Dalami Peran di Qorin 2, Fedi Nuril Bayangkan Anaknya Jadi Korban Bully
Selasa, 09 Desember 2025 - 15:09 WIB
loading...
Fedi Nuril tidak hanya beranjak dari zona nyamannya dengan memerankan karakter pembunuh di Qorin 2. Foto/IG Fedi Nuril.
A
A
A
JAKARTA - Fedi Nuril tidak hanya beranjak dari zona nyamannya dengan memerankan karakter pembunuh di Qorin 2. Namun isu yang diangkat dalam film ini soal bullying atau perundungan juga menjadi perhatian Fedi secara khusus sebagai seorang ayah.
Saat ditemui awak media usai press screening Qorin 2 di Epicentrum XXI, Kuningan, Fedi mengungkap bahwa proses mendalami karakter ini membuatnya melakukan refleksi personal, terutama soal kemarahan terpendam dan bayangan terburuk sebagai orang tua.
Baca juga: Fedi Nuril Kritik Penunjukan Ifan Seventeen Jadi Dirut PT PFN: Prestasinya Nggak Jelas!
"Saya pribadi mencari kemarahan-kemarahan terpendam dari saya pribadi yang mungkin di dunia nyata tidak bisa sembarangan dikeluarkan karena ada norma-norma yang membatasi,” ujar Fedi.
Menurutnya, film menjadi ruang aman untuk melampiaskan emosi tersebut secara terkontrol demi kebutuhan cerita dan karakter.
Baca juga: Fedi Nuril Skakmat Politisi yang Bela Jokowi: Pagar Laut Boleh Kita Maklumi Ketidakbecusannya?
Momen yang membuat Fedi semakin emosional adalah ketika membayangkan anak-anaknya berada dalam posisi korban bullying. Fedi mengaku akan sangat marah jika hal buruk itu terjadi pada anaknya.
"Alhamdulillah anak-anak saya sampai sekarang tidak menjadi korban bully dan tidak jadi pembuli. Tapi dengan membayangkan itu saja, itu agak ke-trigger, betapa saya akan marah banget,” ungkapnya.
"Saya mencoba untuk menyayangi mereka sebegitunya. Tapi ketika ada orang lain memperlakukan mereka semena-mena, itu bisa memancing,” tambahnya.
Baca juga: Fedi Nuril Trending di X karena Disebut Star Syndrome, Ini Profil Pendidikannya
Dalam proyek film kali ini, Fedi merasa ada yang berbeda karena membawa pesan sosial yang sangat kuat soal bullying. Ia juga secara tegas menyoroti soal bullying yang dinilainya tak bisa hanya diselesaikan di sekolah, tapi harus ditarik ke akar utama yaitu rumah.
"Semua itu berawal dari rumah. Kalau ada korban bully, rumah harus jadi tempat yang aman dan nyaman buat dia untuk speak up,” tegasnya.
Menurut Fedi, tak hanya bagi korban. Namun rumah juga harus jadi tempat aman bagi pelaku karena banyak pelaku perundungan justru menyimpan luka dari rumah.
"Pembully itu sebenarnya banyaknya korban juga di rumah. Dia dibully di rumah, enggak tahu mesti ngapain, akhirnya dilampiaskan di luar,” katanya.
Untuk itu ia berharap agar masa depan anak-anak bisa lebih diperhatikan, terutama dalam konteks perundungan. Karena keselamatan mental anak adalah hal yang utama.
Melalui film ini ia berharap, pesan soal pentingnya rumah yang aman, sekolah yang peduli, dan keberanian untuk berbicara dapat tersampaikan dengan baik.
“Nama baik itu benda mati. Sedangkan anak-anak ini benda yang bernyawa, masa depan kita ada di mereka,” ujar Fedi.
Saat ditemui awak media usai press screening Qorin 2 di Epicentrum XXI, Kuningan, Fedi mengungkap bahwa proses mendalami karakter ini membuatnya melakukan refleksi personal, terutama soal kemarahan terpendam dan bayangan terburuk sebagai orang tua.
Baca juga: Fedi Nuril Kritik Penunjukan Ifan Seventeen Jadi Dirut PT PFN: Prestasinya Nggak Jelas!
"Saya pribadi mencari kemarahan-kemarahan terpendam dari saya pribadi yang mungkin di dunia nyata tidak bisa sembarangan dikeluarkan karena ada norma-norma yang membatasi,” ujar Fedi.
Menurutnya, film menjadi ruang aman untuk melampiaskan emosi tersebut secara terkontrol demi kebutuhan cerita dan karakter.
Baca juga: Fedi Nuril Skakmat Politisi yang Bela Jokowi: Pagar Laut Boleh Kita Maklumi Ketidakbecusannya?
Momen yang membuat Fedi semakin emosional adalah ketika membayangkan anak-anaknya berada dalam posisi korban bullying. Fedi mengaku akan sangat marah jika hal buruk itu terjadi pada anaknya.
"Alhamdulillah anak-anak saya sampai sekarang tidak menjadi korban bully dan tidak jadi pembuli. Tapi dengan membayangkan itu saja, itu agak ke-trigger, betapa saya akan marah banget,” ungkapnya.
"Saya mencoba untuk menyayangi mereka sebegitunya. Tapi ketika ada orang lain memperlakukan mereka semena-mena, itu bisa memancing,” tambahnya.
Baca juga: Fedi Nuril Trending di X karena Disebut Star Syndrome, Ini Profil Pendidikannya
Dalam proyek film kali ini, Fedi merasa ada yang berbeda karena membawa pesan sosial yang sangat kuat soal bullying. Ia juga secara tegas menyoroti soal bullying yang dinilainya tak bisa hanya diselesaikan di sekolah, tapi harus ditarik ke akar utama yaitu rumah.
"Semua itu berawal dari rumah. Kalau ada korban bully, rumah harus jadi tempat yang aman dan nyaman buat dia untuk speak up,” tegasnya.
Menurut Fedi, tak hanya bagi korban. Namun rumah juga harus jadi tempat aman bagi pelaku karena banyak pelaku perundungan justru menyimpan luka dari rumah.
"Pembully itu sebenarnya banyaknya korban juga di rumah. Dia dibully di rumah, enggak tahu mesti ngapain, akhirnya dilampiaskan di luar,” katanya.
Untuk itu ia berharap agar masa depan anak-anak bisa lebih diperhatikan, terutama dalam konteks perundungan. Karena keselamatan mental anak adalah hal yang utama.
Melalui film ini ia berharap, pesan soal pentingnya rumah yang aman, sekolah yang peduli, dan keberanian untuk berbicara dapat tersampaikan dengan baik.
“Nama baik itu benda mati. Sedangkan anak-anak ini benda yang bernyawa, masa depan kita ada di mereka,” ujar Fedi.
(nnz)
Lihat Juga :