Edukasi 1.000 Hari Pertama Kehidupan Jadi Kunci Cegah Stunting
Rabu, 05 November 2025 - 19:57 WIB
loading...
Stunting masih jadi tantangan besar dalam pembangunan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045. Foto/Dok.
A
A
A
JAKARTA - Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan fase emas yang menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas anak di masa depan. Kekurangan gizi, minimnya stimulasi, serta perawatan yang tidak optimal pada periode ini dapat menyebabkan stunting dan gangguan perkembangan otak.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap isu tersebut, Frisian Flag Indonesia bersama IBI dan DokterIN menggelar seminar edukatif secara hybrid pada Minggu, 2 November 2025. Kegiatan ini diikuti lebih dari 1.000 peserta daring dan 100 peserta luring, dengan tujuan mengoptimalkan kapasitas para bidan dalam edukasi gizi kepada ibu hamil dan menyusui, serta meningkatkan kemampuan promotif dan preventif terhadap stunting dan gangguan perkembangan otak anak.
Baca juga: Pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK): Antara Budaya dan Data
“Bidan memiliki peran penting tidak hanya sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai pendamping utama bagi ibu dan keluarga dalam setiap fase kehidupan anak. Melalui edukasi gizi yang tepat selama 1.000 HPK, bidan berperan besar dalam memastikan anak tumbuh sehat dan cerdas. Kolaborasi antara IBI, Frisian Flag Indonesia, dan DokterIN ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat kompetensi bidan dalam menghadapi tantangan stunting di daerah,” ujar Siti Maimunah, Ketua IBI Provinsi Jawa Timur, melalui siaran pers, Rabu (5/11/2025).
Seminar ini juga menghadirkan Waritsah Sukarjiyah dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang membawakan materi “Kebijakan Pemerintah dalam Penanggulangan Stunting dan Upaya Pencegahan pada 1.000 HPK.” Ia menekankan bahwa percepatan penurunan stunting merupakan agenda prioritas nasional yang membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk tenaga kesehatan di tingkat lapangan.
“Bidan memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan ibu dan anak. Dengan memperkuat peran bidan dalam memberikan edukasi gizi dan pemantauan tumbuh kembang, kita bisa mencegah stunting sejak dini, bahkan sebelum anak lahir,” tuturnya.
Sesi talkshow berikutnya menghadirkan Sulianah dari IBI Provinsi Jawa Timur, yang memaparkan peran strategis dan inovasi kebidanan dalam mencegah stunting.
“Bidan berada di garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dengan pemahaman yang kuat tentang gizi, para bidan dapat menjadi agen perubahan yang signifikan di masyarakat,” jelas Sulianah.
Sementara itu, Wurry Ayuningtyas, Dokter Spesialis Anak, menjelaskan pentingnya asupan DHA dalam pembentukan sel otak dan perkembangan kognitif anak.
“DHA merupakan nutrisi kunci untuk pembentukan dan fungsi otak anak. Asupan DHA yang cukup sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan berdampak besar pada perkembangan kognitif dan kemampuan belajar anak. Karena itu, edukasi gizi yang diberikan oleh para bidan menjadi sangat strategis,” terang dr. Wurry.
Dalam kesempatan yang sama, Theodora Stephanie, Brand Manager PT Frisian Flag Indonesia, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan gizi masyarakat.
“Sebagai perusahaan yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga Indonesia lebih dari satu abad, Frisian Flag Indonesia berkomitmen untuk terus Nourishing Indonesia to Progress. Kami percaya masa depan bangsa dimulai dari generasi yang sehat sejak 1.000 HPK. Melalui edukasi ini, kami berharap dapat memperkuat peran tenaga kesehatan, khususnya para bidan, dalam mencetak Generasi Emas 2045,” ujar Theodora Stephanie.
