Dokter Jantung Ungkap Plak Kolesterol Tak Bisa Hilang Meski Sudah Diet
Rabu, 17 Juni 2026 - 15:36 WIB
loading...
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Nancy Virginia, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FAPSC. Foto: Mei Sada Sirait
A
A
A
JAKARTA - Kolesterol jahat atau yang dikenal dengan sebutan LDL merupakan hal yang harus dihindari karena dapat menyumbat pembuluh darah pada jantung. Banyak orang mengira pola makan sehat dan diet ketat untuk menurunkan kolesterol.
Namun ternyata plak kolesterol yang sudah terbentuk di pembuluh darah tak bisa hilang begitu saja hanya dengan diet. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Nancy Virginia, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FAPSC menjelaskan, jal ini masih sering salah dipahami oleh masyarakat.
Menurut dr. Nancy, masih banyak yang menganggap bahwa plak kolesterol dapat dibersihkan sepenuhnya setelah seseorang menjalani pola hidup sehat atau mengonsumsi obat penurun kolesterol.
Baca Juga : Jangan Sepelekan Kolesterol Tinggi, Diam-diam Sebabkan Serangan Jantung
“Sayangnya plak itu tidak bisa di-reverse. Plak itu irreversible. Sekali saja sudah ada plak di pembuluh darah kita, ya nggak bisa simsalabim plak itu hilang,” ujar dr. Nancy dalam Health Talk Kalbe Love The Beat, Sabtu (13/6/2026).
Dokter Nancy menjelaskan, pembentukan plak kolesterol bukanlah proses yang terjadi dalam hitungan hari atau bulan. Penumpukan tersebut berlangsung perlahan selama puluhan tahun sejak usia muda.
Karena itu, banyak orang tidak menyadari bahwa proses kerusakan pembuluh darah sebenarnya sudah berlangsung lama sebelum akhirnya muncul gejala penyakit jantung. Untuk itu ia mengingatkan pentingnya mengontrol asupan makanan bahkan sejak usia dini.
Tujuannya agar kebiasaan makan 'kotor' tidak memicu tumpukan lemak di pembuluh darah.
Baca Juga : Punya Kolesterol Tinggi? Hindari 5 Sarapan Ini Agar Jantung Tetap Sehat
“Kenapa kita harus kontrol anak kita makan apa? Jangan kasih anak kita fried chicken tiap hari, kentang goreng tiap hari, bakso, sosis tiap hari. Karena dari kecil kita harus jaga supaya mereka enggak mulai ‘nabung’ tumpukan lemak di dalam pembuluh darahnya,” katanya.
Menurut dr. Nancy, kolesterol yang menumpuk dalam tubuh juga biasanya tanpa gejala. Hal ini lah yang menjadi penyebab mengapa bisa sewaktu-waktu terjadi serangan jantung.
Di mana kondisi tersebut adalah bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu ketika seseorang memasuki usia dewasa atau lanjut usia.
“20 tahun, 30 tahun nggak ada rasanya. 50 tahun jepret, bomnya meledak, serangan jantung,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Nancy juga menjelaskan bahwa obat penurun kolesterol bukan berfungsi menghilangkan plak yang sudah ada. Obat disebut hanya mencegah plak bertambah besar dan memperparah penyumbatan pembuluh darah.
Sebagai contoh, seseorang yang sudah memiliki plak 10 hingga 20 persen tetap perlu mengendalikan kadar kolesterol agar plak tersebut tidak berkembang menjadi penyumbatan 50 hingga 70 persen yang berisiko menyebabkan serangan jantung.
“Nah kalau sudah ada plak, dia sudah nggak bisa dikembalikan jadi nol persen. Minum obat itu supaya plaknya nggak progres jadi lebih besar,” jelasnya.
Untuk itu ia menginbau pasien tidak menunda pengobatan. Selain itu ia juga menegaskan bahwa pasien tidak boleh hanya mengandalkan diet, apalagi jika kadar kolesterolnya sudah berada di level berisiko tinggi.
