Waspadai Tekanan Mental di Tempat Kerja bagi Wanita, Bagaimana Mengatasinya?
Senin, 17 November 2025 - 20:00 WIB
loading...
Dalam aktivitas profesional yang padat, perempuan sering kali menghadapi tekanan mental dan emosional yang berdampak pada kondisi fisik. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Dalam aktivitas profesional yang padat, perempuan sering kali menghadapi tekanan mental dan emosional yang berdampak pada kondisi fisik. Tekanan ini dapat berasal dari berbagai sumber, seperti tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan ekspektasi sosial. Sebagai hasilnya, perempuan dapat mengalami gangguan hormonal, kelelahan, dan penurunan kualitas tidur.
Gangguan hormonal dapat terjadi karena perubahan pada siklus menstruasi, kehamilan, atau menopause. Tekanan mental dan emosional dapat memperburuk gejala-gejala ini, sehingga perempuan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Kelelahan juga merupakan masalah yang umum dialami oleh perempuan yang bekerja, karena mereka harus menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga.
Fenomena ini direspons Filmore dengan meningkatkan kesadaran bahwa kesehatan mental dan kesehatan tubuh saling terhubung serta sama pentingnya untuk dijaga. Untuk itu, pihaknya berkomitmen mengembangkan ekosistem kesehatan perempuan yang terintegrasi.
Sejak berdiri pada 2023, Filmore telah mengembangkan dua lini utama, yakni Pharma, yang berfokus pada produk kesehatan feminin dan kini telah digunakan oleh lebih dari 300.000 perempuan, serta Medical, jaringan klinik spesialis perempuan yang sudah melayani lebih dari 6.000 pasien sejak November 2024.
Gitta Amelia, Founder & CEO Filmore Health memahami bahwa perempuan menjalankan peran ganda, di rumah, di pekerjaan, maupun di masyarakat.
"Karena itu, kami ingin menghadirkan layanan kesehatan yang benar-benar selaras dengan ritme keseharian mereka. Pembukaan Filmore Medical Clinic di Setiabudi Jakarta ini merupakan langkah untuk mendekatkan layanan kami kepada segmen perempuan profesional yang aktif di kawasan perkantoran. Kami juga melihat semakin tingginya kebutuhan akan ‘safe space’ layanan medis yang cepat, terpercaya, dan mendukung keseharian perempuan yang dinamis," kata Gitta.
Berbeda dari klinik konvensional, Gitta mengatakan pihaknya menghadirkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek medis, psikologis, dan gaya hidup. Layanan ini meliputi Ginekologi, Hormon, Kejiwaan (Psikologi dan Psikiatri), Diet dan Nutrisi, Dermatovenerologi, Kontrasepsi, Maternity/Postpartum, Vaksin lengkap, serta Perawatan Anak & Remaja. Selain itu, juga menyediakan berbagai inovasi dan merupakan klinik pertama yang menyediakan treatment VSC (Vaginal Spritz Cleaning) dan inovasi lainnya seperti NAD+ IV Infusion.
"Dengan tagline NoJudgementJustCare, kami menekankan nilai empati dan inklusivitas, menjadikannya ruang aman bagi perempuan untuk berbicara terbuka tentang kesehatannya, termasuk isu mental dan emosional yang sering kali terabaikan," tuturnya.
Sementara, dr. Karina Kalani, Sp.KJ, psikiater Filmore Medical Clinic mengatakan bahwa setiap perempuan melewati berbagai fase unik dan dinamis dalam siklus kehidupannya - dari masa kanak, remaja, produktif, menjadi ibu, berbagai transisi, hingga lanjut usia.
Dikatakannya, setiap fase memiliki tantangan biologis, psikologis, dan sosial tersendiri yang dapat saling mempengaruhi. "Kami menghadirkan ruang aman yang berlandaskan empati dan penerimaan tanpa stigma serta menggunakan pendekatan menyeluruh secara bio-psiko-sosial sehingga melihat setiap perempuan secara utuh, bukan hanya berdasarkan gejala yang dirasakan. Komitmen kami mendukung perempuan dan setiap pasien yang hadir untuk menemukan kembali kekuatan, keseimbangan dan pemulihan dalam setiap siklus kehidupannya," ucap dia.
