'Ghost in the Cell' Karya Joko Anwar Tembus 86 Negara sebelum Tayang di Indonesia
Minggu, 05 April 2026 - 13:59 WIB
loading...
Film Ghost in The Cell garapan Joko Anwar. Foto: Poplicist Publicist
A
A
A
JAKARTA - Deretan penjara dengan dinding kusam dan cerita gelap di dalamnya kini melangkah jauh melampaui batas geografis. Film terbaru garapan Joko Anwar , Ghost in the Cell, langsung mencuri perhatian dunia dengan pencapaian besar: hak penayangannya telah dibeli oleh 86 negara, bahkan sebelum resmi tayang di Indonesia pada 16 April 2026.
Capaian ini datang tak lama setelah film tersebut mencuri perhatian di Berlinale 2026. Di balik layar, proyek ini merupakan kolaborasi antara Come and See Pictures, RAPI Films, Legacy Pictures, serta Barunson E&A sebagai sales agent global. Bahkan sebelumnya, distributor Jerman Plaion Pictures telah lebih dulu mengamankan hak edar untuk wilayah berbahasa Jerman.
Baca Juga : Kegelisahan Sosial Joko Anwar Jadi Nyawa 'Ghost in the Cell' : Kami Masih Terpenjara
Di dalam cerita, ketegangan dibangun dari kehidupan para tahanan di Lapas Labuhan Angsana yang dipenuhi penindasan dan konflik antar napi. Situasi berubah mencekam ketika seorang tahanan baru datang, disusul kematian misterius yang mengerikan satu per satu.
Terungkap bahwa sosok gaib memburu mereka yang memiliki energi paling negatif. Para napi pun terpaksa berlomba menjadi “baik” demi bertahan hidup—sebuah ironi di tengah sistem yang korup. Namun kemudian, mereka menyadari satu hal: bertahan bukan soal individu, melainkan bersatu melawan ketidakadilan, bahkan jika itu berarti menghadapi kekuatan tak kasatmata.
Joko Anwar menegaskan film ini lahir dari realitas yang dekat. “Ini tentang kekuasaan dan sistem yang korup,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Ketidakadilan itu bahasa universal.” Pernyataan itu tercermin dari respons pasar global, yang melihat kisah ini bukan sekadar cerita lokal, melainkan potret masalah yang relevan di banyak negara.
Baca Juga : Joko Anwar Sukses Bawa 'Ghost in the Cell' Menembus Berlinale 2026
Produser Tia Hasibuan menilai capaian ini sebagai bukti kualitas produksi. “Banyak negara tertarik menayangkannya,” katanya. Tak heran, jaringan distribusi film ini mencakup kawasan Asia Tenggara, Amerika Utara, Eropa, hingga Amerika Latin dan Afrika—menjadikannya salah satu film Indonesia dengan jangkauan internasional paling luas dalam beberapa tahun terakhir.
Film ini juga diperkuat deretan pemain lintas generasi seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, hingga Tora Sudiro, serta memperkenalkan Magistus Miftah. Dengan rekam jejak Come and See Pictures yang sebelumnya memproduksi Pengabdi Setan 2: Communion dan serial Nightmares and Daydreams, Ghost in the Cell kini bersiap menyapa penonton Indonesia, membawa horor yang tak hanya menakutkan, tetapi juga menggugah kesadaran.
Capaian ini datang tak lama setelah film tersebut mencuri perhatian di Berlinale 2026. Di balik layar, proyek ini merupakan kolaborasi antara Come and See Pictures, RAPI Films, Legacy Pictures, serta Barunson E&A sebagai sales agent global. Bahkan sebelumnya, distributor Jerman Plaion Pictures telah lebih dulu mengamankan hak edar untuk wilayah berbahasa Jerman.
Baca Juga : Kegelisahan Sosial Joko Anwar Jadi Nyawa 'Ghost in the Cell' : Kami Masih Terpenjara
Di dalam cerita, ketegangan dibangun dari kehidupan para tahanan di Lapas Labuhan Angsana yang dipenuhi penindasan dan konflik antar napi. Situasi berubah mencekam ketika seorang tahanan baru datang, disusul kematian misterius yang mengerikan satu per satu.
Terungkap bahwa sosok gaib memburu mereka yang memiliki energi paling negatif. Para napi pun terpaksa berlomba menjadi “baik” demi bertahan hidup—sebuah ironi di tengah sistem yang korup. Namun kemudian, mereka menyadari satu hal: bertahan bukan soal individu, melainkan bersatu melawan ketidakadilan, bahkan jika itu berarti menghadapi kekuatan tak kasatmata.
Joko Anwar menegaskan film ini lahir dari realitas yang dekat. “Ini tentang kekuasaan dan sistem yang korup,” ujarnya. Ia juga menambahkan, “Ketidakadilan itu bahasa universal.” Pernyataan itu tercermin dari respons pasar global, yang melihat kisah ini bukan sekadar cerita lokal, melainkan potret masalah yang relevan di banyak negara.
Baca Juga : Joko Anwar Sukses Bawa 'Ghost in the Cell' Menembus Berlinale 2026
Produser Tia Hasibuan menilai capaian ini sebagai bukti kualitas produksi. “Banyak negara tertarik menayangkannya,” katanya. Tak heran, jaringan distribusi film ini mencakup kawasan Asia Tenggara, Amerika Utara, Eropa, hingga Amerika Latin dan Afrika—menjadikannya salah satu film Indonesia dengan jangkauan internasional paling luas dalam beberapa tahun terakhir.
Film ini juga diperkuat deretan pemain lintas generasi seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, hingga Tora Sudiro, serta memperkenalkan Magistus Miftah. Dengan rekam jejak Come and See Pictures yang sebelumnya memproduksi Pengabdi Setan 2: Communion dan serial Nightmares and Daydreams, Ghost in the Cell kini bersiap menyapa penonton Indonesia, membawa horor yang tak hanya menakutkan, tetapi juga menggugah kesadaran.
(wur)
Lihat Juga :