Joko Anwar Berani Kritik Pemerintah di 'Ghost in The Cell', Ini Alasannya!
Kamis, 09 April 2026 - 20:10 WIB
loading...
Joko Anwar dan para pemain di acara press screening film Ghost In The Cell, Kamis (9/4/2026). Foto: Mei Sada Sirait
A
A
A
JAKARTA - Sutradara film Joko Anwar menghadirkan gagasan baru dalam filmnya berjudul Ghost In The Cell yang tak hanya menghibur tetapi juga menyentil realitas sosial Indonesia. Ide pembuatan film genre horor-komedi ini ternyata sudah mulai dikembangkan sejak tahun 2018z
Joko Anwar mengungkap awalnya ia berharap kondisi Indonesia akan membaik seiring waktu. Namun, menurutnya realita yang ada justru sebaliknya.
“Kita berharap dari 2018 ke 2025 itu Indonesia membaik, ternyata enggak,” ujar Joko Anwar seusai press screening film Ghost In The Cell, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga : 'Ghost in the Cell' Karya Joko Anwar Tembus 86 Negara sebelum Tayang di Indonesia
Tim kreatif kemudian mencoba merangkum berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia ke dalam satu cerita yang merepresentasikan kondisi sosial secara luas. Menurut Joko Anwar, satu kata yang terus muncul selama pengembangan cerita adalah “absurd”.
Ia menilai berbagai fenomena di Indonesia justru semakin terasa di luar nalar. Mulai dari korupsi ratusan triliun hingga lain sebagainya.
“Korupsi ratusan triliun, kita semua tenang-tenang saja. Itu sudah absurd banget,” katanya.
Konsep tersebut yang kemudian diterjemahkan ke dalam cerita film yang memadukan berbagai genre, mulai dari komedi hingga horor, sebagai refleksi kehidupan masyarakat. Film ini juga mengusung metafora kuat, di mana penjara digambarkan sebagai representasi negara, sementara para tahanan adalah warga negara itu sendiri.
Baca Juga : Kegelisahan Sosial Joko Anwar Jadi Nyawa 'Ghost in the Cell' : Kami Masih Terpenjara
“Penjaranya adalah negara, dan semua napi itu adalah kita. Karena kita nggak bisa kabur. Hanya beberapa orang yang punya privilege untuk keluar,” jelasnya.
Itu lah alasan mengapa Joko Anwar berani mengemas film yang penuh dengan kalimat satire. Meski mengangkat kritik sosial yang tajam, Joko Anwar menegaskan bahwa film ini tidak ingin membawa penonton pada rasa putus asa.
Sebaliknya, Ghost in The Cell ingin tetap menghadirkan harapan untuk masyarakat Indonesia secara khusus.
“Kita nggak mau film ini berakhir dengan hopeless. Tapi juga nggak mau terlalu hopeful sampai delusional,” pungkasnya.
Joko Anwar mengungkap awalnya ia berharap kondisi Indonesia akan membaik seiring waktu. Namun, menurutnya realita yang ada justru sebaliknya.
“Kita berharap dari 2018 ke 2025 itu Indonesia membaik, ternyata enggak,” ujar Joko Anwar seusai press screening film Ghost In The Cell, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga : 'Ghost in the Cell' Karya Joko Anwar Tembus 86 Negara sebelum Tayang di Indonesia
Tim kreatif kemudian mencoba merangkum berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia ke dalam satu cerita yang merepresentasikan kondisi sosial secara luas. Menurut Joko Anwar, satu kata yang terus muncul selama pengembangan cerita adalah “absurd”.
Ia menilai berbagai fenomena di Indonesia justru semakin terasa di luar nalar. Mulai dari korupsi ratusan triliun hingga lain sebagainya.
“Korupsi ratusan triliun, kita semua tenang-tenang saja. Itu sudah absurd banget,” katanya.
Konsep tersebut yang kemudian diterjemahkan ke dalam cerita film yang memadukan berbagai genre, mulai dari komedi hingga horor, sebagai refleksi kehidupan masyarakat. Film ini juga mengusung metafora kuat, di mana penjara digambarkan sebagai representasi negara, sementara para tahanan adalah warga negara itu sendiri.
Baca Juga : Kegelisahan Sosial Joko Anwar Jadi Nyawa 'Ghost in the Cell' : Kami Masih Terpenjara
“Penjaranya adalah negara, dan semua napi itu adalah kita. Karena kita nggak bisa kabur. Hanya beberapa orang yang punya privilege untuk keluar,” jelasnya.
Itu lah alasan mengapa Joko Anwar berani mengemas film yang penuh dengan kalimat satire. Meski mengangkat kritik sosial yang tajam, Joko Anwar menegaskan bahwa film ini tidak ingin membawa penonton pada rasa putus asa.
Sebaliknya, Ghost in The Cell ingin tetap menghadirkan harapan untuk masyarakat Indonesia secara khusus.
“Kita nggak mau film ini berakhir dengan hopeless. Tapi juga nggak mau terlalu hopeful sampai delusional,” pungkasnya.
(wur)
Lihat Juga :