Selain pemberian ASI eksklusif sebagai sumber gizi terbaik bagi bayi, pemenuhan makro dan mikronutrien sesuai usia juga berperan besar dalam mendukung fungsi kognitif anak. Pemenuhan nutrisi bagi ibu hamil menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi sejak awal kehidupan.
Kondisi tersebut menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap isu tersebut, Frisian Flag Indonesia bersama IBI dan DokterIN menggelar seminar edukatif secara hybrid pada Minggu, 2 November 2025. Kegiatan ini diikuti lebih dari 1.000 peserta daring dan 100 peserta luring, dengan tujuan mengoptimalkan kapasitas para bidan dalam edukasi gizi kepada ibu hamil dan menyusui, serta meningkatkan kemampuan promotif dan preventif terhadap stunting dan gangguan perkembangan otak anak.
Baca juga: Pengasuhan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK): Antara Budaya dan Data
“Bidan memiliki peran penting tidak hanya sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga sebagai pendamping utama bagi ibu dan keluarga dalam setiap fase kehidupan anak. Melalui edukasi gizi yang tepat selama 1.000 HPK, bidan berperan besar dalam memastikan anak tumbuh sehat dan cerdas. Kolaborasi antara IBI, Frisian Flag Indonesia, dan DokterIN ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat kompetensi bidan dalam menghadapi tantangan stunting di daerah,” ujar Siti Maimunah, Ketua IBI Provinsi Jawa Timur, melalui siaran pers, Rabu (5/11/2025).
Seminar ini juga menghadirkan Waritsah Sukarjiyah dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur yang membawakan materi “Kebijakan Pemerintah dalam Penanggulangan Stunting dan Upaya Pencegahan pada 1.000 HPK.” Ia menekankan bahwa percepatan penurunan stunting merupakan agenda prioritas nasional yang membutuhkan kerja sama lintas sektor, termasuk tenaga kesehatan di tingkat lapangan.
“Bidan memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan ibu dan anak. Dengan memperkuat peran bidan dalam memberikan edukasi gizi dan pemantauan tumbuh kembang, kita bisa mencegah stunting sejak dini, bahkan sebelum anak lahir,” tuturnya.
Sesi talkshow berikutnya menghadirkan Sulianah dari IBI Provinsi Jawa Timur, yang memaparkan peran strategis dan inovasi kebidanan dalam mencegah stunting.
“Bidan berada di garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dengan pemahaman yang kuat tentang gizi, para bidan dapat menjadi agen perubahan yang signifikan di masyarakat,” jelas Sulianah.
Sementara itu, Wurry Ayuningtyas, Dokter Spesialis Anak, menjelaskan pentingnya asupan DHA dalam pembentukan sel otak dan perkembangan kognitif anak.
“DHA merupakan nutrisi kunci untuk pembentukan dan fungsi otak anak. Asupan DHA yang cukup sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan berdampak besar pada perkembangan kognitif dan kemampuan belajar anak. Karena itu, edukasi gizi yang diberikan oleh para bidan menjadi sangat strategis,” terang dr. Wurry.
Dalam kesempatan yang sama, Theodora Stephanie, Brand Manager PT Frisian Flag Indonesia, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung peningkatan gizi masyarakat.
“Sebagai perusahaan yang telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga Indonesia lebih dari satu abad, Frisian Flag Indonesia berkomitmen untuk terus Nourishing Indonesia to Progress. Kami percaya masa depan bangsa dimulai dari generasi yang sehat sejak 1.000 HPK. Melalui edukasi ini, kami berharap dapat memperkuat peran tenaga kesehatan, khususnya para bidan, dalam mencetak Generasi Emas 2045,” ujar Theodora Stephanie.
Selain pemberian ASI eksklusif sebagai sumber gizi terbaik bagi bayi, pemenuhan makro dan mikronutrien sesuai usia juga berperan besar dalam mendukung fungsi kognitif anak. Pemenuhan nutrisi bagi ibu hamil menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi sejak awal kehidupan.
(nnz)
Lihat Juga :