Pagelaran Satoe Indonesia Tandai Kebangkitan Jakarta Philharmonic Orchestra di TIM
Minggu, 09 November 2025 - 13:40 WIB
loading...
Jakarta Philharmonic Orchestra (JPO) kembali hadir dengan pagelaran megah bertajuk Perayaan Kebangsaan Satoe Indonesia yang digelar Sabtu (8/11/2025) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM). Foto/JPO.
A
A
A
JAKARTA - Setelah bertahun-tahun nyaris tak terdengar gaungnya, Jakarta Philharmonic Orchestra (JPO) akhirnya resmi dibangkitkan kembali oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta . Kebangkitan tersebut ditandai melalui pagelaran megah bertajuk “Perayaan Kebangsaan Satoe Indonesia” yang digelar Sabtu (8/11) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM).
Tak main-main, panggung ini menghadirkan 54 musisi, 28 anggota paduan suara, 5 penyanyi, dan 1 grup band, digawangi langsung oleh music director sekaligus conductor senior Aminoto Kosin. Selama dua jam, pagelaran ini menyuguhkan karya-karya monumental WR Supratman, Ismail Marzuki, Mochtar Embut, Titiek Puspa, hingga Gombloh menciptakan nostalgia musikal yang kuat tentang perjalanan sejarah Indonesia.
Baca juga: Dominasi K-Pop di Grammy 2026: Rose BLACKPINK Jadi Idol K-Pop Pertama Masuk Nominasi Utama
Pagelaran ini bukan sekadar konser, melainkan penanda resmi kebangkitan JPO yang sempat “mati suri” bertahun-tahun. Pemprov DKI melalui Dinas Kebudayaan menegaskan bahwa JPO akan kembali menjadi ikon kesenian Jakarta dan bakal digelar secara berkelanjutan setiap tahun.
Baca juga: The Life of a Showgirl Taylor Swift Tak Masuk Nominasi Grammy, Ternyata Ini Alasannya!
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh, menyebut kebangkitan JPO bukan sekadar program seni, melainkan bagian dari visi besar Pemprov menyambut HUT Jakarta ke-500 tahun pada 2027.
“Jakarta tahun 2027 menjadi 500 tahun. Ini kesempatan untuk memasarkan kembali semua kesenian di Jakarta. Salah satunya JPO,” ujarnya.
Meski persiapan baru dimulai sejak September atau kurang dari tiga bulan, Miftahulloh menegaskan bahwa konser ini adalah titik awal untuk mengembalikan JPO ke panggung utama kesenian Jakarta. Ia menyebutkan, dalam penilaian kota global, kelestarian budaya menjadi salah satu indikator utama.
Karena itu, JPO bukan hanya konser, tetapi representasi bahwa kultur musik Jakarta tetap hidup dan terus berkembang.
JPO juga memiliki sejarah panjang. Jejaknya dapat ditarik hingga 1904 melalui Batavian Staff Orchestra, berkembang menjadi Bataviasche Philharmonic Orchestra (1912), dan kemudian NIROM Orchestra (1934). TIM pun menjadi saksi perjalanan musik orkestra Indonesia tempat lahirnya karya-karya besar dari Ismail Marzuki hingga maestro biola Idris Sardi.
Sebelumnya, JPO berjalan tidak konsisten dan sempat tidak aktif selama beberapa tahun. Kini Pemprov memastikan JPO kembali berada di garda depan dunia musik Jakarta.
“Ini tahun kebangkitan. Kami harap tahun depan, bahkan menjelang 2027, penyelenggaraannya lebih besar dan bisa menghadirkan musisi dari luar negeri,” ujar Miftahulloh.
Aminoto Kosin sebagai music director & conductor juga menegaskan harapannya: “Semoga JPO ini bisa menjadi kegiatan yang berkelanjutan.”
Para penyanyi seperti Aimee Saras, Lea Simanjuntak, Endah Laras, Galabby Thahira, Gabriel Harvianto, serta kolaborasi dengan /Rif menghadirkan suasana heroik yang membawa penonton pada napak tilas sejarah Indonesia—dari Sumpah Pemuda hingga peran generasi muda hari ini.
Pagelaran ini menjadi bukan hanya pertunjukan musik, tetapi pesan kebangsaan untuk mengingatkan kembali bahwa pemuda selalu menjadi motor perubahan bangsa.
Dengan kembalinya JPO dalam format reguler dan dukungan penuh Pemprov DKI, Jakarta menegaskan ambisinya menjadi kota global yang tidak hanya modern, tetapi juga kaya budaya. “Satoe Indonesia” menjadi pembuka jalan bahwa musik orkestra Jakarta telah kembali lebih megah, relevan, dan membanggakan.
