Bukan Sekadar Batasi Screen Time, Nova Nayla Bagikan Cara Bijak Mindful Parenting
Jum'at, 26 Juni 2026 - 06:31 WIB
loading...
A
A
A
Pertama, mencari penyebab anak terus meminta gadget sebelum mengambil tindakan.
Kedua, menyediakan aktivitas fisik yang menyenangkan seperti bersepeda, bermain bola, atau permainan gerak yang membantu anak menyalurkan energi secara sehat.
Ketiga, melibatkan anak dalam permainan edukatif seperti puzzle, lego, menggambar, atau eksperimen sederhana yang mampu merangsang kreativitas dan kemampuan berpikir kritis.
Keempat, menciptakan quality time bersama keluarga melalui aktivitas seperti membaca buku, memasak, berkebun, maupun percakapan santai yang memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Kelima, menerapkan jadwal screen time yang jelas dan konsisten sehingga anak memahami batasan penggunaan gadget tanpa merasa dihukum.
Keenam, menjadikan orang tua sebagai role model dalam penggunaan teknologi. Menurut Nova, anak cenderung meniru perilaku orang tua sehingga kebiasaan orang dewasa dalam menggunakan ponsel turut memengaruhi pola penggunaan gadget pada anak.
Ketujuh, memberikan pilihan aktivitas kepada anak dibanding ancaman atau paksaan. Pendekatan ini membuat anak merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Cerminan Tren Mindful Parenting
Menariknya, sejumlah pendekatan yang dibagikan Nova sejalan dengan tren mindful parenting yang semakin berkembang di berbagai negara.
Mindful parenting menekankan kesadaran penuh orang tua dalam memahami kebutuhan anak tanpa bereaksi secara impulsif terhadap perilaku mereka. Dalam konsep ini, hubungan emosional menjadi fondasi utama pengasuhan.
Dua poin yang paling menonjol adalah pelibatan anak dalam pengambilan keputusan serta kemampuan orang tua mengelola ekspektasi terhadap perilaku anak.
Alih-alih berharap anak langsung berhenti menggunakan gadget hanya karena diperintah, orang tua diajak memahami bahwa perubahan perilaku membutuhkan proses bertahap. Pendekatan ini membantu menciptakan stabilitas emosional yang lebih baik dan berpotensi membentuk generasi yang memiliki kemampuan regulasi diri lebih kuat di masa depan.
Dalam lingkup mikro keluarga modern, pola asuh semacam ini dinilai mampu mengurangi konflik domestik sekaligus meningkatkan kualitas hubungan antara orang tua dan anak.
Kedua, menyediakan aktivitas fisik yang menyenangkan seperti bersepeda, bermain bola, atau permainan gerak yang membantu anak menyalurkan energi secara sehat.
Ketiga, melibatkan anak dalam permainan edukatif seperti puzzle, lego, menggambar, atau eksperimen sederhana yang mampu merangsang kreativitas dan kemampuan berpikir kritis.
Keempat, menciptakan quality time bersama keluarga melalui aktivitas seperti membaca buku, memasak, berkebun, maupun percakapan santai yang memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Kelima, menerapkan jadwal screen time yang jelas dan konsisten sehingga anak memahami batasan penggunaan gadget tanpa merasa dihukum.
Keenam, menjadikan orang tua sebagai role model dalam penggunaan teknologi. Menurut Nova, anak cenderung meniru perilaku orang tua sehingga kebiasaan orang dewasa dalam menggunakan ponsel turut memengaruhi pola penggunaan gadget pada anak.
Ketujuh, memberikan pilihan aktivitas kepada anak dibanding ancaman atau paksaan. Pendekatan ini membuat anak merasa dihargai dan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Cerminan Tren Mindful Parenting
Menariknya, sejumlah pendekatan yang dibagikan Nova sejalan dengan tren mindful parenting yang semakin berkembang di berbagai negara.
Mindful parenting menekankan kesadaran penuh orang tua dalam memahami kebutuhan anak tanpa bereaksi secara impulsif terhadap perilaku mereka. Dalam konsep ini, hubungan emosional menjadi fondasi utama pengasuhan.
Dua poin yang paling menonjol adalah pelibatan anak dalam pengambilan keputusan serta kemampuan orang tua mengelola ekspektasi terhadap perilaku anak.
Alih-alih berharap anak langsung berhenti menggunakan gadget hanya karena diperintah, orang tua diajak memahami bahwa perubahan perilaku membutuhkan proses bertahap. Pendekatan ini membantu menciptakan stabilitas emosional yang lebih baik dan berpotensi membentuk generasi yang memiliki kemampuan regulasi diri lebih kuat di masa depan.
Dalam lingkup mikro keluarga modern, pola asuh semacam ini dinilai mampu mengurangi konflik domestik sekaligus meningkatkan kualitas hubungan antara orang tua dan anak.
Lihat Juga :