Gaya Baru Anak Muda Indonesia Menyiapkan Karier Global
Jum'at, 26 Juni 2026 - 16:13 WIB
loading...
Minat pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi bertaraf internasional terus meningkat. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Minat pelajar Indonesia untuk menempuh pendidikan tinggi bertaraf internasional terus meningkat. Salah satu faktor yang menjadi pertimbangan adalah kesempatan memperoleh pengalaman akademik lintas negara, jejaring global, hingga peluang karier yang lebih luas setelah lulus.
Xi’an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), universitas joint venture internasional hasil kolaborasi Xi’an Jiaotong University di Tiongkok dan University of Liverpool di Inggris, mencatat Indonesia menjadi pasar internasional terbesar bagi kampus tersebut.
Saat ini, sekitar 700 mahasiswa Indonesia tengah menempuh studi di XJTLU. Untuk periode penerimaan September mendatang, jumlah aplikasi sarjana dari Indonesia telah mencapai lebih dari 1.500 pendaftar atau sekitar 38 persen dari total aplikasi internasional.
Executive President of XJTLU Professor Youmin Xi mengatakan, lingkungan kampus yang multikultural menjadi salah satu pengalaman penting bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia.
“Saat ini XJTLU memiliki tenaga pengajar yang berasal lebih dari 60 negara dan wilayah yang berbeda-beda dari seluruh dunia. Dan mahasiswa kami juga berasal dari hampir 100 negara dan wilayah yang berbeda, sehingga mahasiswa di kampus kami sudah terbiasa dengan atmosfer ragam budaya yang berbeda,” ujar Professor Youmin Xi dalam media session di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, pendidikan tinggi saat ini tidak hanya menuntut penguasaan akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan bijaksana dalam menghadapi perubahan global.
“Model edukasi kami adalah bagaimana kami dapat membantu mahasiswa untuk tumbuh dengan kemampuan berpikir yang cepat dan penuh dengan kebijaksanaan. Mereka dapat mengembangkan berbagai kemampuan, bahkan berkolaborasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan,” kata Professor Xi.
Ia menambahkan, pendekatan pendidikan yang diterapkan juga berupaya menggabungkan perspektif Barat dan Timur agar mahasiswa memiliki cara pandang yang lebih luas.
“Kami juga mendukung mereka untuk membangun wisdom, yakni kemampuan berpikir yang mendalam sekaligus kebijaksanaan, dengan mengintegrasikan pengetahuan dari perspektif Barat dan Timur,” ucapnya.
Saat ini, XJTLU menawarkan lebih dari 100 program gelar di berbagai bidang, mulai dari sains, teknik, bisnis, keuangan, arsitektur, perencanaan kota, bahasa, hingga budaya. Seluruh program diajarkan dalam bahasa Inggris, kecuali mata kuliah umum dan dasar.
Untuk jenjang sarjana, mahasiswa memperoleh dua gelar, yakni gelar dari XJTLU yang diakui oleh Kementerian Pendidikan Tiongkok dan gelar dari University of Liverpool yang diakui secara global. Sementara itu, mahasiswa pascasarjana memperoleh gelar dari University of Liverpool yang juga diakui oleh Kementerian Pendidikan.
Pengalaman menempuh pendidikan internasional juga dirasakan alumni XJTLU, Tuty Julfa. Ia menilai, kuliah di lingkungan global tidak hanya membantu pengembangan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kesiapan karier.
“Saya merasa sangat beruntung dapat berkuliah di XJTLU utamanya karena tidak hanya kemampuan hard skill namun juga soft skill untuk pengembangan karier saya. Jadi bukan hanya bidang akademik saja namun juga interpersonal skill, bagaimana kita mengasah kegigihan dan ketekunan,” ujar Tuty.
“Sesuatu yang tampaknya sederhana namun sangat berperan penting karena itu yang mengubah dan membentuk saya,” lanjut Tuty yang kini berbisnis di bidang fashion retail.
Sebagai bagian dari penguatan hubungan dengan Indonesia, XJTLU telah mendirikan perwakilan resmi di Indonesia pada 2024. Kehadiran perwakilan ini diarahkan untuk memperkuat komunikasi dengan calon mahasiswa, mitra pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Pada Juni 2026, XJTLU juga menambah staf rekrutmen di Indonesia untuk memperluas layanan bagi calon mahasiswa. Kampus tersebut turut menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan di Indonesia, termasuk Binus University, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Petra Christian University Surabaya.
Selain membuka akses pendidikan internasional, isu kecakapan teknologi juga menjadi perhatian. Professor Xi menyebut, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai utama pembelajaran.
“Tahun ini adalah tahun ke-20 universitas kami. Dunia di masa depan membutuhkan pilar baru, yaitu individu yang mampu bekerja berdampingan dengan AI,” katanya.
Ia menjelaskan, mahasiswa diperkenalkan dengan AI sejak tahun pertama, mulai dari pemahaman dasar, cara penggunaan, hingga etika AI. Pada tahun berikutnya, mahasiswa diarahkan menggunakan AI dalam berbagai bidang studi, seperti matematika, teknik, maupun ilmu sosial.
“Kami menggunakan AI untuk mendukung edukasi, melakukan upgrade, restructure, dan reshape. Tapi, kami tidak ingin menggunakan AI untuk menggantikan edukasi,” ujar Professor Xi.
