Waduh, Menkes Sebut 28 Juta Penduduk Indonesia Alami Masalah Kejiwaan
Jum'at, 23 Januari 2026 - 15:41 WIB
loading...
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan sekitar 28 juta penduduk di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Foto/Kemenkes.
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa sekitar 28 juta penduduk Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Kesehatan dalam Rapat Bersama Komisi IX DPR RI pada Senin, 19 Januari 2026.
Ia mengatakan bahwa hal tersebut berdasarkan data WHO yang mengungkap bahwa satu dari delapan sampai satu dari 10 penduduk di Indonesia mengalami masalah kejiwaan.
“Jadi kalau Indonesia 280 juta, ya minimal 28 juta itu punya masalah kejiwaan,” kata Budi dikutip dari siaran TVR Parlemen, Jumat (23/1/2026).
Baca juga: Pesan Menkes BGS untuk Perempuan: Jangan Mau Sama Cowok Perokok
Ia menjelaskan, masalah kejiwaan yang dialami masyarakat diantaranya seperti depresi disorder, anxiety disorder, ADHD sampai schizophrenia.
“Bisa itu depresi, disorder atau anxiety disorder yang lebih berat ada ada ADHD, schizophrenia ada penyakit-penyakit jiwa itu ada banyak juga,” ucap dia.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa berdasarkan data hasil screening dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) besutan Presiden Prabowo Subianto masih rendah.
Baca juga: Menkes Terjunkan 600 Dokter Magang hingga Spesialis ke Wilayah Terdampak Bencana di Sumatera dan Aceh
“Angkanya masih di sekitar 5, di bawah 1 persen untuk dewasa dan anak-anak 5 persen,” tegas Budi.
Angka tersebut bisa menjadi patokan bagi pemerintah kedepannya agar bisa membuat kebijakan terkait banyaknya masyarakat yang mengalami masalah kejiwaan. Apalagi WHO sendiri telah mengungkap satu dari 10 penduduk di Indonesia mempunyai masalah kejiwaan.
“Ya, tapi dengan screen ini kita sudah tahu,” cetus dia.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek, pihaknya telah menurunkan tatalaksana penanganan masalah kejiwaan ke tingkap puskesmas. Obat-obat khusus kejiwaan serta konsultasi psikologi sudah mulai tersedia di puskesmas.
“Kita juga sudah mulai menurunkan karena jiwa itu enggak pernah ada di Puskesmas tata laksananya. Sekarang kita sudah bikin tata laksananya baik yang membutuhkan farmasi, obat-obatan atau yang membutuhkan kan psikologi, konseling,” pungkas dia.
Ia mengatakan bahwa hal tersebut berdasarkan data WHO yang mengungkap bahwa satu dari delapan sampai satu dari 10 penduduk di Indonesia mengalami masalah kejiwaan.
“Jadi kalau Indonesia 280 juta, ya minimal 28 juta itu punya masalah kejiwaan,” kata Budi dikutip dari siaran TVR Parlemen, Jumat (23/1/2026).
Baca juga: Pesan Menkes BGS untuk Perempuan: Jangan Mau Sama Cowok Perokok
Ia menjelaskan, masalah kejiwaan yang dialami masyarakat diantaranya seperti depresi disorder, anxiety disorder, ADHD sampai schizophrenia.
“Bisa itu depresi, disorder atau anxiety disorder yang lebih berat ada ada ADHD, schizophrenia ada penyakit-penyakit jiwa itu ada banyak juga,” ucap dia.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa berdasarkan data hasil screening dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) besutan Presiden Prabowo Subianto masih rendah.
Baca juga: Menkes Terjunkan 600 Dokter Magang hingga Spesialis ke Wilayah Terdampak Bencana di Sumatera dan Aceh
“Angkanya masih di sekitar 5, di bawah 1 persen untuk dewasa dan anak-anak 5 persen,” tegas Budi.
Angka tersebut bisa menjadi patokan bagi pemerintah kedepannya agar bisa membuat kebijakan terkait banyaknya masyarakat yang mengalami masalah kejiwaan. Apalagi WHO sendiri telah mengungkap satu dari 10 penduduk di Indonesia mempunyai masalah kejiwaan.
“Ya, tapi dengan screen ini kita sudah tahu,” cetus dia.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek, pihaknya telah menurunkan tatalaksana penanganan masalah kejiwaan ke tingkap puskesmas. Obat-obat khusus kejiwaan serta konsultasi psikologi sudah mulai tersedia di puskesmas.
“Kita juga sudah mulai menurunkan karena jiwa itu enggak pernah ada di Puskesmas tata laksananya. Sekarang kita sudah bikin tata laksananya baik yang membutuhkan farmasi, obat-obatan atau yang membutuhkan kan psikologi, konseling,” pungkas dia.
(nnz)
Lihat Juga :