Film Danur: The Last Chapter, Suka Duka 1 Dekade Prilly Latuconsina Perankan Risa Saraswati
Jum'at, 16 Januari 2026 - 16:44 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
Aktris Prilly Latuconsina tahun ini menandai satu dekade memerankan Risa Saraswati dalam waralaba film Danur. Kini, Danur: The Last Chapter karya sineas Awi Suryadi siap tayang di bioskop seluruh Indonesia pada libur Lebaran 2026 bersama lima film nasional lainnya.
Danur: The Last Chapter menandai perpisahan Prilly Latuconsina dan Risa Saraswati lantaran film ini menjadi penutup dari rangkaian kisah dari Danur Semesta yang sebelumnya hadir lewat Danur: I Can See Ghost (2017), Danur 2: Maddah (2018), dan Danur 3: Sunyaruri (2019).
"Masih sampai syuting terakhir yang paling sulit adalah kadang tuh kalau baca skrip aku tuh bingung reaksi Risa kalau ketemu sama hantu tuh harus seperti apa begitu," ujar Prilly Latuconsina dalam peluncuran trailer dan poster film Danur: The Last Chapter di Agora Mall,
Terlebih dalam Danur: The Last Chapter diceritakan bahwa karakter Risa akhirnya kembali bertemu dengan teman-teman hantunya.
Sementara, Prilly sendiri tak memiliki kemampuan untuk melihat makhluk astral di kehidupan nyata, sehingga dia merasa tertantang untuk mendalami karakternya dalam film terbarunya tersebut.
"Jadi, sudah lama enggak syuting, sudah lama enggak ngobrol sama Teh Risa. Ada beberapa adegan tuh yang kayak, 'bagaimana ya perasaan Risa pas ketemu lagi sama Peter Cs (teman hantu)?'. Atau 'bagaimana perasaan Risa ketika ketemu sama hantu yang mukanya seram? Takut enggak ya atau enggak?," tuturnya.
"Karena kan Teh Risa sudah biasa berkomunikasi dengan mereka dari dulu. Apakah melihat hantu itu jadi sesuatu hal yang mengagetkan atau sebenernya udah biasa aja? Bagaimana cara nahan takutnya? Nah aku kan enggak punya pengalaman yang sama kayak Teh Risa ya," sambungnya.
Baginya, hal itu menjadi tantangan tersendiri dalam mendalami perannya tersebut. Kekasih Omara Esteghlal itu kerap berdiskusi dengan sang sutradara, Awi Suryadi demi memberikan penampilan yang maksimal.
"Aku sama sekali enggak sensitif atau enggak punya pengalaman yang bagaimana-bagaimana. Jadi, untuk menyambungkan logika aku dan apa yang Teh Risa alami di dunia nyata tuh juga lumayan sulit begitu. Makanya biasanya aku diskusinya sama Pak Awi," ucap Prilly Latuconsina.
Dalam kesempatan itu, bintang sinetron Ganteng Ganteng Serigala ini mengatakan, tak menyangka Danur punya jagat sinema sendiri.
“Pertama, aku enggak menyangka Danur punya universe dan ternyata jagat sinemanya punya penonton setia. Karena mereka nungguin terus lanjutan cerita dan spinoff yang ada didalamnya,” kata Prilly Latuconsina.
Di sisi lain, bintang film Kukira Kau Rumah sejak awal yakin Danur: I Can See Ghosts bisa sukses namun tak menyangka penggemar buku bisa bertumbuh menjadi penonton di bioskop. Danur: I Can See Ghosts dan sekuel-sekuelnya mengubah wajah karier Prilly Latuconsina.
Tak hanya menjadi titik balik karier Prilly Latuconsina sebagai aktris layar lebar, Danur mengubah wajah industri film horor Indonesia. Dulu, horor lokal mencari 1 juta penonton saja susah. Danur: I Can See Ghosts berakhir dengan 2,7 jutaan penonton.
