Brand Lokal Edness Siap Gebrak Industri Fesyen Nasional
Senin, 12 Januari 2026 - 09:42 WIB
loading...
A
A
A
Dalam hal desain dan produksi, Edness mengunggulkan kenyamanan dan relevansi sebagai nilai utama. Kayla menyebut kualitas bahan, konstruksi potongan, hingga pemilihan detail menjadi prioritas agar pengguna merasa percaya diri sekaligus nyaman. “Keunggulan Edness by Kayla ada pada kualitas bahan, potongan yang nyaman, dan desain yang relevan dengan kebutuhan perempuan,” tuturnya.
Menariknya, perjalanan Edness bukanlah fenomena instan. Edness tumbuh melalui interaksi jangka panjang dengan pelanggan. Selama 14 tahun, brand ini menjalin hubungan erat dengan reseller dan konsumen yang memberi masukan langsung terhadap produk. “Kami tumbuh bersama reseller dan pelanggan selama 14 tahun, sehingga setiap produk dibuat berdasarkan pengalaman dan masukan langsung dari pelanggan kami,” imbuhnya.
Strategi tersebut membuat Edness memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasar, terutama perempuan usia produktif yang membutuhkan pakaian praktis, aman, dan tetap stylish. Ednes juga memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluas akses bagi konsumen yang berada di luar kota besar, terutama di era ekonomi digital yang kian berkembang.
Dengan ekosistem bisnis berbasis digital, desain yang adaptif, serta komitmen terhadap pemberdayaan perempuan, Edness optimistis dapat berkontribusi dalam memajukan industri fesyen nasional. Kayla menyatakan pihaknya akan terus memperkuat kanal distribusi, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas kolaborasi dengan pelaku UMKM dan komunitas untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Staf Khusus Wakil Ketua DPD Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Kartini Amir menilai industri fesyen Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan. Bahkan berpotensi menjadi kiblat mode baru di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif karena kekayaan budaya yang melimpah menjadi sumber inspirasi desain. Hal ini membuat karya fesyen lokal memiliki karakter kuat dan berbeda dari produk negara lain. “Brand fesyen lokal kita diminati karena punya detail craftsmanship dan cerita budaya yang unik,” ujarnya.
Menariknya, perjalanan Edness bukanlah fenomena instan. Edness tumbuh melalui interaksi jangka panjang dengan pelanggan. Selama 14 tahun, brand ini menjalin hubungan erat dengan reseller dan konsumen yang memberi masukan langsung terhadap produk. “Kami tumbuh bersama reseller dan pelanggan selama 14 tahun, sehingga setiap produk dibuat berdasarkan pengalaman dan masukan langsung dari pelanggan kami,” imbuhnya.
Strategi tersebut membuat Edness memiliki kepekaan terhadap kebutuhan pasar, terutama perempuan usia produktif yang membutuhkan pakaian praktis, aman, dan tetap stylish. Ednes juga memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk memperluas akses bagi konsumen yang berada di luar kota besar, terutama di era ekonomi digital yang kian berkembang.
Dengan ekosistem bisnis berbasis digital, desain yang adaptif, serta komitmen terhadap pemberdayaan perempuan, Edness optimistis dapat berkontribusi dalam memajukan industri fesyen nasional. Kayla menyatakan pihaknya akan terus memperkuat kanal distribusi, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas kolaborasi dengan pelaku UMKM dan komunitas untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Staf Khusus Wakil Ketua DPD Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Kartini Amir menilai industri fesyen Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan. Bahkan berpotensi menjadi kiblat mode baru di kawasan Asia Tenggara.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif karena kekayaan budaya yang melimpah menjadi sumber inspirasi desain. Hal ini membuat karya fesyen lokal memiliki karakter kuat dan berbeda dari produk negara lain. “Brand fesyen lokal kita diminati karena punya detail craftsmanship dan cerita budaya yang unik,” ujarnya.
Lihat Juga :