1 dari 5 Anak Indonesia Stunting, Dampaknya Bisa Ganggu Kecerdasan dan Prestasi
Kamis, 16 April 2026 - 12:05 WIB
loading...
Pengukuran tinggi balita di posyandu. Foto: Pusdeka
A
A
A
JAKARTA - Masih banyak orang tua menganggap stunting hanya soal tinggi badan anak yang lebih pendek dari teman sebayanya. Padahal, dampaknya jauh lebih serius karena bisa mempengaruhi kecerdasan anak.
Menurut Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Moeloek, saat ini 1 dari 5 anak Indonesia masih mengalami stunting. Angka ini menunjukkan bahwa masalah gizi masih jadi tantangan besar di Tanah Air.
Dalam studi yang dilakukan Indonesia Health Development Center (IHDC), anak dengan stunting memiliki risiko daya tangkap dan kemampuan belajar yang lima kali lebih rendah. Hal ini juga berkaitan dengan working memory atau kemampuan otak untuk menyerap dan mengolah informasi.
Baca Juga : Prabowo: MBG Jawaban Negara Atas Masalah Gizi Anak Indonesia
“Dengan stunting, kemampuan akademik atau perkembangan otaknya bisa lima kali lebih rendah,” ungkap Prof. Nila.
Selain stunting, banyak anak Indonesia juga mengalami anemia akibat kekurangan zat besi. Padahal, anemia bisa membuat anak mudah lelah, sulit fokus, hingga menurunkan kemampuan berpikir.
“Kalau anak sudah stunting, kurang gizi, lalu anemia, bagaimana dia mau menangkap pelajaran?” jelasnya.
Penyebabnya pun ternyata berasal dari hal sederhana yang sehari-hari dilakukan, seperti asupan makanan. Banyak anak masih kekurangan protein, kalori, dan nutrisi penting lainnya.
Baca Juga : Program MBG Mampu Tekan Stunting, FSPI: Fokus Evaluasi, Bukan Politisasi
Padahal, periode paling krusial ada di 1.000 hari pertama kehidupan yaitu mulai dari dalam kandungan hingga usia dua tahun. Di fase ini, apa yang dikonsumsi anak akan sangat menentukan tumbuh kembangnya di masa depan.
Untuk itu Prof. Nila mengingatkan, jika tidak ditangani sejak dini, dampak stunting bisa berlangsung jangka panjang bahkan hingga dewasa. Sebagai langkah awal, orang tua dianjurkan untuk memastikan anak mendapat asupan yang cukup.
Misalnya protein dari ikan, telur, dan ayam. Selain itu juga kandungan zat besi dari daging dan sayur hijau.
Bahkan bila perlu, lakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mengetahui apa yang masih perlu dipenuhi untuk anak agar tumbuh kembangnya optimal.
Menurut Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center (IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Djuwita Moeloek, saat ini 1 dari 5 anak Indonesia masih mengalami stunting. Angka ini menunjukkan bahwa masalah gizi masih jadi tantangan besar di Tanah Air.
Dalam studi yang dilakukan Indonesia Health Development Center (IHDC), anak dengan stunting memiliki risiko daya tangkap dan kemampuan belajar yang lima kali lebih rendah. Hal ini juga berkaitan dengan working memory atau kemampuan otak untuk menyerap dan mengolah informasi.
Baca Juga : Prabowo: MBG Jawaban Negara Atas Masalah Gizi Anak Indonesia
“Dengan stunting, kemampuan akademik atau perkembangan otaknya bisa lima kali lebih rendah,” ungkap Prof. Nila.
Selain stunting, banyak anak Indonesia juga mengalami anemia akibat kekurangan zat besi. Padahal, anemia bisa membuat anak mudah lelah, sulit fokus, hingga menurunkan kemampuan berpikir.
“Kalau anak sudah stunting, kurang gizi, lalu anemia, bagaimana dia mau menangkap pelajaran?” jelasnya.
Penyebabnya pun ternyata berasal dari hal sederhana yang sehari-hari dilakukan, seperti asupan makanan. Banyak anak masih kekurangan protein, kalori, dan nutrisi penting lainnya.
Baca Juga : Program MBG Mampu Tekan Stunting, FSPI: Fokus Evaluasi, Bukan Politisasi
Padahal, periode paling krusial ada di 1.000 hari pertama kehidupan yaitu mulai dari dalam kandungan hingga usia dua tahun. Di fase ini, apa yang dikonsumsi anak akan sangat menentukan tumbuh kembangnya di masa depan.
Untuk itu Prof. Nila mengingatkan, jika tidak ditangani sejak dini, dampak stunting bisa berlangsung jangka panjang bahkan hingga dewasa. Sebagai langkah awal, orang tua dianjurkan untuk memastikan anak mendapat asupan yang cukup.
Misalnya protein dari ikan, telur, dan ayam. Selain itu juga kandungan zat besi dari daging dan sayur hijau.
Bahkan bila perlu, lakukan pemeriksaan kesehatan rutin untuk mengetahui apa yang masih perlu dipenuhi untuk anak agar tumbuh kembangnya optimal.
(wur)
Lihat Juga :