“Ternyata, Danur menjadi awal baru bahwa film horor bisa diproduksi dan berkualitas. Enggak ada citra horor ecek-ecek. Setelah Danur, banyak film horor bagus sampai hari ini. Jadi, Danur bukan hanya berpengaruh untuk karier saya tapi juga horor lain,” ujarnya.
Prilly Latuconsina seperti flashback balik kariernya yang dibesarkan dari sinetron. Dulu, ada stigma artis sinetron tak layak di film. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk membuktikan stigma ini keliru. Danur: I Can See Ghosts membuktikan, sebagai pemeran utama, Prilly Latuconsina bisa.
Tak hanya mampu menunjukkan akting, tapi mampu mendatangkan berjuta penonton. “Enggak banyak yang yakin saya bisa akting karena waktu itu, 10 tahun lalu, stigma bahwa bintang sinetron enggak pantas di film itu ada. Enggak kayak sekarang,” Prilly Latuconsina.
“Kalau sekarang, semua punya kesempatan yang sama. Dulu, dari sinetron ke film, orang banyak ragu. Banyak komentar di medsos begini: Tapi kan dia pemain sinetron, memang bisa main film? Kan beda cara syuting sinetron dan film,”sambungnya.
Tak hanya ciamik di tangga “box office,” performa Prilly Latuconsina di layar lebar pun telah diganjar Piala Citra Pemeran Pendukung Wanita Terbaik lewat film Budi Pekerti. Layar lebar kini menjadi tempat Prilly Latuconsina berkreasi sebagai aktris maupun produser.
Disutradarai oleh Awi Suryadi, film Danur: The Last Chapter kembali diperankan oleh Prilly Latuconsina.
Selain Prilly, ada pula Zee Asadel sebagai Riri, Dito Darmawan sebagai Dimas, Anya Zen sebagai Canting, Lewis Robert sebagai Peter, Muhammad Fauzan sebagai William, Zachary Ayden sebagai Hans, Said Darian Rizqi sebagai Hendrik, dan Fillio Dheno sebagai Jansen.
Kemudian, ada Gilang Devialdy, Fajar Nugra, Dian Nitami, McDanny, Dini Savitri, hingga Martina.
Danur: The Last Chapter menandai perpisahan Prilly Latuconsina dan Risa Saraswati lantaran film ini menjadi penutup dari rangkaian kisah dari Danur Semesta yang sebelumnya hadir lewat Danur: I Can See Ghost (2017), Danur 2: Maddah (2018), dan Danur 3: Sunyaruri (2019).
"Masih sampai syuting terakhir yang paling sulit adalah kadang tuh kalau baca skrip aku tuh bingung reaksi Risa kalau ketemu sama hantu tuh harus seperti apa begitu," ujar Prilly Latuconsina dalam peluncuran trailer dan poster film Danur: The Last Chapter di Agora Mall,
Terlebih dalam Danur: The Last Chapter diceritakan bahwa karakter Risa akhirnya kembali bertemu dengan teman-teman hantunya.
Sementara, Prilly sendiri tak memiliki kemampuan untuk melihat makhluk astral di kehidupan nyata, sehingga dia merasa tertantang untuk mendalami karakternya dalam film terbarunya tersebut.
"Jadi, sudah lama enggak syuting, sudah lama enggak ngobrol sama Teh Risa. Ada beberapa adegan tuh yang kayak, 'bagaimana ya perasaan Risa pas ketemu lagi sama Peter Cs (teman hantu)?'. Atau 'bagaimana perasaan Risa ketika ketemu sama hantu yang mukanya seram? Takut enggak ya atau enggak?," tuturnya.
"Karena kan Teh Risa sudah biasa berkomunikasi dengan mereka dari dulu. Apakah melihat hantu itu jadi sesuatu hal yang mengagetkan atau sebenernya udah biasa aja? Bagaimana cara nahan takutnya? Nah aku kan enggak punya pengalaman yang sama kayak Teh Risa ya," sambungnya.