Gangguan hormonal dapat terjadi karena perubahan pada siklus menstruasi, kehamilan, atau menopause. Tekanan mental dan emosional dapat memperburuk gejala-gejala ini, sehingga perempuan lebih rentan mengalami gangguan kesehatan. Kelelahan juga merupakan masalah yang umum dialami oleh perempuan yang bekerja, karena mereka harus menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga.
Fenomena ini direspons Filmore dengan meningkatkan kesadaran bahwa kesehatan mental dan kesehatan tubuh saling terhubung serta sama pentingnya untuk dijaga. Untuk itu, pihaknya berkomitmen mengembangkan ekosistem kesehatan perempuan yang terintegrasi.
Sejak berdiri pada 2023, Filmore telah mengembangkan dua lini utama, yakni Pharma, yang berfokus pada produk kesehatan feminin dan kini telah digunakan oleh lebih dari 300.000 perempuan, serta Medical, jaringan klinik spesialis perempuan yang sudah melayani lebih dari 6.000 pasien sejak November 2024.
Gitta Amelia, Founder & CEO Filmore Health memahami bahwa perempuan menjalankan peran ganda, di rumah, di pekerjaan, maupun di masyarakat.
"Karena itu, kami ingin menghadirkan layanan kesehatan yang benar-benar selaras dengan ritme keseharian mereka. Pembukaan Filmore Medical Clinic di Setiabudi Jakarta ini merupakan langkah untuk mendekatkan layanan kami kepada segmen perempuan profesional yang aktif di kawasan perkantoran. Kami juga melihat semakin tingginya kebutuhan akan ‘safe space’ layanan medis yang cepat, terpercaya, dan mendukung keseharian perempuan yang dinamis," kata Gitta.
Berbeda dari klinik konvensional, Gitta mengatakan pihaknya menghadirkan pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek medis, psikologis, dan gaya hidup. Layanan ini meliputi Ginekologi, Hormon, Kejiwaan (Psikologi dan Psikiatri), Diet dan Nutrisi, Dermatovenerologi, Kontrasepsi, Maternity/Postpartum, Vaksin lengkap, serta Perawatan Anak & Remaja. Selain itu, juga menyediakan berbagai inovasi dan merupakan klinik pertama yang menyediakan treatment VSC (Vaginal Spritz Cleaning) dan inovasi lainnya seperti NAD+ IV Infusion.
"Dengan tagline NoJudgementJustCare, kami menekankan nilai empati dan inklusivitas, menjadikannya ruang aman bagi perempuan untuk berbicara terbuka tentang kesehatannya, termasuk isu mental dan emosional yang sering kali terabaikan," tuturnya.
Sementara, dr. Karina Kalani, Sp.KJ, psikiater Filmore Medical Clinic mengatakan bahwa setiap perempuan melewati berbagai fase unik dan dinamis dalam siklus kehidupannya - dari masa kanak, remaja, produktif, menjadi ibu, berbagai transisi, hingga lanjut usia.
Dikatakannya, setiap fase memiliki tantangan biologis, psikologis, dan sosial tersendiri yang dapat saling mempengaruhi. "Kami menghadirkan ruang aman yang berlandaskan empati dan penerimaan tanpa stigma serta menggunakan pendekatan menyeluruh secara bio-psiko-sosial sehingga melihat setiap perempuan secara utuh, bukan hanya berdasarkan gejala yang dirasakan. Komitmen kami mendukung perempuan dan setiap pasien yang hadir untuk menemukan kembali kekuatan, keseimbangan dan pemulihan dalam setiap siklus kehidupannya," ucap dia.
(dra)
Lihat Juga :