Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor dalam Balutan Dendam dan Cinta
Selasa, 17 Maret 2026 - 19:30 WIB
loading...
A
A
A
”Pendekatan naratif terasa lebih kompleks dibanding film sebelumnya. Selain itu, kualitas sinematik diupayakan meningkat secara signifikan,” kata Sunil. Film ini juga dibintangi oleh Nai Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet, Aziz Gagap, Ence Bagus, El Manik, Andi/Rif, Iwa K, Budi Bima, Yatti Surachman, Nunung, Sabar Bokir, Petrix Gembul, dan Piet Pagau.
Penggunaan teknologi visual menjadi elemen penting dalam produksi film ini. Tim mengembangkan Computer Generated Imagery untuk membentuk wajah Suzzanna. Teknik tersebut dipadukan dengan prostetik serta riset arsip film lama. Proses dilakukan frame by frame demi menjaga ekspresi karakter tetap hidup. Hasilnya terlihat cukup berhasil dalam menghadirkan sosok ikonik yang baru.
Secara keseluruhan, film ini menawarkan hiburan menarik untuk momen liburan Lebaran. Namun, tidak semua usia cocok menikmati keseluruhan adegannya. Beberapa bagian menampilkan kekerasan dengan intensitas cukup tinggi dan ”obral darah”. Di sisi lain, konflik cerita tetap menghadirkan ruang refleksi moral. Pilihan antara dendam dan cinta menjadi benang merah yang kuat.
Catatan lain muncul dari kualitas efek visual di sejumlah adegan film. Kemegahan sinematik agak terganggu beberapa detail yang tampak kurang halus dan terkesan ”bocor”.
Di antaranya saat adegan Suzzanna di sungai dan adegan terkait dukun santet Lesus. Hal ini sempat penulis sampaikan langsung kepada Kinoi Lubis sebagai sutradara seusai gala premiere di Plaza Senayan, Sabtu (14/3/2026). Terlepas dari itu, film tetap menghibur secara keseluruhan dan layak masuk daftar tontonan Lebaran tahun ini.
Penggunaan teknologi visual menjadi elemen penting dalam produksi film ini. Tim mengembangkan Computer Generated Imagery untuk membentuk wajah Suzzanna. Teknik tersebut dipadukan dengan prostetik serta riset arsip film lama. Proses dilakukan frame by frame demi menjaga ekspresi karakter tetap hidup. Hasilnya terlihat cukup berhasil dalam menghadirkan sosok ikonik yang baru.
”Bocor”
Secara keseluruhan, film ini menawarkan hiburan menarik untuk momen liburan Lebaran. Namun, tidak semua usia cocok menikmati keseluruhan adegannya. Beberapa bagian menampilkan kekerasan dengan intensitas cukup tinggi dan ”obral darah”. Di sisi lain, konflik cerita tetap menghadirkan ruang refleksi moral. Pilihan antara dendam dan cinta menjadi benang merah yang kuat.
Catatan lain muncul dari kualitas efek visual di sejumlah adegan film. Kemegahan sinematik agak terganggu beberapa detail yang tampak kurang halus dan terkesan ”bocor”.
Di antaranya saat adegan Suzzanna di sungai dan adegan terkait dukun santet Lesus. Hal ini sempat penulis sampaikan langsung kepada Kinoi Lubis sebagai sutradara seusai gala premiere di Plaza Senayan, Sabtu (14/3/2026). Terlepas dari itu, film tetap menghibur secara keseluruhan dan layak masuk daftar tontonan Lebaran tahun ini.
(nnz)
Lihat Juga :