Bagaimana Penularan Virus Nipah? Ini Penjelasan Ahli Epidemiologi
Minggu, 01 Februari 2026 - 06:30 WIB
loading...
Kasus virus Nipah di India masih menjadi sorotan publik dan mengkhawatirkan masyarakat termasuk di Indonesia. Foto/Istimewa.
A
A
A
JAKARTA - Kasus virus Nipah di India masih menjadi sorotan publik dan mengkhawatirkan masyarakat termasuk di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mengungkap belum ada obat maupun vaksin untuk mengatasi penyebaran virus tersebut.
Infeksi NiV atau Nipah ini adalah penyakit zoonosis yang ditularkan ke manusia melalui hewan yang terinfeksi (seperti kelelawar), atau makanan yang terkontaminasi air liur, urin, dan kotoran hewan yang terinfeksi.
Baca juga: Waspada Virus Nipah, Thailand Perketat Pemeriksaan Kesehatan di Bandara
Virus ini juga dapat ditularkan langsung dari orang ke orang melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Kelelawar buah atau rubah terbang (spesies Pteropus) adalah inang alami virus ini.
“Penularan Nipah ini melalui cairan tubuh pada kontak dekat yang sangat efektif. Bukan hanya kontak dekat saja tapi efektif. Jadi ada sentuhan terhadap cairan tubuh dari si pasien,” ungkap Ahli Epidemiologi , Dicky Budiman saat dihubungi iNews Media Group, Sabtu (31/1/2026).
Dicky menjelaskan penularan virus Nipah yang terjadi di India juga berawal dari penyebaran dari pasien ke pasien di rumah sakit. Ia mengimbau agar kasus tersebut bisa dipelajari fasilitas kesehatan di Indonesia.
Selain itu, kasus Nipah yang kerap tak terdeteksi secara dini juga menjadi awal berbahaya hingga timbul penyebaran.
“Justu berbahaya karena sering senyap nifah ini. Banyak infeksi tidak terdeteksi di nifah ini.Karena gejala awalnya tidak spesifik, mirip flu,” paparnya.
Lebih lanjut, WHO mengungkap masa inkubasi virus Nipah ini berkisar antara 3 hingga 14 hari. Dalam beberapa kasus langka, masa inkubasi hingga 45 hari telah dilaporkan. Diagnosis laboratorium pasien dengan riwayat klinis infeksi NiV dapat dilakukan selama fase akut dan pemulihan penyakit dengan menggunakan kombinasi tes. Tes utama yang digunakan adalah RT-PCR dari cairan tubuh dan deteksi antibodi melalui ELISA.
Infeksi pada manusia berkisar dari infeksi tanpa gejala hingga infeksi pernapasan akut (ringan, berat), dan ensefalitis fatal (pembengkakan otak). Orang yang terinfeksi awalnya mengembangkan gejala termasuk demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan sakit tenggorokan.
Ini dapat diikuti oleh pusing, mengantuk, perubahan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis yang menunjukkan ensefalitis akut. Beberapa orang juga dapat mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut. Ensefalitis dan kejang terjadi pada kasus berat, yang berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.
WHO mengungkap rasio kematian kasus (CFR) dalam wabah di Bangladesh, India, Malaysia, dan Singapura berkisar antara 40% hingga 75%, tergantung pada kemampuan lokal untuk deteksi dini dan manajemen klinis. Saat ini belum ada obat atau vaksin berlisensi khusus untuk infeksi NiV.
Infeksi NiV atau Nipah ini adalah penyakit zoonosis yang ditularkan ke manusia melalui hewan yang terinfeksi (seperti kelelawar), atau makanan yang terkontaminasi air liur, urin, dan kotoran hewan yang terinfeksi.
Baca juga: Waspada Virus Nipah, Thailand Perketat Pemeriksaan Kesehatan di Bandara
Virus ini juga dapat ditularkan langsung dari orang ke orang melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi. Kelelawar buah atau rubah terbang (spesies Pteropus) adalah inang alami virus ini.
“Penularan Nipah ini melalui cairan tubuh pada kontak dekat yang sangat efektif. Bukan hanya kontak dekat saja tapi efektif. Jadi ada sentuhan terhadap cairan tubuh dari si pasien,” ungkap Ahli Epidemiologi , Dicky Budiman saat dihubungi iNews Media Group, Sabtu (31/1/2026).
Dicky menjelaskan penularan virus Nipah yang terjadi di India juga berawal dari penyebaran dari pasien ke pasien di rumah sakit. Ia mengimbau agar kasus tersebut bisa dipelajari fasilitas kesehatan di Indonesia.
Selain itu, kasus Nipah yang kerap tak terdeteksi secara dini juga menjadi awal berbahaya hingga timbul penyebaran.
“Justu berbahaya karena sering senyap nifah ini. Banyak infeksi tidak terdeteksi di nifah ini.Karena gejala awalnya tidak spesifik, mirip flu,” paparnya.
Lebih lanjut, WHO mengungkap masa inkubasi virus Nipah ini berkisar antara 3 hingga 14 hari. Dalam beberapa kasus langka, masa inkubasi hingga 45 hari telah dilaporkan. Diagnosis laboratorium pasien dengan riwayat klinis infeksi NiV dapat dilakukan selama fase akut dan pemulihan penyakit dengan menggunakan kombinasi tes. Tes utama yang digunakan adalah RT-PCR dari cairan tubuh dan deteksi antibodi melalui ELISA.
Infeksi pada manusia berkisar dari infeksi tanpa gejala hingga infeksi pernapasan akut (ringan, berat), dan ensefalitis fatal (pembengkakan otak). Orang yang terinfeksi awalnya mengembangkan gejala termasuk demam, sakit kepala, mialgia (nyeri otot), muntah, dan sakit tenggorokan.
Ini dapat diikuti oleh pusing, mengantuk, perubahan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis yang menunjukkan ensefalitis akut. Beberapa orang juga dapat mengalami pneumonia atipikal dan masalah pernapasan yang parah, termasuk gangguan pernapasan akut. Ensefalitis dan kejang terjadi pada kasus berat, yang berkembang menjadi koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.
WHO mengungkap rasio kematian kasus (CFR) dalam wabah di Bangladesh, India, Malaysia, dan Singapura berkisar antara 40% hingga 75%, tergantung pada kemampuan lokal untuk deteksi dini dan manajemen klinis. Saat ini belum ada obat atau vaksin berlisensi khusus untuk infeksi NiV.
(nnz)
Lihat Juga :