7 Seniman Indonesia Ramaikan Venice Biennale 2026 lewat Pameran Printing the Unprinted
Sabtu, 09 Mei 2026 - 20:00 WIB
loading...
A
A
A
Rangkaian alur kisah bagian pertama dengan tema Sacred Authority and Diplomacy bercerita tentang Sang Raja yang memiliki gagasan pelayaran. Raja Uti Marbun Pusuk bertekad menyatakan tujuan pelayarannya di hadapan sebuah batu megalitik di Pusuk Buhit: membuktikan apakah negeri-negeri di balik cakrawala merupakan bagian dari dunia yang sama dengan Banua Tonga.
Hingga empat belas tahun kemudian, Raja Uti kembali mendaki Pusuk Buhit untuk kedua kalinya, menuntaskan perjalanannya dan menyampaikan pelajaran berharga bahwa Eropa pun merupakan bagian dari dunia Banua Tonga. Kisah ini dihidupkan oleh Agus Suwage yang dituangkan dalam tiga lembar etsa berjudul The Oath at Pusuk Buhit; Audience at the Republic of Batu; dan Return to the Mountain of Origin.
Kisah kedua dengan tema Sea Power and Navigation berkisah tentang Sang Admiral yang memimpin armada. Admiral Mangaraja Laut Mangiring pada 1472, mempelajari rute bintang dan peta-peta Arab dari Malaka sebelum bertolak mengikuti angin monsun barat daya bersama navigator Batak, juru mudi Melayu, penerjemah Tamil, dan astronom Persia.
Kapalnya menghadapi badai dahsyat di Selat Hormuz, dan empat belas tahun kemudian, sang admiral pulang dengan rambut yang telah memutih dan membawa pulang pengetahuan bahwa laut menghubungkan dunia-dunia yang jauh menjadi satu.
Perjalanan ini divisualisasikan oleh R.E. Hartanto melalui tiga lembar etsa berjudul Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472); Storm Off Hormuz; dan The Aging Admiral’s Face.
Bagian ketiga menggambarkan kisah Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy yang dibuat oleh Syahrizal Pahlevi. Sang navigator membuka perspektif baru, berlandaskan pengetahuan astrolab Islam sejak masa Abbasiyah, ia merancang ulang Peta Banua Tonga — menempatkan Danau Toba dan masyarakat Batak sebagai pusat, membuat Eropa tampak sebagai semenanjung kecil di tepi dunia yang tak berbatas.
Syahrizal Pahlevi membuat visualisasi dalam tiga lembar etsa berjudul Rewriting the Circle of the World; Library of Florence; dan The Inversion of the World Map.
Babak keempat menceritakan tentang Sang Naturalis dengan tema Flora and Fauna, yang divisualisasikan oleh Rusyan Yasin dalam tiga etsa berjudul Camphor Specimens and Andalas Wood; Encounters in the Alps; dan Garden of Two Climates.
Babak selanjutnya, yang kelima, mengangkat tema Faces and Culture yang bercerita tentang Masyarakat. Pelayaran ini juga adalah pertemuan manusia dengan manusia. Di Pelabuhan Malaka, bahasa Arab, Tamil, Melayu, dan Tionghoa bercampur dalam situasi perdagangan global.
Hingga empat belas tahun kemudian, Raja Uti kembali mendaki Pusuk Buhit untuk kedua kalinya, menuntaskan perjalanannya dan menyampaikan pelajaran berharga bahwa Eropa pun merupakan bagian dari dunia Banua Tonga. Kisah ini dihidupkan oleh Agus Suwage yang dituangkan dalam tiga lembar etsa berjudul The Oath at Pusuk Buhit; Audience at the Republic of Batu; dan Return to the Mountain of Origin.
Kisah kedua dengan tema Sea Power and Navigation berkisah tentang Sang Admiral yang memimpin armada. Admiral Mangaraja Laut Mangiring pada 1472, mempelajari rute bintang dan peta-peta Arab dari Malaka sebelum bertolak mengikuti angin monsun barat daya bersama navigator Batak, juru mudi Melayu, penerjemah Tamil, dan astronom Persia.
Kapalnya menghadapi badai dahsyat di Selat Hormuz, dan empat belas tahun kemudian, sang admiral pulang dengan rambut yang telah memutih dan membawa pulang pengetahuan bahwa laut menghubungkan dunia-dunia yang jauh menjadi satu.
Perjalanan ini divisualisasikan oleh R.E. Hartanto melalui tiga lembar etsa berjudul Departure Under the Southwest Monsoon Wind (1472); Storm Off Hormuz; dan The Aging Admiral’s Face.
Bagian ketiga menggambarkan kisah Sang Navigator dengan tema Maps and Astronomy yang dibuat oleh Syahrizal Pahlevi. Sang navigator membuka perspektif baru, berlandaskan pengetahuan astrolab Islam sejak masa Abbasiyah, ia merancang ulang Peta Banua Tonga — menempatkan Danau Toba dan masyarakat Batak sebagai pusat, membuat Eropa tampak sebagai semenanjung kecil di tepi dunia yang tak berbatas.
Syahrizal Pahlevi membuat visualisasi dalam tiga lembar etsa berjudul Rewriting the Circle of the World; Library of Florence; dan The Inversion of the World Map.
Babak keempat menceritakan tentang Sang Naturalis dengan tema Flora and Fauna, yang divisualisasikan oleh Rusyan Yasin dalam tiga etsa berjudul Camphor Specimens and Andalas Wood; Encounters in the Alps; dan Garden of Two Climates.
Babak selanjutnya, yang kelima, mengangkat tema Faces and Culture yang bercerita tentang Masyarakat. Pelayaran ini juga adalah pertemuan manusia dengan manusia. Di Pelabuhan Malaka, bahasa Arab, Tamil, Melayu, dan Tionghoa bercampur dalam situasi perdagangan global.
Lihat Juga :