Rumah Warga 350 Meter Disulap Jadi Galeri Lukisan di Cartoon Village Purbalingga
Minggu, 30 November 2025 - 20:00 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Slamet Santosa, Founder Kie Art Project, deretan rumah warga sepanjang 350 meter di desa kini menjelma menjadi galeri seni rakyat yang hidup, menampilkan lukisan kartun bertema tradisi dan kearifan lokal. Di setiap rumah, terpajang karya para perupa asli Purbalingga—seperti Budija, Aprianto, Darmawan, Zali, Amru, Alexa, Tria Novanda, dan Rakhma—sehingga desa ini tidak hanya menjadi tujuan wisata budaya, tetapi juga ruang apresiasi yang memberi panggung bagi seniman daerah.
Lebih dari itu, setiap karya yang dipamerkan di rumah warga memiliki potensi nilai ekonomi: bila lukisan terjual, pemilik rumah akan menerima persentase dari hasil penjualan sebagai bentuk penghargaan dari para pegiat atas peran mereka menjaga, merawat, dan menjadi bagian dari ekosistem seni yang tumbuh di desa tersebut.
Opening Unik: Desa Menjadi Panggung
Gita Yohanna Thomdean menjelaskan bahwa keunikan acara peresmian terletak pada pelaksanaannya yang digelar pada malam hari. Pencahayaan dari lampu-lampu anyaman khas desa menciptakan suasana hangat dan autentik. Seluruh jalan desa diubah menjadi panggung seni, lengkap dengan pertunjukan tari, musik tradisional, karawitan, dolanan bocah, hingga instalasi seni di setiap sudut.
Pengunjung juga dapat menikmati mini bioskop desa yang memutar film dokumenter yang disutradarai oleh Gita Yohanna Thomdean, menceritakan perjalanan Pemuda Kie Seni dan Kie Art Projects.
Selain itu, pengunjung dihimbau untuk mengenakan busana bergaya stylish dengan sentuhan tradisional seperti kebaya dan batik modern—sebuah upaya menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap estetika budaya lokal. Beragam kuliner tradisional khas Purbalingga juga disajikan gratis sebagai bagian dari edukasi budaya.
Peluncuran Buku dan Jingle Terbaru
Lebih dari itu, setiap karya yang dipamerkan di rumah warga memiliki potensi nilai ekonomi: bila lukisan terjual, pemilik rumah akan menerima persentase dari hasil penjualan sebagai bentuk penghargaan dari para pegiat atas peran mereka menjaga, merawat, dan menjadi bagian dari ekosistem seni yang tumbuh di desa tersebut.
Opening Unik: Desa Menjadi Panggung
Gita Yohanna Thomdean menjelaskan bahwa keunikan acara peresmian terletak pada pelaksanaannya yang digelar pada malam hari. Pencahayaan dari lampu-lampu anyaman khas desa menciptakan suasana hangat dan autentik. Seluruh jalan desa diubah menjadi panggung seni, lengkap dengan pertunjukan tari, musik tradisional, karawitan, dolanan bocah, hingga instalasi seni di setiap sudut.
Pengunjung juga dapat menikmati mini bioskop desa yang memutar film dokumenter yang disutradarai oleh Gita Yohanna Thomdean, menceritakan perjalanan Pemuda Kie Seni dan Kie Art Projects.
Selain itu, pengunjung dihimbau untuk mengenakan busana bergaya stylish dengan sentuhan tradisional seperti kebaya dan batik modern—sebuah upaya menghidupkan kembali kecintaan generasi muda terhadap estetika budaya lokal. Beragam kuliner tradisional khas Purbalingga juga disajikan gratis sebagai bagian dari edukasi budaya.
Peluncuran Buku dan Jingle Terbaru
Lihat Juga :