“Kita berlomba-lomba dengan tubuh kita sendiri. Kadang usaha kita kalah sama kecepatan terjadinya penyakit. Di situlah obat berperan,” tutup dr. Nancy.
Namun ternyata plak kolesterol yang sudah terbentuk di pembuluh darah tak bisa hilang begitu saja hanya dengan diet. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Nancy Virginia, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FAPSC menjelaskan, jal ini masih sering salah dipahami oleh masyarakat.
Menurut dr. Nancy, masih banyak yang menganggap bahwa plak kolesterol dapat dibersihkan sepenuhnya setelah seseorang menjalani pola hidup sehat atau mengonsumsi obat penurun kolesterol.
Baca Juga : Jangan Sepelekan Kolesterol Tinggi, Diam-diam Sebabkan Serangan Jantung
“Sayangnya plak itu tidak bisa di-reverse. Plak itu irreversible. Sekali saja sudah ada plak di pembuluh darah kita, ya nggak bisa simsalabim plak itu hilang,” ujar dr. Nancy dalam Health Talk Kalbe Love The Beat, Sabtu (13/6/2026).
Dokter Nancy menjelaskan, pembentukan plak kolesterol bukanlah proses yang terjadi dalam hitungan hari atau bulan. Penumpukan tersebut berlangsung perlahan selama puluhan tahun sejak usia muda.
Karena itu, banyak orang tidak menyadari bahwa proses kerusakan pembuluh darah sebenarnya sudah berlangsung lama sebelum akhirnya muncul gejala penyakit jantung. Untuk itu ia mengingatkan pentingnya mengontrol asupan makanan bahkan sejak usia dini.
Tujuannya agar kebiasaan makan 'kotor' tidak memicu tumpukan lemak di pembuluh darah.
Baca Juga : Punya Kolesterol Tinggi? Hindari 5 Sarapan Ini Agar Jantung Tetap Sehat
“Kenapa kita harus kontrol anak kita makan apa? Jangan kasih anak kita fried chicken tiap hari, kentang goreng tiap hari, bakso, sosis tiap hari. Karena dari kecil kita harus jaga supaya mereka enggak mulai ‘nabung’ tumpukan lemak di dalam pembuluh darahnya,” katanya.
Menurut dr. Nancy, kolesterol yang menumpuk dalam tubuh juga biasanya tanpa gejala. Hal ini lah yang menjadi penyebab mengapa bisa sewaktu-waktu terjadi serangan jantung.
Di mana kondisi tersebut adalah bom waktu yang dapat meledak sewaktu-waktu ketika seseorang memasuki usia dewasa atau lanjut usia.
“20 tahun, 30 tahun nggak ada rasanya. 50 tahun jepret, bomnya meledak, serangan jantung,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr. Nancy juga menjelaskan bahwa obat penurun kolesterol bukan berfungsi menghilangkan plak yang sudah ada. Obat disebut hanya mencegah plak bertambah besar dan memperparah penyumbatan pembuluh darah.
Sebagai contoh, seseorang yang sudah memiliki plak 10 hingga 20 persen tetap perlu mengendalikan kadar kolesterol agar plak tersebut tidak berkembang menjadi penyumbatan 50 hingga 70 persen yang berisiko menyebabkan serangan jantung.
“Nah kalau sudah ada plak, dia sudah nggak bisa dikembalikan jadi nol persen. Minum obat itu supaya plaknya nggak progres jadi lebih besar,” jelasnya.
Untuk itu ia menginbau pasien tidak menunda pengobatan. Selain itu ia juga menegaskan bahwa pasien tidak boleh hanya mengandalkan diet, apalagi jika kadar kolesterolnya sudah berada di level berisiko tinggi.
“Kita berlomba-lomba dengan tubuh kita sendiri. Kadang usaha kita kalah sama kecepatan terjadinya penyakit. Di situlah obat berperan,” tutup dr. Nancy.
(wur)
Lihat Juga :