Kiat Menyambut Rezeki di Tahun Kuda, Dwi Sutarjantono Manfaatkan Hipnoterapi
Selasa, 10 Februari 2026 - 15:26 WIB
loading...
Setiap pergantian tahun selalu membawa harapan baru, termasuk di Tahun Kuda, di mana harapan itu hadir bersama satu kata kunci: percepatan. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Setiap pergantian tahun selalu membawa harapan baru, termasuk di Tahun Kuda, di mana harapan itu hadir bersama satu kata kunci: percepatan.
Ya, ritme hidup menjadi lebih cepat, peluang datang silih berganti dan tuntutan untuk bergerak terasa lebih kuat dari sebelumnya. Tahun ini bukan tentang menunggu, tetapi tentang kesiapan. Namun, masalahnya tidak semua orang siap secara mental. Banyak yang sibuk mengejar peluang, tetapi lupa menyiapkan ruang di dalam dirinya sendiri. Padahal, dalam praktik psikologi modern dan hipnoterapi, rezeki sering kali bukan berhenti karena dunia pelit, melainkan karena pikiran belum siap menerimanya.
Bagi sebagian orang, rezeki terasa selalu dekat namun tak kunjung menetap. Datang sebentar, lalu pergi. Kesempatan muncul, tetapi ragu diambil. Tawaran ada, tetapi ditunda. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena ada “program lama” di balik layar pikiran: rasa tidak pantas, takut gagal, atau justru takut berhasil.
Di sinilah pendekatan mind programming menemukan relevansinya. Dwi Sutarjantono, mind programmer dan praktisi hipnoterapi, memandang pikiran manusia seperti sebuah sistem operasi. Selama program lama masih berjalan, hasil hidup akan terus berulang—tak peduli seberapa keras usaha dilakukan.
“Banyak orang bekerja keras, tapi secara bawah sadar justru menarik remnya sendiri,” kata Dwi.
"Bukan karena malas, melainkan pikiran mereka belum merasa aman untuk melangkah lebih jauh," ujar dia lagi.
Sementara, dalam simbolisme budaya Timur, Kuda melambangkan gerak, daya juang, dan keberanian mengambil arah. Tahun Kuda sering digambarkan sebagai fase penuh momentum namun momentum ini tidak menunggu orang yang ragu. Ia hanya berpihak pada mereka yang siap secara mental.
Dwi mengatakan bahwa pendekatan ini bukan sugesti kosong atau janji instan. Ini adalah latihan mental yang membumi dan bisa diterapkan siapa saja.
Langkah pertama bukan afirmasi positif, melainkan kejujuran. Perhatikan dialog batin. "Misalnya, aku takut salah langkah. Nanti kalau gagal bagaimana? atau aku belum pantas di posisi itu," ujar dia.
Pikiran bawah sadar bekerja melalui pengulangan. Selama kalimat-kalimat ini terus berputar, ia akan mengarahkan kita untuk menghindari peluang, bukan menyambutnya.
Dijelaskannya, mengubah narasi internal bukan berarti membohongi diri, melainkan mengganti kalimat yang melemahkan dengan kalimat yang menguatkan.
"Dari aku takut gagal menjadi: Aku sedang belajar melangkah dengan lebih berani," tuturnya.
Perubahan sederhana ini memberi sinyal baru pada pikiran: bahwa bergerak bukan ancaman, melainkan proses.
Dalam pandangan Dwi Sutarjantono—yang membuka praktik konsultasi dan terapi privat untuk klien khusus, rezeki bukan sesuatu yang dikejar dengan nafsu, melainkan respons kehidupan terhadap pikiran yang selaras. Ia datang ketika seseorang siap: siap menerima, siap mengelola, dan siap bertanggung jawab.
Dwi Sutarjantono yang membuka praktik umum di Rumah Terapi Bekasi dan Jivaraga Jakarta ini menekankan bahwa pertanyaannya bukan lagi, berapa banyak yang bisa saya dapatkan?, melainkan: Apakah pikiran saya cukup siap untuk menerima dan mengelola apa yang datang?
