Edukasi Masyarakat, Kental Manis Diusulkan Masuk Materi Penyuluhan Posyandu
Kamis, 17 September 2020 - 07:49 WIB
loading...
A
A
A
“Kami telah mengedukasi masyarakat di 20 kota di Indonesia, dan hampir di setiap wilayah kami mendapati balita mengkonsumsi kental manis. Ada yang beralasan faktor ekonomi karena harga kental manis lebih terjangkau, ada juga yang menjadikan alasan karena ASI nya tidak keluar. Intinya, masyarakat kita belum teredukasi mana yang boleh diberikan dan mana yang seharusnya tidak dikonsumsi anak,” imbuh Yuli.
Sementara di Cilengsi, rata-rata anak yang mengkonsumsi kental manis berat badannya berada di bawah garis merah pada KMS. Sebelumnya di Desa Cileleus , Kab. Tangerang, balita usia 2 tahun bernama Tegar, didiagnosis gizi buruk. Diusianya yang menginjak 2,5 tahun, beratnya hanya 8 kg. Idealnya, balita laki-laki usia 2 tahun memiliki berat badan 10 – 15 kg. Tegar telah lama mengkonsumsi kental manis. Secara umum, penyebabnya sama, yaitu penghasilan orang tua yang tidak tetap mengakibatkan ketidak mampuan memberikan asupan gizi yang tepat untuk anak.
Tidak jarang, kata Yuli, kader posyandu juga mengaku baru mengetahui fakta kandungan kental manis yang lebih banyak gula daripada protein dan zat gizi lainnya.
“Mereka (kader Posyandu) sadar rasanya manis, namun tidak paham bahwa zat gizinya sangat rendah, rata-rata mereka juga belum mengetahui mengenai larangan BPOM tentang kental manis,” jelas Yuli. (Baca juga: Waspada! Anak Lemas dan Tak Konsentrasi Bisa Jadi Kurang Zat Gizi Mikro )
Sementara, Kepala UPT Puskesmas Parung, dr Dini Sri Agustin mengakui pengetahuan tentang susu tidak termasuk dalam materi penyuluhan Posyandu di wilayah yang menjadi binaan Puskesmas Parung.
Sementara di Cilengsi, rata-rata anak yang mengkonsumsi kental manis berat badannya berada di bawah garis merah pada KMS. Sebelumnya di Desa Cileleus , Kab. Tangerang, balita usia 2 tahun bernama Tegar, didiagnosis gizi buruk. Diusianya yang menginjak 2,5 tahun, beratnya hanya 8 kg. Idealnya, balita laki-laki usia 2 tahun memiliki berat badan 10 – 15 kg. Tegar telah lama mengkonsumsi kental manis. Secara umum, penyebabnya sama, yaitu penghasilan orang tua yang tidak tetap mengakibatkan ketidak mampuan memberikan asupan gizi yang tepat untuk anak.
Tidak jarang, kata Yuli, kader posyandu juga mengaku baru mengetahui fakta kandungan kental manis yang lebih banyak gula daripada protein dan zat gizi lainnya.
“Mereka (kader Posyandu) sadar rasanya manis, namun tidak paham bahwa zat gizinya sangat rendah, rata-rata mereka juga belum mengetahui mengenai larangan BPOM tentang kental manis,” jelas Yuli. (Baca juga: Waspada! Anak Lemas dan Tak Konsentrasi Bisa Jadi Kurang Zat Gizi Mikro )
Sementara, Kepala UPT Puskesmas Parung, dr Dini Sri Agustin mengakui pengetahuan tentang susu tidak termasuk dalam materi penyuluhan Posyandu di wilayah yang menjadi binaan Puskesmas Parung.
Lihat Juga :