Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua

Selasa, 30 Juni 2026 - 21:50 WIB
loading...
Mencicipi Lima Abad...
Blue Moon Hall, ballroom multifungsi dengan teras menghadap jalan raya dan Kali Besar. Foto-foto: IMG/Armydian Kurniawan
A A A
JAKARTA - Tepat setahun menjelang lima abad Jakarta, banyak orang merayakan perjalanan panjang Ibu Kota dengan mengunjungi bangunan bersejarah, museum, atau kawasan Kota Tua . Namun ada cara lain untuk menelusuri jejak perjalanan panjang Jakarta, yakni melalui rasa. Di Kota Tua, sejarah ternyata tidak hanya tersimpan dalam arsip, artefak, dan bangunan kolonial, tetapi juga hidup di atas meja makan, secangkir kopi, hingga resep-resep yang diwariskan lintas generasi.

Setelah menelusuri kanal Batavia, kisah Peranakan, ruang-ruang bersejarah, jejak Bung Karno, hingga cerita Charlie Chaplin di House of Tugu Old Town Jakarta, perjalanan kali ini berlanjut ke sisi yang lebih hangat dan personal. Bukan lagi tentang tokoh atau artefak, melainkan tentang bagaimana budaya Peranakan, Nusantara, dan warisan Jakarta diterjemahkan menjadi pengalaman kuliner yang dapat dinikmati setiap tamu.

Malam mulai turun ketika kami singgah di Jajaghu Restaurant, House of Tugu. Restoran ini menjadi salah satu pusat aktivitas kuliner di kompleks tersebut. Buka mulai pukul 12.00 WIB hingga 23.00 WIB. Namun tempat ini lebih dari sekadar ruang makan. Berbagai artefak dan kisah sejarah tetap hadir di antara meja-meja tamu.

Baca Juga : Menembus Lima Abad Sejarah Jakarta dari Kamar House of Tugu di Kota Tua

Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua

Batang, dahan dan ranting asli pohon maja yang diawetkan menjadi dekorasi interior nan eksotis di Jajaghu Restaurant.

Pada salah satu sisi ruangan berdiri patung besar Raja Kertanegara yang memerintah Singasari pada 1268 hingga 1292. Patung tersebut berdiri tegak di antara batang, dahan dan ranting asli pohon maja yang dicat putih sebagai dekor di seantero dinding bagian atas restoran. Pohon itu ditemukan saat proses renovasi bangunan tua ini. "Kami mempertahankan bagian pohon aslinya," kata Indriana Amanda Ticoalu, Guest Relation Manager House of Tugu Old Town Jakarta.

Cabang-cabang pohon yang ditemukan tidak dibuang. Sebaliknya, bagian tersebut diawetkan dan dijadikan elemen interior. Ketika cahaya lampu menerangi bagian atasnya, bentuk bagian pohon itu menghadirkan karakter yang berbeda dibanding restoran pada umumnya.

Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua

Set menu Peranakan Afternoon Tea terdiri atas aneka kue basah jajanan pasar plus es campur khas Tugu.

Saat itu jadwal Peranakan Afternoon Tea sebenarnya sudah terlewat. Paket tersebut biasa disajikan pukul 16.00 WIB. Namun karena hotel tour berlangsung cukup panjang, afternoon tea akhirnya disajikan bersamaan dengan makan malam.

Amanda menjelaskan tradisi minum teh sore dengan camilan ringan lahir dari proses akulturasi panjang masyarakat Peranakan di Nusantara. "Ini penghormatan untuk warisan budaya Peranakan," ujarnya.

Baca Juga : Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin di Kota Tua Jakarta

Menu yang tersaji menghadirkan berbagai resep turun-temurun. Kue putu, lapis jongkong, cantik manis, talam ubi, hingga es campur khas Tugu hadir dalam satu rangkaian. Hidangan modern juga muncul melalui smoked rawon dan short rib bao serta balinese ayam pelala. Harga paket Peranakan Afternoon Tea dipatok Rp225 ribu per orang.

