Kegelisahan Sosial Joko Anwar Jadi Nyawa 'Ghost in the Cell' : Kami Masih Terpenjara
Selasa, 24 Februari 2026 - 09:30 WIB
loading...
Joko Anwar di acara konferensi pers film Ghost in The Cell di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (23/2/2026). Foto: Mei Sada Sirait
A
A
A
JAKARTA - Sutradara Joko Anwar kembali menghadirkan karya terbaru, sebuah film horor-komedi berjudul Ghost in the Cell. Berbeda dari film-film sebelumnya, kali ini Joko Anwar memilih latar penjara sebagai ruang bercerita.
Uniknya, film ini merepresentasikan dinamika sosial di Indonesia yang belakangan terjadi. Menurut Joko Anwar, ide film ini berawal dari kegelisahan yang ia dan tim rasakan terhadap kondisi sosial.
“Kami merasa seperti terpenjara,” ujar produser Ghost in the Cell dalam sesi press conference di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Baca Juga : Joko Anwar Sukses Bawa 'Ghost in the Cell' Menembus Berlinale 2026
Bagi Joko, penjara bukan sekedar lokasi fisik, namun metafora kehidupan masyarakat. Di dalamnya terdapat struktur kekuasaan yang jelas, mulai dari petugas lapas sebagai representasi pemerintah, hingga para narapidana sebagai warga yang hidup dalam sistem tersebut.
Uniknya, film ini merepresentasikan dinamika sosial di Indonesia yang belakangan terjadi. Menurut Joko Anwar, ide film ini berawal dari kegelisahan yang ia dan tim rasakan terhadap kondisi sosial.
“Kami merasa seperti terpenjara,” ujar produser Ghost in the Cell dalam sesi press conference di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Baca Juga : Joko Anwar Sukses Bawa 'Ghost in the Cell' Menembus Berlinale 2026
Bagi Joko, penjara bukan sekedar lokasi fisik, namun metafora kehidupan masyarakat. Di dalamnya terdapat struktur kekuasaan yang jelas, mulai dari petugas lapas sebagai representasi pemerintah, hingga para narapidana sebagai warga yang hidup dalam sistem tersebut.
Lihat Juga :