Mengenal Grooming, Kondisi yang Dialami Aurelie Moeremans Sejak Usia 15 Tahun
Senin, 12 Januari 2026 - 14:55 WIB
loading...
Aurelie Moremans mendapatkan perlakukan grooming sejak usia 15 tahun. Foto/Instagram
A
A
A
JAKARTA - Aktris Aurelie Moeremans saat ini sedang menjadi sorotan usai mengungkap pengalaman dirinya yang mengalami grooming sejak usia 15 tahun. Hal itu dituangkan Aurelie lewat karya buku yang ia tulis berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth.
Pengalaman grooming yang dialami istri Tyler Bigenho ini sontak menuai simpati warganet. Kisah manipulatif hingga pengalaman traumatis juga diceritakan Aurelie dalam bukunya.
Baca Juga : Roby Tremonti Dituding sebagai Sosok “Bobby” dalam Buku Aurelie Moeremans, Warganet Serukan Boikot
Seiring berkembangnya teknologi dan media sosial, praktik grooming semakin mudah dilakukan dan sulit terdeteksi. Dalam konteks kriminal, grooming biasanya dilakukan oleh pelaku (disebut groomer) dengan tahapan yang terencana, seperti:
Mencari target
Pelaku memilih korban yang dianggap rentan, misalnya anak yang kurang perhatian, kesepian, atau aktif di media sosial.
Membangun kepercayaan
Pelaku bersikap ramah, perhatian, memberi pujian, hadiah, atau dukungan emosional agar korban merasa aman dan nyaman.
Menciptakan ikatan emosional
Korban dibuat merasa spesial dan bergantung secara emosional pada pelaku.
Normalisasi perilaku tidak pantas
Pelaku mulai memperkenalkan pembicaraan, gambar, atau permintaan yang bersifat seksual secara bertahap.
Eksploitasi
Pada tahap ini, pelaku dapat memeras, mengancam, atau memaksa korban melakukan tindakan seksual, baik secara online maupun offline.
Baca Juga : Aurelie Moeremans Senang Broken Strings Akan Difilmkan: Ada Beberapa PH Tertarik
Salah satu dampak paling serius dari grooming adalah gangguan psikologis. Korban dapat mengalami trauma mendalam, terutama jika eksploitasi berlanjut dalam waktu lama depresi dan kecemasan, rasa bersalah dan malu, meskipun korban bukan pihak yang bersalah
Tindakan grooming ini juga dapat memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD), hilangnya rasa percaya diri dan kepercayaan terhadap orang lain. Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan korban sehari-hari jika tidak ditangani secara profesional.
Secara emosional, korban grooming sering mengalami kebingungan perasaan. Pelaku biasanya membuat korban merasa disayangi, sehingga korban kesulitan menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Pentingnya Dukungan dan Pencegahan
Korban grooming membutuhkan dukungan dari keluarga, tenaga profesional, dan lingkungan yang aman. Pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi, pengawasan yang bijak terhadap aktivitas digital, serta komunikasi terbuka antara anak dan orang dewasa.
Pengalaman grooming yang dialami istri Tyler Bigenho ini sontak menuai simpati warganet. Kisah manipulatif hingga pengalaman traumatis juga diceritakan Aurelie dalam bukunya.
Lantas, apa itu perlakuan grooming yang dialami Aurelie Moeremans sejak usia 15 tahun?
Grooming adalah proses pendekatan yang dilakukan seseorang untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan kedekatan emosional dengan korban, dengan tujuan memanipulasi atau mengeksploitasi korban tersebut. Istilah ini paling sering digunakan untuk menggambarkan kejahatan seksual, khususnya terhadap anak-anak dan remaja, baik secara langsung maupun melalui media digital.Baca Juga : Roby Tremonti Dituding sebagai Sosok “Bobby” dalam Buku Aurelie Moeremans, Warganet Serukan Boikot
Seiring berkembangnya teknologi dan media sosial, praktik grooming semakin mudah dilakukan dan sulit terdeteksi. Dalam konteks kriminal, grooming biasanya dilakukan oleh pelaku (disebut groomer) dengan tahapan yang terencana, seperti:
Mencari target
Pelaku memilih korban yang dianggap rentan, misalnya anak yang kurang perhatian, kesepian, atau aktif di media sosial.
Membangun kepercayaan
Pelaku bersikap ramah, perhatian, memberi pujian, hadiah, atau dukungan emosional agar korban merasa aman dan nyaman.
Menciptakan ikatan emosional
Korban dibuat merasa spesial dan bergantung secara emosional pada pelaku.
Normalisasi perilaku tidak pantas
Pelaku mulai memperkenalkan pembicaraan, gambar, atau permintaan yang bersifat seksual secara bertahap.
Eksploitasi
Pada tahap ini, pelaku dapat memeras, mengancam, atau memaksa korban melakukan tindakan seksual, baik secara online maupun offline.
Baca Juga : Aurelie Moeremans Senang Broken Strings Akan Difilmkan: Ada Beberapa PH Tertarik
Salah satu dampak paling serius dari grooming adalah gangguan psikologis. Korban dapat mengalami trauma mendalam, terutama jika eksploitasi berlanjut dalam waktu lama depresi dan kecemasan, rasa bersalah dan malu, meskipun korban bukan pihak yang bersalah
Tindakan grooming ini juga dapat memicu gangguan stres pascatrauma (PTSD), hilangnya rasa percaya diri dan kepercayaan terhadap orang lain. Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan korban sehari-hari jika tidak ditangani secara profesional.
Secara emosional, korban grooming sering mengalami kebingungan perasaan. Pelaku biasanya membuat korban merasa disayangi, sehingga korban kesulitan menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Pentingnya Dukungan dan Pencegahan
Korban grooming membutuhkan dukungan dari keluarga, tenaga profesional, dan lingkungan yang aman. Pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi, pengawasan yang bijak terhadap aktivitas digital, serta komunikasi terbuka antara anak dan orang dewasa.
(wur)
Lihat Juga :