Saskia Chadwick Mengenal Cinta ala Islami di Film Tak Kenal Maka Ta'aruf
Kamis, 06 November 2025 - 18:30 WIB
loading...
Saskia Chadwick mendapat banyak pelajaran penuh makna saat membintangi film terbarunya berjudul Tak Kenal Maka Taaruf. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Saskia Chadwick mendapat banyak pelajaran penuh makna saat membintangi film terbarunya berjudul Tak Kenal Maka Ta'aruf. Tidak hanya sekadar hiburan, tetapi menjadi tuntunan. Bukan saja untuk dirinya, juga para pencinta film, khususnya anak muda.
Tak heran ketika ditawari berperan sebagai Zoya, Saskia Chadwic begitu antusias dan berharap film ini memberi banyak manfaat.
“Pas nonton film rasanya kayak mengingat pesan papa untuk menjaga diri dari pergaulan bebas. Tapi tetap menarik bikin baper dan ketawa-ketawa sendiri,” kata Saskia Chadwic.
Film yang akan tayang pada 13 November 2025 ini menjadi debut Toma Margens, putra aktor Toro Margens, sebagai sutradara. Dia bersyukur film garapannya itu segara tayang. Pasalnya, dia tidak hanya ingin memberi hiburan semata, tetapi menyampaikan pesan mendalam dari cerita yang dibangun.
“Kami persembahkan film ini untuk remaja yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Kami beranikan diri mengangkat tema yang berbeda lewat film ini dengan memadukan kondisi sosial di Masyarakat dan kondisi ideal yang masih jarang diterapkan,” kata Toma.
Sementara, Fadi Alaydrus mengatakan bahwa Taaruf itu tidak seperti yang dipikirin banyak orang, cinta yang kaku dan penilaian negatif lainnya.
“Buat aku, film ini kekinian banget. Memberikan opsi pencarian pasangan hidup dengan proses yang baik sesuai kaidah agama Islam,” ujar Fadi Alaydrus.
Fadi berperan sebagai Faris pun mengaku berhati hati saat menggambarkan karakternya itu. Apalagi, sebagai anak muda yang karakternya sedikit berbeda antara di film dan aslinya.
“Aku harus hati-hati dalam menjaga karakter Faris karena bertolak belakang dengan sifat asliku yang extrovert. Untungnya teman-teman sangat kompak dan jadi saling bantu membangun karakter saat syuting,” ujarnya.
Senada dengan Executive Produser Dedy Suherman. Dia mengaku gelisah dengan pergaulan remaja sekarang ini. "Jadi, saya mempersiapkan film ini bersama empat produser lain yaitu Wahyudi, Mohamad Salim, dan Erick Wahyudyono, memiliki pemikirannya sama. Kami bapak-bapak gelisah dengan pergaulan anak muda sekarang. Makanya ngasih tuntunan lewat film supaya nggak terkesan menggurui,” tuturnya.
Diketahui, film ini mengisahkan tentang Zoya (Saskia Chadwick), mahasiswi kedokteran yang memegang teguh kaidah-kaidah agama. Zoya Memiliki prinsip kuat tentang konsep pernikahan tanpa pacaran. Zoya memiliki dua kakak yaitu Khalid (Maghara Adipura) dan Asma (Ghina Salsabiela).
Keduanya mengalami kegagalan cinta yang sangat traumatis sehingga menjadi faktor Zoya mengidap Philophobia (takut jatuh cinta). Zoya bertemu dengan Faris (Fadi Alaydrus), mahasiswa teknologi kelautan, ganteng, tinggi dan seorang vokalis. Zoya benci pada pandangan pertama kepada Faris.
Gadis itu merasa sangat terganggu dengan suara bising motor Faris setiap kali pergi sholat ke masjid kampus.
Sementara Cleopatra (Dinda Mahira), mahasiswi metropolis, cantik, enerjik dan agresif. Fans berat Faris. Jatuh cinta dan mengejar Faris mati-matian. Di tengah kegalauan akan perasaan cintanya, Zoya harus menghadapi kenyataan pahit ayahnya yang berpulang.
