Sentuhan Dingin Hanung Bramantyo: Menghidupkan Kembali Mahakarya Children of Heaven dengan Cita Rasa Lokal
Jum'at, 15 Mei 2026 - 18:00 WIB
loading...
Foto: Doc. Istimewa
A
A
A
JAKARTA - Kemiskinan yang digambarkan lewat medium sepatu menjadikan Film Children of Heaven ini berbeda dengan film-film yang ada, di mana kisahnya memiliki kekuatan dengan kesederhanaan tema begitu apik mengikat keseluruhan inti cerita yang dibangun.
Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini mengambil premis tentang seorang anak laki-laki yang kehilangan sepatu saudara perempuannya. Mungkin terdengar biasa saja, tetapi penonton bisa belajar jatuh bangun perjuangan mencari makna hidup.
Penonton langsung dibuat terkesan ketika film garapan Hanung Bramantyo ini di buka dengan suasana 1980-an di Semarang, di mana Presiden Soeharto mengumumkan kabinet dan didengarkan masyarakat Indonesia melalui radio dan disisi lain gambarkan situasi pasar disebuah desa.
Penonton pun diperkenalkan dengan Ali, bocah laki-laki dari keluarga sederhana yang hidup bersama ibu yang sakit, ayah pengurus masjid, serta dua adiknya, Zahra yang harus tumbuh dewasa sebelum waktunya dan seorang adik bayi yang masih kecil.
Kisahnya dimulai ketika Ali yang membawa alas kaki adiknya, Zahra ke tukang sepatu untuk diperbaiki. Namun, dalam perjalanan pulang, ketika dia berhenti untuk mengambil sayuran untuk ibunya, seorang pemulung tanpa sengaja membawa sepatu yang dibungkus plastik hitam itu.
Ali panik dan takut untuk memberi tahu orang tuanya. Bukan takut dimarahi, tetapi dia sadar diri, orang tuanya bukan dari keluarga mampu. Sementara, sang adik terus bertanya akan sepatunya itu dan bagaimana dirinya sekolah tanpa alas kaki.
Di tengah percakapan orang tuanya yang tengah membahas kondisi keuangan yang minus, adik kakak itu pun menulis di buku seperti membuat surat satu sama lain, membahas soal sepatu hilang dan solusinya.
Berlatarkan hal itu, mereka pun sepakat untuk memakai sepatu secara bergantian. Tapi, masalah ini tak selesai sampai disitu malahan menambah masalah baru yang pelik dimana Ali kerap terlambat ke sekolah karena harus menunggu sang adik yang sekolah pagi hari.
Adegan lari-larian untuk bergantian sepatu antara Ali dan Zahra membuat napas rasanya tertahan, apalagi diiringi official soundtrack berjudul “Mimpi Jadi Nyata” yang dinyanyikan Restu Van Houtten, di mana lagu ini lahir dari tangan dingin penulis naskah dan lirik ternama, Tisa TS.
Penonton diajak untuk dapat berempati dan termotivasi dengan perjuangan seorang anak untuk mewujudkan mimpi dan cita cita serta berupaya membahagiakan adik dan orangtuanya
Hanung pun menghadirkan kisah Ali dan Zahra ini tak hanya menghibur, tetapi memberi pesan penuh makna, mulai tindakan sederhana sehari hari mengenai kasih sayang, support anggota serta refleksi bagi banyak orang, bagaimana orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk berjuang dalam hidup dan tidak mengambil yang bukan haknya atau gambaran tentang cara berbagi Ali dan Zahra memutuskan untuk bergantian memakai sepasang sepatu yang sama saat pergi ke sekolah.
Children of Heaven garapan MD Pictures yang diadaptasi dari karya fenomenal sutradara Majid Majidi yang dirilis pada 1997 ini menghadirkan kebahagiaan tersirat melalui sebuah potongan adegan tersebut.
CEO MD Entertainment Manoj Punjabi yang pertama kali menyaksikan film ini pun merasa terharu lantaran 40 menit dalam scene film itu membuatnya jadi terharu, dan merasakan luapan emosi yang dalam yang membuatnya merasa beruntung menghadirkan film ini dengan pendekatan kekinian dan khas Indonesia.
“Sosok Ali-Zahra yang luar biasa. Saya dengan yakin bisa bicara bahwa adaptasi ini tidak kalah dari aslinya karena dalam film ini, kami menyajikan formula yang berbeda dari film-film MD yang lain. Saya akan all out untuk mempromosikan film ini. Saya percaya film bagus harus lebih banyak ditonton. Mudah-mudahan film ini bisa diterima,”ucapnya.
Sutradara Hanung Bramantyo pun menekankan Film Children of Heaven ingin menggambarkan ketika anak-anak memiliki persoalan berat seperti kehilangan sepatu, mereka tetap menunjukkan mampu menyelesaikan masalah sendiri. Tanpa bantuan orang lain sembari tetap menjaga martabat.
“(Kata pihak Majid Majidi) bukan fokus pada bagaimana penonton merasa tersentuh pada anak-anak yang jadi tokoh utama. Saat membuat, saya tidak pernah memikirkan penonton akan menangis, tidak memikirkan adegan ini harus sedih atau bagaimana. Tidak,” imbuhnya.
“Meski anak-anak ini jatuh ke dalam persoalan besar, mereka menjaga martabat. Menjaga martabat, itu kuncinya. Jangan jatuh kepada rengekan atau mengiba. Dengan menunjukkan martabat, maka hati seluruh manusia akan tercerahkan,”kata Hanung menyambung.