Nasi Tumpeng Merdeka dan Kopi dari Lereng Kelud

Mencicipi Lima Abad Jakarta dari Meja Makan, Warisan Kuliner Peranakan di Kota Tua

Nasi Tumpeng Merdeka, menu utama makan malam.

Makan malam berlanjut dengan menu andalan bernama Nasi Tumpeng Merdeka. Hidangan utama tersebut mengusung tagline "Bhinneka Rasa, Satu Bangsa". Filosofinya mencerminkan keberagaman Indonesia dalam satu meja makan.

Nasi merah dan nasi gurih menjadi pusat sajian. Di sekelilingnya tersusun daging sapi cabai hijau, bebek betutu, udang bumbu rujak, urap sayur, lodeh, dan peyek kacang. Pilihan sambalnya juga beragam. Mulai sambal kecombrang, matah, dabu-dabu, bajak, lado mudo, hingga sambal ikan jambal.

Sebelum hidangan utama, tamu disuguhi red snapper kecombrang crudo. Setelah itu hadir minced lamb la lot in kailan leaf. Pada penghujung santap malam, sticky oolong toffee pudding dan coconut pineapple island menjadi penutup. "Menu kami banyak terinspirasi perjalanan budaya Nusantara," kata Amanda. Selepas makan malam kami pun kembali ke kamar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menjelajah Batavia Lama,...
Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin di Kota Tua Jakarta
Menembus Lima Abad Sejarah...
Menembus Lima Abad Sejarah Jakarta dari Kamar House of Tugu di Kota Tua
Ini Destinasi Ramah...
Ini Destinasi Ramah Anak untuk Mengisi Liburan Sekolah di Jakarta
16 Seniman Kontemporer...
16 Seniman Kontemporer Indonesia Boyong Skena Seni Jakarta ke Jepang
Pianis Dunia Rueibin...
Pianis Dunia Rueibin Chen Akan Tampil di Jakarta, Bawakan Mahakarya Brahms
Festival Jakarta Great...
Festival Jakarta Great Sale 2026 Hadirkan Cerita Belanja Menuju 5 Abad Jakarta
Penampakan Tiang dan...
Penampakan Tiang dan Tangga JPO Tendean Dipotong Petugas Gabungan
Bayar Pajak Kendaraan...
Bayar Pajak Kendaraan Bisa di PRJ 2026, Denda Dihapus hingga 31 Agustus
MNC University Gelar...
MNC University Gelar Seminar The Future of Jakarta: JAKI Smart City Innovation & Digital Public Service, Kupas Inovasi Layanan Publik Digital
Rekomendasi
Wamenag: Pencegahan...
Wamenag: Pencegahan LGBT Akan Masuk Kurikulum Mulai Kelas 4 SD
Raih Doktor di Unair,...
Raih Doktor di Unair, Pangi Chaniago Tawarkan Model Baru Jelaskan Split Ticket Voting di Indonesia
Mayjen TNI (Purn) Prihati...
Mayjen TNI (Purn) Prihati Pujowaskito Uji Disertasi Doktor Johan Akbari di Universitas Bhayangkara
Berita Terkini
First Look Ibra The...
First Look Ibra The Movie: Menembus Langit, Mengungkap Masa Lalu
Setelah Sintya Marisca,...
Setelah Sintya Marisca, VISION+ Perkenalkan Jeremie Tobing di First Look My Chef in Crime
Mas Den Akui Jadi Satu-Satunya...
Mas Den Akui Jadi Satu-Satunya yang Tersisa, Kisah Keluarganya Diduga Jadi Korban Santet Bikin Syok!
Reza Arap Ungkap Momen...
Reza Arap Ungkap Momen Paling Berkesan Bersama Lula Lahfah saat Syuting Harusnya Horror
Sinopsis Terlanjur Mencintaimu...
Sinopsis 'Terlanjur Mencintaimu' Eps 18 : Penyelidikan Wahyu Menemui Jalan Buntu
Reza Arap Bawa Buket...
Reza Arap Bawa Buket Bunga Matahari untuk Kenang Lula Lahfah di Rilis Film Harusnya Horror
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved