Menkes Budi Gunadi Imbau Kurangi Konsumsi Makanan Olahan, Ini Bahayanya bagi Kesehatan
Jum'at, 17 April 2026 - 08:50 WIB
loading...
mengonsumsi makanan olahan secara berlebihan bisa menyebabkan masalah kesehatan. Foto: Bussiness Insider
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin bersama dengan Dokter Instalasi Gawat Darurat, dr. Gia Pratama mengimbau masyarakat agar waspada dan tidak terlalu banyak memakan ultra processed food (UPF) atau makanan yang diproses secara berlebihan.
Hal tersebut diungkapkan lewat unggahan edukatif di akun media sosial Menteri Kesehatan @bgsadikin. Dalam video tersebut, dr. Gia Pratama menjelaskan terkait dampak jangka panjang mengonsumsi makanan praktis UPF, salah satunya seperti sosis siap makan yang banyak dijual di tengah masyarakat.
Ia menyebut, meskipun banyak masyarakat yang memilih makanan olahan karena kepraktisannya. Namun produk yang terlihat enak dan gurih seperti sosis sering kali kehilangan nutrisi aslinya.
Baca Juga : Efek Konsumsi Daging Olahan, Pengaruhi Kesehatan Jantung hingga Perburuk Tekanan Darah
“Kelihatannya seperti daging, padahal mungkin daging aslinya kurang dari 40%, sisanya tambahan. Ada tepungnya, ada perasa, pewarna, pengawet gitu. Dan itu nggak sehat sama sekali apalagi kalau dimakan dalam jangka panjang,” kata dr. Gia, dikutip Kamis (16/6/2026).
dr. Gia menekankan bahwa UPF masuk dalam kategori karsinogenik yang merupakan zat atau proses yang dapat memicu perubahan sel normal menjadi sel kanker. “Hal-hal yang membuat sel normal berubah jadi sel kanker gitu, pencetusnya,” ucap dia.
Sementara itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan makan dengan beralih ke real food atau makanan utuh. Hal itu diungkapkan Budi melalui takarir unggahannya yang menekankan pentingnya memilih asupan makanan yang dimasak langsung tanpa banyak tambahan bahan kimia.
Baca Juga : Waspadai Makanan Ultra Proses, Picu Obesitas hingga Kanker
"Opsi yang jauh lebih bijaksana adalah beralih ke real food atau makanan utuh. Mari ubah kebiasaan ini dengan memperbanyak real food seperti ikan, ayam, dan sayuran," tutur Budi.
Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik untuk mengurangi stok makanan olahan kemasan dan lebih mengutamakan lauk pauk segar demi kesehatan tubuh di masa depan.
Hal tersebut diungkapkan lewat unggahan edukatif di akun media sosial Menteri Kesehatan @bgsadikin. Dalam video tersebut, dr. Gia Pratama menjelaskan terkait dampak jangka panjang mengonsumsi makanan praktis UPF, salah satunya seperti sosis siap makan yang banyak dijual di tengah masyarakat.
Ia menyebut, meskipun banyak masyarakat yang memilih makanan olahan karena kepraktisannya. Namun produk yang terlihat enak dan gurih seperti sosis sering kali kehilangan nutrisi aslinya.
Baca Juga : Efek Konsumsi Daging Olahan, Pengaruhi Kesehatan Jantung hingga Perburuk Tekanan Darah
“Kelihatannya seperti daging, padahal mungkin daging aslinya kurang dari 40%, sisanya tambahan. Ada tepungnya, ada perasa, pewarna, pengawet gitu. Dan itu nggak sehat sama sekali apalagi kalau dimakan dalam jangka panjang,” kata dr. Gia, dikutip Kamis (16/6/2026).
dr. Gia menekankan bahwa UPF masuk dalam kategori karsinogenik yang merupakan zat atau proses yang dapat memicu perubahan sel normal menjadi sel kanker. “Hal-hal yang membuat sel normal berubah jadi sel kanker gitu, pencetusnya,” ucap dia.
Sementara itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk mulai mengubah kebiasaan makan dengan beralih ke real food atau makanan utuh. Hal itu diungkapkan Budi melalui takarir unggahannya yang menekankan pentingnya memilih asupan makanan yang dimasak langsung tanpa banyak tambahan bahan kimia.
Baca Juga : Waspadai Makanan Ultra Proses, Picu Obesitas hingga Kanker
"Opsi yang jauh lebih bijaksana adalah beralih ke real food atau makanan utuh. Mari ubah kebiasaan ini dengan memperbanyak real food seperti ikan, ayam, dan sayuran," tutur Budi.
Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik untuk mengurangi stok makanan olahan kemasan dan lebih mengutamakan lauk pauk segar demi kesehatan tubuh di masa depan.
(wur)
Lihat Juga :