Es Gabus Dituding Berbahan Spons, Ahli Gizi Buka Suara
Rabu, 28 Januari 2026 - 17:57 WIB
loading...
Viralnya tudingan es gabus terbuat dari bahan berbahaya belakangan ini memicu keresahan di masyarakat. Foto/Instagram.
A
A
A
JAKARTA - Viralnya tudingan es gabus terbuat dari bahan berbahaya belakangan ini memicu keresahan di masyarakat, terutama di kalangan orang tua. Ahli Gizi Ihda Hanifatun Nisa pun memberi tanggapan.
Isu yang beredar menyebutkan jajanan tradisional tersebut dibuat dari spons atau busa sintetis, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya bagi kesehatan anak.
Baca juga: Yusril Buka Suara soal Kasus Pedagang Es Gabus Difitnah Polisi-Tentara di Kemayoran
Ihda menegaskan bahwa es gabus pada dasarnya merupakan jajanan tradisional yang aman untuk dikonsumsi. Syaratnya, es gabus dibuat dari bahan pangan yang sesuai standar dan diolah dengan proses yang bersih.
Dalam wawancara bersama iNews Media Group, Ihda menyebut hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan es gabus dibuat dari bahan berbahaya seperti spons atau busa sintetis. Menurutnya, isu yang ramai di media sosial lebih dipicu oleh kesalahpahaman visual serta informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Es gabus itu jajanan tradisional. Kalau bahan pangannya benar dan proses pembuatannya higienis, maka aman dikonsumsi,” ujar Ihda, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: Kronologi Penjual Es Gabus Dituduh Pakai Spons
Ia menjelaskan, es gabus umumnya terbuat dari tepung hunkwe atau sagu, gula, santan atau air, serta pewarna makanan yang telah diizinkan. Seluruh bahan tersebut tergolong aman bagi anak-anak selama menggunakan bahan food grade dan tidak dicampur zat tambahan berbahaya.
Ihda justru menekankan pentingnya memperhatikan kebersihan selama proses pembuatan serta jenis pewarna yang digunakan. Terkait tekstur es gabus yang kerap dianggap menyerupai spons, ia menyebut hal itu sebagai proses alami dalam ilmu pangan.
Tekstur kenyal atau berserat pada es gabus, kata dia, muncul akibat proses gelatinisasi pati saat dimasak. Proses ini membentuk struktur gel berpori yang wajar terjadi pada makanan berbasis pati.
“Itu bukan tanda bahan berbahaya. Struktur seperti itu normal pada olahan pati,” jelasnya.
Dari sisi kandungan gizi, es gabus termasuk jajanan dengan nilai gizi sederhana. Kandungan utamanya berasal dari karbohidrat dan gula, sehingga lebih berfungsi sebagai sumber energi.
Meski begitu, Ihda mengingatkan bahwa es gabus tidak memenuhi konsep gizi seimbang. Karena itu, konsumsinya sebaiknya tidak berlebihan dan tetap diimbangi dengan asupan makanan bergizi lainnya.
“Makanan sehat itu bukan dilihat dari tradisional atau modernnya, tapi dari kandungan gizi, keamanan bahan, dan cara pengolahannya,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, orang tua disarankan lebih selektif dalam memilih jajanan untuk anak. Mulai dari memperhatikan kebersihan penjual, memilih warna makanan yang tidak terlalu mencolok, hingga membatasi frekuensi konsumsi jajanan. Anak juga dianjurkan untuk makan utama atau sarapan terlebih dahulu agar jajanan tidak dikonsumsi secara berlebihan.
Isu yang beredar menyebutkan jajanan tradisional tersebut dibuat dari spons atau busa sintetis, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya bagi kesehatan anak.
Baca juga: Yusril Buka Suara soal Kasus Pedagang Es Gabus Difitnah Polisi-Tentara di Kemayoran
Ihda menegaskan bahwa es gabus pada dasarnya merupakan jajanan tradisional yang aman untuk dikonsumsi. Syaratnya, es gabus dibuat dari bahan pangan yang sesuai standar dan diolah dengan proses yang bersih.
Dalam wawancara bersama iNews Media Group, Ihda menyebut hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan es gabus dibuat dari bahan berbahaya seperti spons atau busa sintetis. Menurutnya, isu yang ramai di media sosial lebih dipicu oleh kesalahpahaman visual serta informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Es gabus itu jajanan tradisional. Kalau bahan pangannya benar dan proses pembuatannya higienis, maka aman dikonsumsi,” ujar Ihda, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: Kronologi Penjual Es Gabus Dituduh Pakai Spons
Ia menjelaskan, es gabus umumnya terbuat dari tepung hunkwe atau sagu, gula, santan atau air, serta pewarna makanan yang telah diizinkan. Seluruh bahan tersebut tergolong aman bagi anak-anak selama menggunakan bahan food grade dan tidak dicampur zat tambahan berbahaya.
Ihda justru menekankan pentingnya memperhatikan kebersihan selama proses pembuatan serta jenis pewarna yang digunakan. Terkait tekstur es gabus yang kerap dianggap menyerupai spons, ia menyebut hal itu sebagai proses alami dalam ilmu pangan.
Tekstur kenyal atau berserat pada es gabus, kata dia, muncul akibat proses gelatinisasi pati saat dimasak. Proses ini membentuk struktur gel berpori yang wajar terjadi pada makanan berbasis pati.
“Itu bukan tanda bahan berbahaya. Struktur seperti itu normal pada olahan pati,” jelasnya.
Dari sisi kandungan gizi, es gabus termasuk jajanan dengan nilai gizi sederhana. Kandungan utamanya berasal dari karbohidrat dan gula, sehingga lebih berfungsi sebagai sumber energi.
Meski begitu, Ihda mengingatkan bahwa es gabus tidak memenuhi konsep gizi seimbang. Karena itu, konsumsinya sebaiknya tidak berlebihan dan tetap diimbangi dengan asupan makanan bergizi lainnya.
“Makanan sehat itu bukan dilihat dari tradisional atau modernnya, tapi dari kandungan gizi, keamanan bahan, dan cara pengolahannya,” ujarnya.
Sebagai langkah pencegahan, orang tua disarankan lebih selektif dalam memilih jajanan untuk anak. Mulai dari memperhatikan kebersihan penjual, memilih warna makanan yang tidak terlalu mencolok, hingga membatasi frekuensi konsumsi jajanan. Anak juga dianjurkan untuk makan utama atau sarapan terlebih dahulu agar jajanan tidak dikonsumsi secara berlebihan.
(nnz)
Lihat Juga :