Baginya, hal itu menjadi tantangan tersendiri dalam mendalami perannya tersebut. Kekasih Omara Esteghlal itu kerap berdiskusi dengan sang sutradara, Awi Suryadi demi memberikan penampilan yang maksimal.
"Aku sama sekali enggak sensitif atau enggak punya pengalaman yang bagaimana-bagaimana. Jadi, untuk menyambungkan logika aku dan apa yang Teh Risa alami di dunia nyata tuh juga lumayan sulit begitu. Makanya biasanya aku diskusinya sama Pak Awi," ucap Prilly Latuconsina.
Dalam kesempatan itu, bintang sinetron Ganteng Ganteng Serigala ini mengatakan, tak menyangka Danur punya jagat sinema sendiri.
“Pertama, aku enggak menyangka Danur punya universe dan ternyata jagat sinemanya punya penonton setia. Karena mereka nungguin terus lanjutan cerita dan spinoff yang ada didalamnya,” kata Prilly Latuconsina.
Di sisi lain, bintang film Kukira Kau Rumah sejak awal yakin Danur: I Can See Ghosts bisa sukses namun tak menyangka penggemar buku bisa bertumbuh menjadi penonton di bioskop. Danur: I Can See Ghosts dan sekuel-sekuelnya mengubah wajah karier Prilly Latuconsina.
Tak hanya menjadi titik balik karier Prilly Latuconsina sebagai aktris layar lebar, Danur mengubah wajah industri film horor Indonesia. Dulu, horor lokal mencari 1 juta penonton saja susah. Danur: I Can See Ghosts berakhir dengan 2,7 jutaan penonton.
“Ternyata, Danur menjadi awal baru bahwa film horor bisa diproduksi dan berkualitas. Enggak ada citra horor ecek-ecek. Setelah Danur, banyak film horor bagus sampai hari ini. Jadi, Danur bukan hanya berpengaruh untuk karier saya tapi juga horor lain,” ujarnya.
Prilly Latuconsina seperti flashback balik kariernya yang dibesarkan dari sinetron. Dulu, ada stigma artis sinetron tak layak di film. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk membuktikan stigma ini keliru. Danur: I Can See Ghosts membuktikan, sebagai pemeran utama, Prilly Latuconsina bisa.
Tak hanya mampu menunjukkan akting, tapi mampu mendatangkan berjuta penonton. “Enggak banyak yang yakin saya bisa akting karena waktu itu, 10 tahun lalu, stigma bahwa bintang sinetron enggak pantas di film itu ada. Enggak kayak sekarang,” Prilly Latuconsina.
“Kalau sekarang, semua punya kesempatan yang sama. Dulu, dari sinetron ke film, orang banyak ragu. Banyak komentar di medsos begini: Tapi kan dia pemain sinetron, memang bisa main film? Kan beda cara syuting sinetron dan film,”sambungnya.
Tak hanya ciamik di tangga “box office,” performa Prilly Latuconsina di layar lebar pun telah diganjar Piala Citra Pemeran Pendukung Wanita Terbaik lewat film Budi Pekerti. Layar lebar kini menjadi tempat Prilly Latuconsina berkreasi sebagai aktris maupun produser.
Disutradarai oleh Awi Suryadi, film Danur: The Last Chapter kembali diperankan oleh Prilly Latuconsina.
Selain Prilly, ada pula Zee Asadel sebagai Riri, Dito Darmawan sebagai Dimas, Anya Zen sebagai Canting, Lewis Robert sebagai Peter, Muhammad Fauzan sebagai William, Zachary Ayden sebagai Hans, Said Darian Rizqi sebagai Hendrik, dan Fillio Dheno sebagai Jansen.
Kemudian, ada Gilang Devialdy, Fajar Nugra, Dian Nitami, McDanny, Dini Savitri, hingga Martina.
(unt)
Lihat Juga :