“Jika ada manusia, edukasi akan bertahan sepanjang masa. Filosofi kami adalah X plus AI, bukan AI plus X. Dari AI, tak hanya belajar namun juga bertahan untuk masa depan,” pungkasnya.
Xi’an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), universitas joint venture internasional hasil kolaborasi Xi’an Jiaotong University di Tiongkok dan University of Liverpool di Inggris, mencatat Indonesia menjadi pasar internasional terbesar bagi kampus tersebut.
Saat ini, sekitar 700 mahasiswa Indonesia tengah menempuh studi di XJTLU. Untuk periode penerimaan September mendatang, jumlah aplikasi sarjana dari Indonesia telah mencapai lebih dari 1.500 pendaftar atau sekitar 38 persen dari total aplikasi internasional.
Executive President of XJTLU Professor Youmin Xi mengatakan, lingkungan kampus yang multikultural menjadi salah satu pengalaman penting bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia.
“Saat ini XJTLU memiliki tenaga pengajar yang berasal lebih dari 60 negara dan wilayah yang berbeda-beda dari seluruh dunia. Dan mahasiswa kami juga berasal dari hampir 100 negara dan wilayah yang berbeda, sehingga mahasiswa di kampus kami sudah terbiasa dengan atmosfer ragam budaya yang berbeda,” ujar Professor Youmin Xi dalam media session di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, pendidikan tinggi saat ini tidak hanya menuntut penguasaan akademik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan bijaksana dalam menghadapi perubahan global.
“Model edukasi kami adalah bagaimana kami dapat membantu mahasiswa untuk tumbuh dengan kemampuan berpikir yang cepat dan penuh dengan kebijaksanaan. Mereka dapat mengembangkan berbagai kemampuan, bahkan berkolaborasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan,” kata Professor Xi.
Ia menambahkan, pendekatan pendidikan yang diterapkan juga berupaya menggabungkan perspektif Barat dan Timur agar mahasiswa memiliki cara pandang yang lebih luas.
“Kami juga mendukung mereka untuk membangun wisdom, yakni kemampuan berpikir yang mendalam sekaligus kebijaksanaan, dengan mengintegrasikan pengetahuan dari perspektif Barat dan Timur,” ucapnya.
Saat ini, XJTLU menawarkan lebih dari 100 program gelar di berbagai bidang, mulai dari sains, teknik, bisnis, keuangan, arsitektur, perencanaan kota, bahasa, hingga budaya. Seluruh program diajarkan dalam bahasa Inggris, kecuali mata kuliah umum dan dasar.
Untuk jenjang sarjana, mahasiswa memperoleh dua gelar, yakni gelar dari XJTLU yang diakui oleh Kementerian Pendidikan Tiongkok dan gelar dari University of Liverpool yang diakui secara global. Sementara itu, mahasiswa pascasarjana memperoleh gelar dari University of Liverpool yang juga diakui oleh Kementerian Pendidikan.
Pengalaman menempuh pendidikan internasional juga dirasakan alumni XJTLU, Tuty Julfa. Ia menilai, kuliah di lingkungan global tidak hanya membantu pengembangan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kesiapan karier.
“Saya merasa sangat beruntung dapat berkuliah di XJTLU utamanya karena tidak hanya kemampuan hard skill namun juga soft skill untuk pengembangan karier saya. Jadi bukan hanya bidang akademik saja namun juga interpersonal skill, bagaimana kita mengasah kegigihan dan ketekunan,” ujar Tuty.
“Sesuatu yang tampaknya sederhana namun sangat berperan penting karena itu yang mengubah dan membentuk saya,” lanjut Tuty yang kini berbisnis di bidang fashion retail.
Sebagai bagian dari penguatan hubungan dengan Indonesia, XJTLU telah mendirikan perwakilan resmi di Indonesia pada 2024. Kehadiran perwakilan ini diarahkan untuk memperkuat komunikasi dengan calon mahasiswa, mitra pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya.
Pada Juni 2026, XJTLU juga menambah staf rekrutmen di Indonesia untuk memperluas layanan bagi calon mahasiswa. Kampus tersebut turut menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan di Indonesia, termasuk Binus University, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Petra Christian University Surabaya.
Selain membuka akses pendidikan internasional, isu kecakapan teknologi juga menjadi perhatian. Professor Xi menyebut, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi tanpa kehilangan nilai utama pembelajaran.
“Tahun ini adalah tahun ke-20 universitas kami. Dunia di masa depan membutuhkan pilar baru, yaitu individu yang mampu bekerja berdampingan dengan AI,” katanya.
Ia menjelaskan, mahasiswa diperkenalkan dengan AI sejak tahun pertama, mulai dari pemahaman dasar, cara penggunaan, hingga etika AI. Pada tahun berikutnya, mahasiswa diarahkan menggunakan AI dalam berbagai bidang studi, seperti matematika, teknik, maupun ilmu sosial.
“Kami menggunakan AI untuk mendukung edukasi, melakukan upgrade, restructure, dan reshape. Tapi, kami tidak ingin menggunakan AI untuk menggantikan edukasi,” ujar Professor Xi.
“Jika ada manusia, edukasi akan bertahan sepanjang masa. Filosofi kami adalah X plus AI, bukan AI plus X. Dari AI, tak hanya belajar namun juga bertahan untuk masa depan,” pungkasnya.
(dra)
Lihat Juga :