Jaga Mikrobiota Usus Tetap Seimbang, Ini Makanan yang Menyehatkan dan Perlu Dihindari
Minggu, 04 Januari 2026 - 06:30 WIB
loading...
A
A
A
Semakin banyak variasi serat yang dikonsumsi baik dari sayuran, buah, maupun biji-bijian maka makin banyak ragam bakteri. Keanekaragaman bakteri inilah yang seringkali dikaitkan dengan kesehatan pencernaan dan imunitas tubuh.
Produk fermentasi seperti yogurt, kefir, kimchi, dan tempe mengandung probiotik, bakteri baik yang bisa memberi dampak positif pada mikrobiota usus. Probiotik membantu menjaga keseimbangan flora usus, mendukung pencernaan yang lancar, bahkan terkadang membantu meredakan beberapa gejala pencernaan seperti kembung atau sembelit.
Karbohidrat kompleks seperti oatmeal, beras merah, dan quinoa juga mengandung serat dan nutrisi lain yang mendukung bakteri baik. Serat yang lama dicerna ini membantu memastikan makanan datang ke usus besar dalam bentuk yang bisa dimetabolisme oleh bakteri, sehingga memperkaya populasi bakteri sehat.
Konsumsi gula berlebih, termasuk minuman manis, camilan manis, dan makanan olahan, dapat memberi makan bakteri jahat di usus. Ketidakseimbangan ini bisa mengganggu kerja mikrobiota, yang berkaitan dengan masalah pencernaan dan risiko peradangan.
Pola makan tinggi gula sering kali dikaitkan dengan penurunan keragaman bakteri baik, yang menjadi salah satu tanda bahwa kesehatan usus sedang kurang optimal.
Makanan cepat saji dan makanan olahan tinggi lemak jenuh, garam, dan kalori sering kali menghambat keseimbangan bakteri usus. Lemak jenuh yang sangat tinggi bisa memperlambat pencernaan, sementara garam berlebih dapat mengakibatkan mikrobiota menjadi kurang bervariasi.
Untuk itu, pola makan dengan terlalu banyak makanan olahan sering kali mengakibatkan gangguan pencernaan seperti perut kembung, sembelit, atau bahkan peningkatan risiko gangguan metabolik jangka panjang.
Mikrobiota usus bukan hanya terlibat dalam pencernaan makanan tetapu juga memengaruhi sistem imun, suasana hati, dan metabolisme. Ketika keseimbangan bakteri sehat terganggu, tubuh dapat menunjukkan gejala dari gangguan pencernaan seperti diare atau sembelit, hingga perubahan mood dan energi.
2.Makanan Fermentasi
Produk fermentasi seperti yogurt, kefir, kimchi, dan tempe mengandung probiotik, bakteri baik yang bisa memberi dampak positif pada mikrobiota usus. Probiotik membantu menjaga keseimbangan flora usus, mendukung pencernaan yang lancar, bahkan terkadang membantu meredakan beberapa gejala pencernaan seperti kembung atau sembelit.
3. Biji-bijian Utuh
Karbohidrat kompleks seperti oatmeal, beras merah, dan quinoa juga mengandung serat dan nutrisi lain yang mendukung bakteri baik. Serat yang lama dicerna ini membantu memastikan makanan datang ke usus besar dalam bentuk yang bisa dimetabolisme oleh bakteri, sehingga memperkaya populasi bakteri sehat.
Makanan yang Perlu Diwaspadai karena Dampak Negatif
1.Makanan Tinggi Gula dan Gula Tambahan
Konsumsi gula berlebih, termasuk minuman manis, camilan manis, dan makanan olahan, dapat memberi makan bakteri jahat di usus. Ketidakseimbangan ini bisa mengganggu kerja mikrobiota, yang berkaitan dengan masalah pencernaan dan risiko peradangan.
Pola makan tinggi gula sering kali dikaitkan dengan penurunan keragaman bakteri baik, yang menjadi salah satu tanda bahwa kesehatan usus sedang kurang optimal.
2. Makanan Olahan Tinggi Lemak, Garam, dan Kalori
Makanan cepat saji dan makanan olahan tinggi lemak jenuh, garam, dan kalori sering kali menghambat keseimbangan bakteri usus. Lemak jenuh yang sangat tinggi bisa memperlambat pencernaan, sementara garam berlebih dapat mengakibatkan mikrobiota menjadi kurang bervariasi.
Untuk itu, pola makan dengan terlalu banyak makanan olahan sering kali mengakibatkan gangguan pencernaan seperti perut kembung, sembelit, atau bahkan peningkatan risiko gangguan metabolik jangka panjang.
Mikrobiota usus bukan hanya terlibat dalam pencernaan makanan tetapu juga memengaruhi sistem imun, suasana hati, dan metabolisme. Ketika keseimbangan bakteri sehat terganggu, tubuh dapat menunjukkan gejala dari gangguan pencernaan seperti diare atau sembelit, hingga perubahan mood dan energi.
(nnz)
Lihat Juga :