Film 'Keluarga Suami Adalah Hama' Angkat Konflik Mertua yang Relate dengan Pasangan Muda
Jum'at, 15 Mei 2026 - 16:14 WIB
loading...
A
A
A
Anggy Umbara mengatakan, film ini sengaja dibuat membumi agar penonton merasa sedang melihat realita di sekitar mereka sendiri. “Kadang masalah rumah tangga itu bukan datang dari orang ketiga. Justru datang dari hal-hal yang dianggap normal dalam keluarga. Film ini bicara soal batas, tentang bagaimana pasangan menjaga rumah tangganya,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk menyudutkan pihak tertentu. Menurut dia, judul film ini memang terdengar keras, tetapi dipilih untuk menggambarkan gangguan kecil yang terus-menerus muncul dan akhirnya merusak hubungan secara perlahan.
Sementara itu, Raihaanun mengaku karakter Intan menjadi salah satu peran emosional yang cukup menguras tenaga selama proses syuting. Ia merasa banyak perempuan mungkin pernah mengalami situasi serupa, meski sering memilih diam. “Yang berat itu justru adegan-adegan sederhana. Ketika karakter Intan cuma menahan capek, menahan kecewa, tapi tetap harus kelihatan baik-baik saja. Banyak perempuan melakukan itu setiap hari,” katanya.
Raihaanun menyebut film ini bukan hanya bicara tentang mertua atau konflik keluarga, tetapi juga tentang komunikasi pasangan yang perlahan hilang karena tekanan hidup.
Omar Daniel mengungkapkan, karakter Damar membuatnya memahami posisi laki-laki yang sering terjebak di tengah dua tanggung jawab besar: keluarga lama dan keluarga baru. “Damar itu bukan suami jahat. Dia cuma bingung dan terlalu lama menunda memilih sikap. Kadang laki-laki memang merasa harus menyenangkan semua orang, padahal akhirnya malah menghancurkan rumah tangganya sendiri,” ucap Omar.
Ia juga menegaskan bahwa film ini tidak dibuat untuk menyudutkan pihak tertentu. Menurut dia, judul film ini memang terdengar keras, tetapi dipilih untuk menggambarkan gangguan kecil yang terus-menerus muncul dan akhirnya merusak hubungan secara perlahan.
Sementara itu, Raihaanun mengaku karakter Intan menjadi salah satu peran emosional yang cukup menguras tenaga selama proses syuting. Ia merasa banyak perempuan mungkin pernah mengalami situasi serupa, meski sering memilih diam. “Yang berat itu justru adegan-adegan sederhana. Ketika karakter Intan cuma menahan capek, menahan kecewa, tapi tetap harus kelihatan baik-baik saja. Banyak perempuan melakukan itu setiap hari,” katanya.
Raihaanun menyebut film ini bukan hanya bicara tentang mertua atau konflik keluarga, tetapi juga tentang komunikasi pasangan yang perlahan hilang karena tekanan hidup.
Omar Daniel mengungkapkan, karakter Damar membuatnya memahami posisi laki-laki yang sering terjebak di tengah dua tanggung jawab besar: keluarga lama dan keluarga baru. “Damar itu bukan suami jahat. Dia cuma bingung dan terlalu lama menunda memilih sikap. Kadang laki-laki memang merasa harus menyenangkan semua orang, padahal akhirnya malah menghancurkan rumah tangganya sendiri,” ucap Omar.
Lihat Juga :