M/G Nesya Naila Naulia
Tak main-main, panggung ini menghadirkan 54 musisi, 28 anggota paduan suara, 5 penyanyi, dan 1 grup band, digawangi langsung oleh music director sekaligus conductor senior Aminoto Kosin. Selama dua jam, pagelaran ini menyuguhkan karya-karya monumental WR Supratman, Ismail Marzuki, Mochtar Embut, Titiek Puspa, hingga Gombloh menciptakan nostalgia musikal yang kuat tentang perjalanan sejarah Indonesia.
Baca juga: Dominasi K-Pop di Grammy 2026: Rose BLACKPINK Jadi Idol K-Pop Pertama Masuk Nominasi Utama
Pagelaran ini bukan sekadar konser, melainkan penanda resmi kebangkitan JPO yang sempat “mati suri” bertahun-tahun. Pemprov DKI melalui Dinas Kebudayaan menegaskan bahwa JPO akan kembali menjadi ikon kesenian Jakarta dan bakal digelar secara berkelanjutan setiap tahun.
Baca juga: The Life of a Showgirl Taylor Swift Tak Masuk Nominasi Grammy, Ternyata Ini Alasannya!
JPO Diaktifkan Lagi: Persiapan Kilat, Misi Besar Jakarta 500 Tahun
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh, menyebut kebangkitan JPO bukan sekadar program seni, melainkan bagian dari visi besar Pemprov menyambut HUT Jakarta ke-500 tahun pada 2027.
“Jakarta tahun 2027 menjadi 500 tahun. Ini kesempatan untuk memasarkan kembali semua kesenian di Jakarta. Salah satunya JPO,” ujarnya.
Meski persiapan baru dimulai sejak September atau kurang dari tiga bulan, Miftahulloh menegaskan bahwa konser ini adalah titik awal untuk mengembalikan JPO ke panggung utama kesenian Jakarta. Ia menyebutkan, dalam penilaian kota global, kelestarian budaya menjadi salah satu indikator utama.
Karena itu, JPO bukan hanya konser, tetapi representasi bahwa kultur musik Jakarta tetap hidup dan terus berkembang.
JPO juga memiliki sejarah panjang. Jejaknya dapat ditarik hingga 1904 melalui Batavian Staff Orchestra, berkembang menjadi Bataviasche Philharmonic Orchestra (1912), dan kemudian NIROM Orchestra (1934). TIM pun menjadi saksi perjalanan musik orkestra Indonesia tempat lahirnya karya-karya besar dari Ismail Marzuki hingga maestro biola Idris Sardi.
Sebelumnya, JPO berjalan tidak konsisten dan sempat tidak aktif selama beberapa tahun. Kini Pemprov memastikan JPO kembali berada di garda depan dunia musik Jakarta.
“Ini tahun kebangkitan. Kami harap tahun depan, bahkan menjelang 2027, penyelenggaraannya lebih besar dan bisa menghadirkan musisi dari luar negeri,” ujar Miftahulloh.
Aminoto Kosin sebagai music director & conductor juga menegaskan harapannya: “Semoga JPO ini bisa menjadi kegiatan yang berkelanjutan.”
Jakarta Philharmonic Orchestra Menjadi Panggung Megah Penuh Lagu Legendaris
Pagelaran "Satoe Indonesia" menyuguhkan daftar panjang karya klasik Tanah Air yang dibalut aransemen modern. Pertunjukan dibuka dengan Indonesia Raya versi solo biola JPO, dilanjutkan Overture “Varia Ibukota”, “Juwita Malam”, “Selendang Sutera”, “Nusantara”, hingga “Zamrud Khatulistiwa” dan “Kebyar-Kebyar”.Para penyanyi seperti Aimee Saras, Lea Simanjuntak, Endah Laras, Galabby Thahira, Gabriel Harvianto, serta kolaborasi dengan /Rif menghadirkan suasana heroik yang membawa penonton pada napak tilas sejarah Indonesia—dari Sumpah Pemuda hingga peran generasi muda hari ini.
Pagelaran ini menjadi bukan hanya pertunjukan musik, tetapi pesan kebangsaan untuk mengingatkan kembali bahwa pemuda selalu menjadi motor perubahan bangsa.
Dengan kembalinya JPO dalam format reguler dan dukungan penuh Pemprov DKI, Jakarta menegaskan ambisinya menjadi kota global yang tidak hanya modern, tetapi juga kaya budaya. “Satoe Indonesia” menjadi pembuka jalan bahwa musik orkestra Jakarta telah kembali lebih megah, relevan, dan membanggakan.
M/G Nesya Naila Naulia
(nnz)
Lihat Juga :