Tokoh Ali diperankan Jared Ali (10) dan Zahra diperankan Humaira Jahra (6). Selain itu, Andri Mashadi, Faradina Mufti, El Barra Varelino Sky, Oki Rengga, Muhadkly Acho, Reza Nangin, Benidictus Siregar, Didik Nini Thowok, Dodit Mulyanto, Lolox, Erick Estrada GP, Slamet Rahardjo dan Varen Arianda.
Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini mengambil premis tentang seorang anak laki-laki yang kehilangan sepatu saudara perempuannya. Mungkin terdengar biasa saja, tetapi penonton bisa belajar jatuh bangun perjuangan mencari makna hidup.
Penonton langsung dibuat terkesan ketika film garapan Hanung Bramantyo ini di buka dengan suasana 1980-an di Semarang, di mana Presiden Soeharto mengumumkan kabinet dan didengarkan masyarakat Indonesia melalui radio dan disisi lain gambarkan situasi pasar disebuah desa.
Penonton pun diperkenalkan dengan Ali, bocah laki-laki dari keluarga sederhana yang hidup bersama ibu yang sakit, ayah pengurus masjid, serta dua adiknya, Zahra yang harus tumbuh dewasa sebelum waktunya dan seorang adik bayi yang masih kecil.
Kisahnya dimulai ketika Ali yang membawa alas kaki adiknya, Zahra ke tukang sepatu untuk diperbaiki. Namun, dalam perjalanan pulang, ketika dia berhenti untuk mengambil sayuran untuk ibunya, seorang pemulung tanpa sengaja membawa sepatu yang dibungkus plastik hitam itu.
Ali panik dan takut untuk memberi tahu orang tuanya. Bukan takut dimarahi, tetapi dia sadar diri, orang tuanya bukan dari keluarga mampu. Sementara, sang adik terus bertanya akan sepatunya itu dan bagaimana dirinya sekolah tanpa alas kaki.
Di tengah percakapan orang tuanya yang tengah membahas kondisi keuangan yang minus, adik kakak itu pun menulis di buku seperti membuat surat satu sama lain, membahas soal sepatu hilang dan solusinya.
Berlatarkan hal itu, mereka pun sepakat untuk memakai sepatu secara bergantian. Tapi, masalah ini tak selesai sampai disitu malahan menambah masalah baru yang pelik dimana Ali kerap terlambat ke sekolah karena harus menunggu sang adik yang sekolah pagi hari.
Adegan lari-larian untuk bergantian sepatu antara Ali dan Zahra membuat napas rasanya tertahan, apalagi diiringi official soundtrack berjudul “Mimpi Jadi Nyata” yang dinyanyikan Restu Van Houtten, di mana lagu ini lahir dari tangan dingin penulis naskah dan lirik ternama, Tisa TS.
Penonton diajak untuk dapat berempati dan termotivasi dengan perjuangan seorang anak untuk mewujudkan mimpi dan cita cita serta berupaya membahagiakan adik dan orangtuanya
Hanung pun menghadirkan kisah Ali dan Zahra ini tak hanya menghibur, tetapi memberi pesan penuh makna, mulai tindakan sederhana sehari hari mengenai kasih sayang, support anggota serta refleksi bagi banyak orang, bagaimana orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk berjuang dalam hidup dan tidak mengambil yang bukan haknya atau gambaran tentang cara berbagi Ali dan Zahra memutuskan untuk bergantian memakai sepasang sepatu yang sama saat pergi ke sekolah.
Children of Heaven garapan MD Pictures yang diadaptasi dari karya fenomenal sutradara Majid Majidi yang dirilis pada 1997 ini menghadirkan kebahagiaan tersirat melalui sebuah potongan adegan tersebut.
CEO MD Entertainment Manoj Punjabi yang pertama kali menyaksikan film ini pun merasa terharu lantaran 40 menit dalam scene film itu membuatnya jadi terharu, dan merasakan luapan emosi yang dalam yang membuatnya merasa beruntung menghadirkan film ini dengan pendekatan kekinian dan khas Indonesia.
“Sosok Ali-Zahra yang luar biasa. Saya dengan yakin bisa bicara bahwa adaptasi ini tidak kalah dari aslinya karena dalam film ini, kami menyajikan formula yang berbeda dari film-film MD yang lain. Saya akan all out untuk mempromosikan film ini. Saya percaya film bagus harus lebih banyak ditonton. Mudah-mudahan film ini bisa diterima,”ucapnya.
Sutradara Hanung Bramantyo pun menekankan Film Children of Heaven ingin menggambarkan ketika anak-anak memiliki persoalan berat seperti kehilangan sepatu, mereka tetap menunjukkan mampu menyelesaikan masalah sendiri. Tanpa bantuan orang lain sembari tetap menjaga martabat.
“(Kata pihak Majid Majidi) bukan fokus pada bagaimana penonton merasa tersentuh pada anak-anak yang jadi tokoh utama. Saat membuat, saya tidak pernah memikirkan penonton akan menangis, tidak memikirkan adegan ini harus sedih atau bagaimana. Tidak,” imbuhnya.
“Meski anak-anak ini jatuh ke dalam persoalan besar, mereka menjaga martabat. Menjaga martabat, itu kuncinya. Jangan jatuh kepada rengekan atau mengiba. Dengan menunjukkan martabat, maka hati seluruh manusia akan tercerahkan,”kata Hanung menyambung.
Tokoh Ali diperankan Jared Ali (10) dan Zahra diperankan Humaira Jahra (6). Selain itu, Andri Mashadi, Faradina Mufti, El Barra Varelino Sky, Oki Rengga, Muhadkly Acho, Reza Nangin, Benidictus Siregar, Didik Nini Thowok, Dodit Mulyanto, Lolox, Erick Estrada GP, Slamet Rahardjo dan Varen Arianda.
(unt)
Lihat Juga :