Desainer Indonesia Ditantang Jadi Agen Perubahan, Tak Lagi Sekadar Estetika
Jum'at, 12 Juni 2026 - 17:03 WIB
loading...
Perkembangan desain produk memasuki babak baru. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Perkembangan desain produk memasuki babak baru. Jika sebelumnya fokus utama berada pada aspek fungsi dan keindahan visual, kini desainer dituntut mampu menghadirkan solusi yang memberi dampak nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pandangan tersebut menjadi sorotan dalam webinar nasional ARTIVE TALK #1 bertajuk Beyond Function: Sustainable Value in Product Design yang diselenggarakan Program Studi Desain Produk Universitas Mercu Buana (UMB) pada Selasa, 9 Juni lalu. Kegiatan yang didukung Forum Program Studi Desain Produk Industri Indonesia itu mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi untuk membahas arah baru desain produk Indonesia di tengah tantangan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Ketua Program Studi Desain Produk Universitas Mercu Buana, Junaidi Salam, S.Ds., M.Ds., menilai paradigma desain produk harus bergerak melampaui sekadar menciptakan produk yang menarik secara visual. Menurutnya, desain perlu hadir sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menekankan pentingnya kepekaan desainer terhadap lingkungan sekitar, termasuk dalam memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab dan mengangkat nilai-nilai lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Para akademisi dan pelaku desain produk Indonesia perlu belajar untuk mendengar sebelum membuat, membangun empati terhadap lingkungan sekitar, serta mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana dan cukup. Kita juga perlu mengilmiahkan falsafah yang diwariskan oleh para leluhur sebagai pedoman hidup yang harmonis antara manusia, alam, lingkungan, dan desain,” ujar Junaidi.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan desain produk berbasis keberlanjutan. Kekayaan biodiversitas dan keragaman budaya yang dimiliki Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus laboratorium hidup bagi pengembangan inovasi desain yang berakar pada identitas bangsa.
Lebih jauh, forum tersebut menyoroti pentingnya penerapan ekonomi sirkular dalam praktik desain produk. Pendekatan ini dinilai mampu mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari proses produksi dan konsumsi.
“Indonesia memiliki kekayaan hayati dan budaya yang sangat besar. Potensi ini dapat menjadi pusat studi baru dan memperkaya khazanah keilmuan desain produk, sekaligus mendorong lahirnya desainer-desainer yang mampu menjadi pemimpin perubahan di tingkat global,” katanya.
ARTIVE TALK #1 menghadirkan lima narasumber dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, yakni Salman Maulana dari Universitas Esa Unggul, Nina Maftukha dari Universitas Mercu Buana, Guguh Sujatmiko dari Universitas Surabaya, Ferry Fernando dari ISI Padangpanjang, serta R. Tosan Tri Putro dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
Melalui berbagai perspektif yang disampaikan, peserta diajak melihat desain produk sebagai instrumen strategis untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. Diskusi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam menghasilkan inovasi yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.
Tingginya antusiasme peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa isu keberlanjutan semakin menjadi perhatian dalam perkembangan desain produk nasional. Di tengah tuntutan global terhadap pembangunan berkelanjutan, desain produk dinilai memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi yang inovatif, inklusif, dan berakar pada kekayaan budaya Indonesia.
Pandangan tersebut menjadi sorotan dalam webinar nasional ARTIVE TALK #1 bertajuk Beyond Function: Sustainable Value in Product Design yang diselenggarakan Program Studi Desain Produk Universitas Mercu Buana (UMB) pada Selasa, 9 Juni lalu. Kegiatan yang didukung Forum Program Studi Desain Produk Industri Indonesia itu mempertemukan akademisi, peneliti, mahasiswa, dan praktisi untuk membahas arah baru desain produk Indonesia di tengah tantangan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan.
Ketua Program Studi Desain Produk Universitas Mercu Buana, Junaidi Salam, S.Ds., M.Ds., menilai paradigma desain produk harus bergerak melampaui sekadar menciptakan produk yang menarik secara visual. Menurutnya, desain perlu hadir sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia menekankan pentingnya kepekaan desainer terhadap lingkungan sekitar, termasuk dalam memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab dan mengangkat nilai-nilai lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Para akademisi dan pelaku desain produk Indonesia perlu belajar untuk mendengar sebelum membuat, membangun empati terhadap lingkungan sekitar, serta mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana dan cukup. Kita juga perlu mengilmiahkan falsafah yang diwariskan oleh para leluhur sebagai pedoman hidup yang harmonis antara manusia, alam, lingkungan, dan desain,” ujar Junaidi.
Ia menilai Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan desain produk berbasis keberlanjutan. Kekayaan biodiversitas dan keragaman budaya yang dimiliki Indonesia dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus laboratorium hidup bagi pengembangan inovasi desain yang berakar pada identitas bangsa.
Lebih jauh, forum tersebut menyoroti pentingnya penerapan ekonomi sirkular dalam praktik desain produk. Pendekatan ini dinilai mampu mendorong pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari proses produksi dan konsumsi.
“Indonesia memiliki kekayaan hayati dan budaya yang sangat besar. Potensi ini dapat menjadi pusat studi baru dan memperkaya khazanah keilmuan desain produk, sekaligus mendorong lahirnya desainer-desainer yang mampu menjadi pemimpin perubahan di tingkat global,” katanya.
ARTIVE TALK #1 menghadirkan lima narasumber dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, yakni Salman Maulana dari Universitas Esa Unggul, Nina Maftukha dari Universitas Mercu Buana, Guguh Sujatmiko dari Universitas Surabaya, Ferry Fernando dari ISI Padangpanjang, serta R. Tosan Tri Putro dari Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta.
Melalui berbagai perspektif yang disampaikan, peserta diajak melihat desain produk sebagai instrumen strategis untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. Diskusi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam menghasilkan inovasi yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.
Tingginya antusiasme peserta dari berbagai daerah menunjukkan bahwa isu keberlanjutan semakin menjadi perhatian dalam perkembangan desain produk nasional. Di tengah tuntutan global terhadap pembangunan berkelanjutan, desain produk dinilai memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi yang inovatif, inklusif, dan berakar pada kekayaan budaya Indonesia.
(dra)
Lihat Juga :