Karena di tahun yang bergerak cepat, bukan yang paling kuat yang bertahan melainkan yang paling selaras antara pikiran, keberanian, dan langkah. Dan di situlah rezeki menemukan jalannya.
Ya, ritme hidup menjadi lebih cepat, peluang datang silih berganti dan tuntutan untuk bergerak terasa lebih kuat dari sebelumnya. Tahun ini bukan tentang menunggu, tetapi tentang kesiapan. Namun, masalahnya tidak semua orang siap secara mental. Banyak yang sibuk mengejar peluang, tetapi lupa menyiapkan ruang di dalam dirinya sendiri. Padahal, dalam praktik psikologi modern dan hipnoterapi, rezeki sering kali bukan berhenti karena dunia pelit, melainkan karena pikiran belum siap menerimanya.
Bagi sebagian orang, rezeki terasa selalu dekat namun tak kunjung menetap. Datang sebentar, lalu pergi. Kesempatan muncul, tetapi ragu diambil. Tawaran ada, tetapi ditunda. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena ada “program lama” di balik layar pikiran: rasa tidak pantas, takut gagal, atau justru takut berhasil.
Di sinilah pendekatan mind programming menemukan relevansinya. Dwi Sutarjantono, mind programmer dan praktisi hipnoterapi, memandang pikiran manusia seperti sebuah sistem operasi. Selama program lama masih berjalan, hasil hidup akan terus berulang—tak peduli seberapa keras usaha dilakukan.
“Banyak orang bekerja keras, tapi secara bawah sadar justru menarik remnya sendiri,” kata Dwi.
"Bukan karena malas, melainkan pikiran mereka belum merasa aman untuk melangkah lebih jauh," ujar dia lagi.
Sementara, dalam simbolisme budaya Timur, Kuda melambangkan gerak, daya juang, dan keberanian mengambil arah. Tahun Kuda sering digambarkan sebagai fase penuh momentum namun momentum ini tidak menunggu orang yang ragu. Ia hanya berpihak pada mereka yang siap secara mental.
Dwi mengatakan bahwa pendekatan ini bukan sugesti kosong atau janji instan. Ini adalah latihan mental yang membumi dan bisa diterapkan siapa saja.
Langkah pertama bukan afirmasi positif, melainkan kejujuran. Perhatikan dialog batin. "Misalnya, aku takut salah langkah. Nanti kalau gagal bagaimana? atau aku belum pantas di posisi itu," ujar dia.
Pikiran bawah sadar bekerja melalui pengulangan. Selama kalimat-kalimat ini terus berputar, ia akan mengarahkan kita untuk menghindari peluang, bukan menyambutnya.
Dijelaskannya, mengubah narasi internal bukan berarti membohongi diri, melainkan mengganti kalimat yang melemahkan dengan kalimat yang menguatkan.
"Dari aku takut gagal menjadi: Aku sedang belajar melangkah dengan lebih berani," tuturnya.
Perubahan sederhana ini memberi sinyal baru pada pikiran: bahwa bergerak bukan ancaman, melainkan proses.
Dalam pandangan Dwi Sutarjantono—yang membuka praktik konsultasi dan terapi privat untuk klien khusus, rezeki bukan sesuatu yang dikejar dengan nafsu, melainkan respons kehidupan terhadap pikiran yang selaras. Ia datang ketika seseorang siap: siap menerima, siap mengelola, dan siap bertanggung jawab.
Dwi Sutarjantono yang membuka praktik umum di Rumah Terapi Bekasi dan Jivaraga Jakarta ini menekankan bahwa pertanyaannya bukan lagi, berapa banyak yang bisa saya dapatkan?, melainkan: Apakah pikiran saya cukup siap untuk menerima dan mengelola apa yang datang?
Karena di tahun yang bergerak cepat, bukan yang paling kuat yang bertahan melainkan yang paling selaras antara pikiran, keberanian, dan langkah. Dan di situlah rezeki menemukan jalannya.
(dra)
Lihat Juga :