Apa Itu PCOS? Ini Gejala, Penyebab, dan Dampaknya terhadap Kesuburan Wanita
Rabu, 24 Juni 2026 - 18:25 WIB
loading...
Menstruasi yang tidak teratur menjadi salah satu gejala PCOS yang harus diwaspadi. Foto: Healthday
A
A
A
JAKARTA - Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK) atau juga dikenal dengan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini menjadi perhatian serius di dunia kesehatan reproduksi wanita. Kondisi tersebut umumnya terjadi pada masa usia reproduktif ini sering kali menjadi penghambat utama bagi wanita yang mendambakan kehamilan.
Melansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, SOPK merupakan kondisi endokrinologi yang mempengaruhi sekitar 5 hingga 10 persen wanita muda. Secara klinis, kondisi ini tidak hanya memicu masalah ketidaksuburan, tetapi juga berkaitan erat dengan gangguan metabolisme. Hal itu bisa berdampak signifikan pada kesehatan jangka panjang perempuan, termasuk peningkatan risiko diabetes gestasional.
Baca Juga : Apakah Penderita PCOS Harus Program Bayi Tabung Agar Bisa Punya Anak?
PCOS sendiri bisa terjadi saat ovarium memproduksi hormon estrogen dan androgen secara berlebihan. Kondisi ketidakseimbangan hormon itu akhirnya enyebabkan wanita yang mengalaminya sering kali tidak mengalami ovulasi atau pelepasan sel telur secara rutin setiaap bulan, yang pada akhirnya membuat siklus haid menjadi tidak teratur.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Fajar Alam dalam unggahan video di akun instagramnya menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator atau gejala utama PCOS yang bisa dikenali oleh wanita sejak dini. Gejala pertama yang biasanya dirasakan oleh wanita penderita PCOS adalah siklus haid yang tidak teratur.
"Apa ciri-ciri wanita menderita PCOS? PCOS sendiri adalah gejala, pertama, haidnya itu enggak teratur sama sekali. Kadang maju, kadang mundur," kata dr. Fajar Alam, dikutip Rabu (24/6/2026).
Baca Juga : Mengenal PCOS dan Penyebabnya, Sindrom Hormonal yang Dialami 1 dari 10 Wanita
Gejala kedua adalah peningkatan kadar hormon pria pada wanita juga menjadi sinyal yang harus diwaspadai. Peningkatan hormon ini sering kali bermanifestasi secara fisik. Tanda-tanda peningkatan hormon pria pada wanita itu diantaranya seperti tumbuhnya bulu-bulu lebat di tangan, kaki bahkan kumis tipis di area bibir.
"Kemudian yang kedua, itu kadar hormon prianya tinggi. Ciri-cirinya bagaimana? Tumbuh bulu-bulu lebat di tangan, kemudian di kaki, kemudian kumis-kumis yang agak tebal sedikit di daerah bibir. Itu salah satu tanda hormon pria yang tinggi pada wanita," ucap dia.
Lebih lanjut, dr. Fajar juga menuturkan bahwa diagnosis medis biasanya akan diperkuat melalui pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG). "Kemudian, kalau di USG akan muncul gambaran seperti roda pedati atau sel telurnya, folikel telurnya itu jumlahnya sangat banyak, lebih dari 12," tutur dr. Faraj Alam.
Penanganan pertama yang bisa dilakukan bagi penderita PCOS adalah dengan terapi. Terapi pertama yang umum digunakan untuk wanita dengan Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) yang tidak mengalami ovulasi adalah Klomifen sitrat atau Letrozol. Obat-obat ini termasuk dalam golongan modulator selektif reseptor estrogen.
Melansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan RI, SOPK merupakan kondisi endokrinologi yang mempengaruhi sekitar 5 hingga 10 persen wanita muda. Secara klinis, kondisi ini tidak hanya memicu masalah ketidaksuburan, tetapi juga berkaitan erat dengan gangguan metabolisme. Hal itu bisa berdampak signifikan pada kesehatan jangka panjang perempuan, termasuk peningkatan risiko diabetes gestasional.
Baca Juga : Apakah Penderita PCOS Harus Program Bayi Tabung Agar Bisa Punya Anak?
PCOS sendiri bisa terjadi saat ovarium memproduksi hormon estrogen dan androgen secara berlebihan. Kondisi ketidakseimbangan hormon itu akhirnya enyebabkan wanita yang mengalaminya sering kali tidak mengalami ovulasi atau pelepasan sel telur secara rutin setiaap bulan, yang pada akhirnya membuat siklus haid menjadi tidak teratur.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Fajar Alam dalam unggahan video di akun instagramnya menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator atau gejala utama PCOS yang bisa dikenali oleh wanita sejak dini. Gejala pertama yang biasanya dirasakan oleh wanita penderita PCOS adalah siklus haid yang tidak teratur.
"Apa ciri-ciri wanita menderita PCOS? PCOS sendiri adalah gejala, pertama, haidnya itu enggak teratur sama sekali. Kadang maju, kadang mundur," kata dr. Fajar Alam, dikutip Rabu (24/6/2026).
Baca Juga : Mengenal PCOS dan Penyebabnya, Sindrom Hormonal yang Dialami 1 dari 10 Wanita
Gejala kedua adalah peningkatan kadar hormon pria pada wanita juga menjadi sinyal yang harus diwaspadai. Peningkatan hormon ini sering kali bermanifestasi secara fisik. Tanda-tanda peningkatan hormon pria pada wanita itu diantaranya seperti tumbuhnya bulu-bulu lebat di tangan, kaki bahkan kumis tipis di area bibir.
"Kemudian yang kedua, itu kadar hormon prianya tinggi. Ciri-cirinya bagaimana? Tumbuh bulu-bulu lebat di tangan, kemudian di kaki, kemudian kumis-kumis yang agak tebal sedikit di daerah bibir. Itu salah satu tanda hormon pria yang tinggi pada wanita," ucap dia.
Lebih lanjut, dr. Fajar juga menuturkan bahwa diagnosis medis biasanya akan diperkuat melalui pemeriksaan penunjang seperti ultrasonografi (USG). "Kemudian, kalau di USG akan muncul gambaran seperti roda pedati atau sel telurnya, folikel telurnya itu jumlahnya sangat banyak, lebih dari 12," tutur dr. Faraj Alam.
Penanganan pertama yang bisa dilakukan bagi penderita PCOS adalah dengan terapi. Terapi pertama yang umum digunakan untuk wanita dengan Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) yang tidak mengalami ovulasi adalah Klomifen sitrat atau Letrozol. Obat-obat ini termasuk dalam golongan modulator selektif reseptor estrogen.
(wur)
Lihat Juga :