“Pas nulis scenario saya bayangin membuat cerita ini untuk remaja yang mulai mapan dan mencari hubungan serius. Tapi kan nggak semua orang bisa bersabar dengan proses pengenalan yang memakan wantu lama. Jadi sebenarnya taaruf itu ideal sekali untuk diterapkan,” ujar penulis Mim Yudiarto.
Tak heran ketika ditawari berperan sebagai Zoya, Saskia Chadwic begitu antusias dan berharap film ini memberi banyak manfaat.
“Pas nonton film rasanya kayak mengingat pesan papa untuk menjaga diri dari pergaulan bebas. Tapi tetap menarik bikin baper dan ketawa-ketawa sendiri,” kata Saskia Chadwic.
Film yang akan tayang pada 13 November 2025 ini menjadi debut Toma Margens, putra aktor Toro Margens, sebagai sutradara. Dia bersyukur film garapannya itu segara tayang. Pasalnya, dia tidak hanya ingin memberi hiburan semata, tetapi menyampaikan pesan mendalam dari cerita yang dibangun.
“Kami persembahkan film ini untuk remaja yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Kami beranikan diri mengangkat tema yang berbeda lewat film ini dengan memadukan kondisi sosial di Masyarakat dan kondisi ideal yang masih jarang diterapkan,” kata Toma.
Sementara, Fadi Alaydrus mengatakan bahwa Taaruf itu tidak seperti yang dipikirin banyak orang, cinta yang kaku dan penilaian negatif lainnya.
“Buat aku, film ini kekinian banget. Memberikan opsi pencarian pasangan hidup dengan proses yang baik sesuai kaidah agama Islam,” ujar Fadi Alaydrus.
Fadi berperan sebagai Faris pun mengaku berhati hati saat menggambarkan karakternya itu. Apalagi, sebagai anak muda yang karakternya sedikit berbeda antara di film dan aslinya.
“Aku harus hati-hati dalam menjaga karakter Faris karena bertolak belakang dengan sifat asliku yang extrovert. Untungnya teman-teman sangat kompak dan jadi saling bantu membangun karakter saat syuting,” ujarnya.
Senada dengan Executive Produser Dedy Suherman. Dia mengaku gelisah dengan pergaulan remaja sekarang ini. "Jadi, saya mempersiapkan film ini bersama empat produser lain yaitu Wahyudi, Mohamad Salim, dan Erick Wahyudyono, memiliki pemikirannya sama. Kami bapak-bapak gelisah dengan pergaulan anak muda sekarang. Makanya ngasih tuntunan lewat film supaya nggak terkesan menggurui,” tuturnya.
Diketahui, film ini mengisahkan tentang Zoya (Saskia Chadwick), mahasiswi kedokteran yang memegang teguh kaidah-kaidah agama. Zoya Memiliki prinsip kuat tentang konsep pernikahan tanpa pacaran. Zoya memiliki dua kakak yaitu Khalid (Maghara Adipura) dan Asma (Ghina Salsabiela).
Keduanya mengalami kegagalan cinta yang sangat traumatis sehingga menjadi faktor Zoya mengidap Philophobia (takut jatuh cinta). Zoya bertemu dengan Faris (Fadi Alaydrus), mahasiswa teknologi kelautan, ganteng, tinggi dan seorang vokalis. Zoya benci pada pandangan pertama kepada Faris.
Gadis itu merasa sangat terganggu dengan suara bising motor Faris setiap kali pergi sholat ke masjid kampus.
Sementara Cleopatra (Dinda Mahira), mahasiswi metropolis, cantik, enerjik dan agresif. Fans berat Faris. Jatuh cinta dan mengejar Faris mati-matian. Di tengah kegalauan akan perasaan cintanya, Zoya harus menghadapi kenyataan pahit ayahnya yang berpulang.
“Pas nulis scenario saya bayangin membuat cerita ini untuk remaja yang mulai mapan dan mencari hubungan serius. Tapi kan nggak semua orang bisa bersabar dengan proses pengenalan yang memakan wantu lama. Jadi sebenarnya taaruf itu ideal sekali untuk diterapkan,” ujar penulis Mim Yudiarto.
(dra)
Lihat Juga :