7 Seniman Indonesia Ramaikan Venice Biennale 2026 lewat Pameran Printing the Unprinted
Sabtu, 09 Mei 2026 - 20:00 WIB
loading...
A
A
A
Di pasar musim dingin Venesia, digambarkan orang-orang Eropa menyentuh kain ulos, pelaut Batak mencicipi keju dan roti gandum, dan anak-anak Eropa menatap tato di lengan para pelaut dengan penuh takjub. Perbedaan melebur menjadi persaudaraan.
Wajah-wajah pertemuan lintas budaya ini dilukiskan oleh Mariam Sofrina melalui tiga lembar etsa berjudul Port of Malacca; Winter Market in Venice; dan West Gorga.
Sementara itu, pada bagian keenam, mengangkat tema Technology and Symbolism yang dieksplorasi oleh Nurdian Ichsan bercerita tentang para Seniman dan Perajin.
Melalui tiga etsa berjudul Forging Iron at Lake Toba; Glass and Mechanical Clocks; dan The Hybrid Emblem of Harajaon, dikisahkan pertukaran budaya yang semakin mendalam, para perajin membentuk teknologi dan simbol-simbol baru. Para perajin Batak mempelajari kaca patri, teknologi keramik, dan jam mekanis – teknologi dari Eropa abad pertengahan akhir. Setelah pelayaran usai, lahirlah segel kerajaan baru yang memadukan motif gorga Batak, heraldik Eropa, dan diagram kosmologi tiga dunia.
Babak terakhir, ketujuh, mengangkat tema Spiritual Reflection mengisahkan tentang Kaum Intelektual. Theresia Agustina Sitompul dalam tiga etsa berjudul Pre-Departure Ritual; Cathedral and the Echo of Gondang; dan Return to Silence menggambarkan lapisan terdalam perjalanan ini yang mengalirkan sebuah perenungan spiritual.
Para pendeta Datu menafsirkan pertanda dari seekor ayam sebelum keberangkatan, memaknai pelayaran sebagai takdir Banua Tonga. Selanjutnya, di dalam sebuah Katedral di Venesia, seorang filsuf Batak mendengarkan gaung paduan suara dan membandingkannya dengan harmoni tabuhan gondang sabangunan.
Dan sekembalinya ke Tanah Air, di bawah pohon beringin dekat Pusuk Buhit, ia menyimpulkan seluruh perjalanan dalam satu kalimat: "Penemuan bukanlah kepemilikan, melainkan pengakuan bahwa seluruh daratan terjalin dalam satu dunia."
Wajah-wajah pertemuan lintas budaya ini dilukiskan oleh Mariam Sofrina melalui tiga lembar etsa berjudul Port of Malacca; Winter Market in Venice; dan West Gorga.
Sementara itu, pada bagian keenam, mengangkat tema Technology and Symbolism yang dieksplorasi oleh Nurdian Ichsan bercerita tentang para Seniman dan Perajin.
Melalui tiga etsa berjudul Forging Iron at Lake Toba; Glass and Mechanical Clocks; dan The Hybrid Emblem of Harajaon, dikisahkan pertukaran budaya yang semakin mendalam, para perajin membentuk teknologi dan simbol-simbol baru. Para perajin Batak mempelajari kaca patri, teknologi keramik, dan jam mekanis – teknologi dari Eropa abad pertengahan akhir. Setelah pelayaran usai, lahirlah segel kerajaan baru yang memadukan motif gorga Batak, heraldik Eropa, dan diagram kosmologi tiga dunia.
Babak terakhir, ketujuh, mengangkat tema Spiritual Reflection mengisahkan tentang Kaum Intelektual. Theresia Agustina Sitompul dalam tiga etsa berjudul Pre-Departure Ritual; Cathedral and the Echo of Gondang; dan Return to Silence menggambarkan lapisan terdalam perjalanan ini yang mengalirkan sebuah perenungan spiritual.
Para pendeta Datu menafsirkan pertanda dari seekor ayam sebelum keberangkatan, memaknai pelayaran sebagai takdir Banua Tonga. Selanjutnya, di dalam sebuah Katedral di Venesia, seorang filsuf Batak mendengarkan gaung paduan suara dan membandingkannya dengan harmoni tabuhan gondang sabangunan.
Dan sekembalinya ke Tanah Air, di bawah pohon beringin dekat Pusuk Buhit, ia menyimpulkan seluruh perjalanan dalam satu kalimat: "Penemuan bukanlah kepemilikan, melainkan pengakuan bahwa seluruh daratan terjalin dalam satu dunia."
(nnz)
Lihat Juga :