH ke Indonesia diisi oleh workshop dan kunjungan ke industri-industri terpilih yang sudah memanfaatkan jahe merah yang jadi herba asli Indonesia sebagai benchmark dan percontohan untuk masukan dalam pembuatan farmakope herbal internasional," pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :