Pentingnya Digitalisasi Armada dalam Menekan Rasio Biaya Logistik di Tahun 2026
Kamis, 19 Februari 2026 - 16:34 WIB
loading...
Sektor logistik darat Indonesia memasuki fase krusial menjelang 2026. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Sektor logistik darat Indonesia memasuki fase krusial menjelang 2026. Di tengah pertumbuhan perdagangan dan distribusi barang yang semakin masif, persoalan lama seperti biaya tinggi, keterlambatan pengiriman, hingga kurangnya transparansi rantai pasok masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Data menunjukkan rasio biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto, menjadikannya salah satu yang tertinggi secara global. Kondisi ini berdampak langsung pada harga barang dan daya saing industri nasional.
Peningkatan aktivitas e-commerce, manufaktur, pertambangan, dan perkebunan turut mendorong lonjakan distribusi darat. Namun, infrastruktur yang belum merata serta integrasi teknologi yang masih terbatas membuat efisiensi sulit dicapai secara optimal.
Indeks Kinerja Logistik (LPI) Indonesia pada 2023 tercatat turun ke peringkat 46, mencerminkan tantangan dalam sistem distribusi dan manajemen rantai pasok.
Tekanan operasional juga semakin kompleks. Harga bahan bakar yang fluktuatif, tarif tol yang meningkat, hingga biaya perawatan kendaraan menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha. Di lapangan, pemborosan kerap tidak terdeteksi, mulai dari kendaraan yang menganggur, perjalanan tanpa muatan, hingga perilaku mengemudi yang boros bahan bakar.
Tanpa sistem pemantauan yang akurat, sumber inefisiensi ini sulit diidentifikasi secara menyeluruh.
Di sisi lain, standar layanan pelanggan terus meningkat. Ketepatan waktu kini menjadi indikator kinerja utama. Keterlambatan akibat kemacetan, antrean gudang, atau cuaca ekstrem sering kali baru disadari setelah menimbulkan kerugian.
Data menunjukkan rasio biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 23 persen terhadap Produk Domestik Bruto, menjadikannya salah satu yang tertinggi secara global. Kondisi ini berdampak langsung pada harga barang dan daya saing industri nasional.
Peningkatan aktivitas e-commerce, manufaktur, pertambangan, dan perkebunan turut mendorong lonjakan distribusi darat. Namun, infrastruktur yang belum merata serta integrasi teknologi yang masih terbatas membuat efisiensi sulit dicapai secara optimal.
Indeks Kinerja Logistik (LPI) Indonesia pada 2023 tercatat turun ke peringkat 46, mencerminkan tantangan dalam sistem distribusi dan manajemen rantai pasok.
Tekanan operasional juga semakin kompleks. Harga bahan bakar yang fluktuatif, tarif tol yang meningkat, hingga biaya perawatan kendaraan menjadi beban tambahan bagi pelaku usaha. Di lapangan, pemborosan kerap tidak terdeteksi, mulai dari kendaraan yang menganggur, perjalanan tanpa muatan, hingga perilaku mengemudi yang boros bahan bakar.
Tanpa sistem pemantauan yang akurat, sumber inefisiensi ini sulit diidentifikasi secara menyeluruh.
Di sisi lain, standar layanan pelanggan terus meningkat. Ketepatan waktu kini menjadi indikator kinerja utama. Keterlambatan akibat kemacetan, antrean gudang, atau cuaca ekstrem sering kali baru disadari setelah menimbulkan kerugian.
Lihat Juga :