Fenomena Lipstick Effect Viral, Ini Alasan Cafe dan Mall Tetap Penuh saat Ekonomi Sulit
Selasa, 19 Mei 2026 - 18:30 WIB
loading...
Fenomena liptick effect, walau ekonomi lesu tapi mal dan kafe masih ramai. Foto: Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Melemahnya rupiah terhadap dolar belakangan ini membuat ekonomi Indonesia disebut makin berat. Tapi banyak yang mempertanyakan ekonomi sulit kok mal dan kafe mahal masih ramai?Ternyata fenomena ini disebut sebagai"lipstick effect". Di mana fenomena ini menunjukkan bagaimana kondisi pusat perbelanjaan, restoran, hingga kafe mahal tetap ramai meski rupiah melemah.
Menurut penjelasan dari cuitan akun X @TwipsX, istilah lipstick effect sendiri pertama kali populer setelah diamati oleh perusahaan kosmetik Estée Lauder saat Amerika Serikat mengalami resesi pada 2001 pasca tragedi 9/11.
“Kalian ngerasa nggak sih, mall masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah,” tulis akun tersebut.
Baca Juga : Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar Kok
Kala itu, penjualan barang mewah besar seperti mobil atau produk premium mengalami penurunan. Namun di sisi lain, produk-produk kecil seperti lipstik dan kosmetik, justru mengalami kenaikan penjualan.
Fenomena ini kemudian digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat saat kondisi ekonomi sulit. Masyarakat memang tidak membeli barang mahal atau pengeluaran besar, tapi masih membeli hiburan kecil yang dianggap masih terjangkau. Fenomena itu pun yang saat ini terjadi di Indonesia.
“Orang nggak beli mobil baru, tapi beli kopi Rp80 ribu. Orang nggak liburan ke Jepang, tapi staycation di hotel bintang tiga,” tulis akun itu.
Masyarakat Indonesia tampak masih ramai menikmati staycation, nongkrong di cafe, membeli gadget hingga skincare. Adapun perilaku ini dinilai sebagai 'pelarian' di tengah tekanan ekonomi.
Baca Juga : Apakah Orang Desa Menderita Terdampak Pelemahan Rupiah? Ini Penjelasan Ekonom
Menurut unggahan tersebut, ramainya mall atau coffee shop belum tentu menjadi indikator ekonomi sedang baik-baik saja. Namun semata-mata karena masyarakat mencari pelarian dari beratnya kenyataan.
“Mall rame bukan karena ekonomi baik. Mall rame karena orang butuh pelarian murah dari kenyataan yang mulai berat,” lanjutnya.
Dijelaskan pula bagaimana indikator untuk memahami lemahnya ekonomi. Mulai dari lemahnya rupiah, perlambatan konsumsi rumah tangga, hingga meningkatnya PHK di sejumlah sektor industri. Tak hanya itu, fenomena lipstick effect juga disebut bisa menciptakan ilusi bahwa kondisi ekonomi masih stabil.
Pasalnya dengan fenomena ini, aktivitas konsumsi tetap terlihat tinggi di permukaan. Padahal, sebagian masyarakat mulai mengandalkan utang atau menggerus tabungan demi mempertahankan gaya hidup.
“Keramaian di permukaan tidak selalu berarti fondasi yang kuat,” tulisnya lagi.
Oleh karena itu di tengah situasi saat ini, diingatkan pula soal bijaknya mengatur keuangan. Beberapa hal yang bisa dilakukan misalnya dengan mencatat pengeluaran kecil yang rutin, memperkuat dana darurat, hingga mengurangi utang konsumtif untuk menjaga finansial tetap aman.
Menurut penjelasan dari cuitan akun X @TwipsX, istilah lipstick effect sendiri pertama kali populer setelah diamati oleh perusahaan kosmetik Estée Lauder saat Amerika Serikat mengalami resesi pada 2001 pasca tragedi 9/11.
“Kalian ngerasa nggak sih, mall masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah,” tulis akun tersebut.
Baca Juga : Prabowo: Rakyat di Desa Enggak Pakai Dolar Kok
Kala itu, penjualan barang mewah besar seperti mobil atau produk premium mengalami penurunan. Namun di sisi lain, produk-produk kecil seperti lipstik dan kosmetik, justru mengalami kenaikan penjualan.
Fenomena ini kemudian digunakan untuk menggambarkan perilaku masyarakat saat kondisi ekonomi sulit. Masyarakat memang tidak membeli barang mahal atau pengeluaran besar, tapi masih membeli hiburan kecil yang dianggap masih terjangkau. Fenomena itu pun yang saat ini terjadi di Indonesia.
“Orang nggak beli mobil baru, tapi beli kopi Rp80 ribu. Orang nggak liburan ke Jepang, tapi staycation di hotel bintang tiga,” tulis akun itu.
Masyarakat Indonesia tampak masih ramai menikmati staycation, nongkrong di cafe, membeli gadget hingga skincare. Adapun perilaku ini dinilai sebagai 'pelarian' di tengah tekanan ekonomi.
Baca Juga : Apakah Orang Desa Menderita Terdampak Pelemahan Rupiah? Ini Penjelasan Ekonom
Menurut unggahan tersebut, ramainya mall atau coffee shop belum tentu menjadi indikator ekonomi sedang baik-baik saja. Namun semata-mata karena masyarakat mencari pelarian dari beratnya kenyataan.
“Mall rame bukan karena ekonomi baik. Mall rame karena orang butuh pelarian murah dari kenyataan yang mulai berat,” lanjutnya.
Dijelaskan pula bagaimana indikator untuk memahami lemahnya ekonomi. Mulai dari lemahnya rupiah, perlambatan konsumsi rumah tangga, hingga meningkatnya PHK di sejumlah sektor industri. Tak hanya itu, fenomena lipstick effect juga disebut bisa menciptakan ilusi bahwa kondisi ekonomi masih stabil.
Pasalnya dengan fenomena ini, aktivitas konsumsi tetap terlihat tinggi di permukaan. Padahal, sebagian masyarakat mulai mengandalkan utang atau menggerus tabungan demi mempertahankan gaya hidup.
“Keramaian di permukaan tidak selalu berarti fondasi yang kuat,” tulisnya lagi.
Oleh karena itu di tengah situasi saat ini, diingatkan pula soal bijaknya mengatur keuangan. Beberapa hal yang bisa dilakukan misalnya dengan mencatat pengeluaran kecil yang rutin, memperkuat dana darurat, hingga mengurangi utang konsumtif untuk menjaga finansial tetap aman.
(wur)
Lihat Juga :