Rahasia di Balik Kesuksesan Pembukaan Hotel, Ternyata Bukan Saat Gunting Pita
Sabtu, 27 Juni 2026 - 21:00 WIB
loading...
Banyak orang menganggap kesuksesan acara pembukaan sebuah hotel dimulai adalah saat menggunting pita, tamu pertama datang, dan unggahan media sosial. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Banyak orang menganggap kesuksesan acara pembukaan sebuah hotel dimulai adalah saat menggunting pita, tamu pertama datang, dan unggahan media sosial mulai bermunculan. Padahal, momen itu hanyalah puncak dari proses panjang yang telah berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelumnya.
Di balik sebuah grand opening yang berjalan mulus, terdapat perencanaan yang matang, koordinasi lintas tim, strategi bisnis yang presisi, hingga kesiapan sumber daya manusia yang tidak terlihat oleh publik.
Pandangan itu disampaikan Rob Collier, Managing Director Future Openings untuk kawasan Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan di Radisson Hotel Group. Selama berkarier, ia telah mengawal lebih dari 100 proyek pembukaan hotel dengan berbagai konsep, mulai dari hotel kelas menengah hingga properti mewah bergaya lifestyle.
Menurutnya, tidak ada satu rumus yang bisa diterapkan untuk semua proyek.
"Setiap hotel memiliki tantangan yang berbeda. Yang paling penting adalah memiliki struktur yang jelas, tim yang tepat, serta kemampuan beradaptasi ketika situasi berubah," kata Collier.
Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi dalam pengembangan hotel adalah anggapan bahwa persiapan baru dimulai ketika pembangunan fisik hampir selesai.
Faktanya, justru pada tahap awal berbagai fondasi keberhasilan sudah harus dibangun.
Mulai dari penyelarasan visi antara operator dan pemilik, penyusunan jadwal yang realistis, pengelolaan anggaran pra-pembukaan, perekrutan jajaran manajemen, hingga strategi pemasaran yang mampu memperkenalkan hotel ke pasar sejak dini.
Dengan kata lain, hotel tidak hanya harus siap secara fisik, tetapi juga siap beroperasi dan siap bersaing.
Industri perhotelan saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih dinamis dibanding beberapa tahun lalu.
Inflasi global, gangguan rantai pasok, keterbatasan tenaga kerja, hingga ketidakpastian geopolitik membuat jadwal proyek dapat berubah sewaktu-waktu. Anggaran pun sering kali harus disesuaikan dengan kondisi terbaru.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan beradaptasi menjadi kualitas yang tidak bisa ditawar.
Tim proyek harus mampu menjaga target tetap tercapai tanpa mengorbankan kualitas pelayanan yang nantinya akan dirasakan tamu.
Di dunia hospitality, menyelesaikan proyek sesuai jadwal memang penting. Namun menurut Rob Collier, membuka hotel tepat waktu belum tentu berarti membuka hotel dengan baik.
Sebuah hotel mungkin sudah selesai dibangun, tetapi belum siap menerima tamu secara optimal apabila sistem reservasi belum berjalan sempurna, kanal digital belum aktif, materi promosi belum tersedia, atau tim operasional belum memperoleh pelatihan yang memadai.
Akibatnya, hotel bisa kehilangan momentum berharga pada hari-hari pertama operasional.
Padahal, kesan pertama tamu kini terbentuk sangat cepat melalui ulasan daring dan media sosial. Pengalaman awal yang kurang memuaskan dapat langsung memengaruhi reputasi sebuah hotel.
Menurut Rob, pola pikir para pemilik hotel juga mengalami perubahan. Jika dahulu fokus utama berada pada pembangunan fisik, kini perhatian bergeser ke strategi bisnis sejak sebelum hotel beroperasi.
Revenue management, pemasaran digital, reputasi online, hingga proyeksi permintaan pasar menjadi bagian penting dalam proses pembukaan.
Sebab, tamu masa kini tidak sekadar membeli kamar. Mereka membeli pengalaman yang bahkan sudah dimulai sejak pertama kali melihat hotel di internet.
Brand positioning yang kuat dan kepercayaan konsumen menjadi modal penting untuk memenangkan persaingan.
Dalam proyek sebesar pembangunan hotel, perubahan hampir selalu terjadi.Persetujuan yang terlambat dapat menghambat pelatihan karyawan. Masalah distribusi perlengkapan bisa memengaruhi kesiapan operasional. Kekurangan tenaga kerja juga berdampak langsung pada kualitas pelayanan.
Yang membedakan proyek sukses bukanlah tidak adanya masalah, melainkan kemampuan seluruh pihak untuk mengambil keputusan dengan cepat dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
Karena itu, hubungan yang erat antara pemilik dan operator menjadi faktor yang sangat menentukan.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), kini semakin banyak dimanfaatkan dalam proses pembukaan hotel.
AI membantu mempercepat analisis data, menyusun proyeksi bisnis, meningkatkan efektivitas pemasaran, hingga mendukung pengalaman tamu sejak sebelum check-in.
Meski demikian, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran manusia.
General Manager yang kompeten, pemimpin departemen yang berpengalaman, serta budaya kerja yang positif tetap menjadi penentu utama kualitas layanan.
Hotel yang berhasil biasanya sudah memiliki tim yang merasa memiliki hotel tersebut bahkan sebelum tamu pertama datang.
Tidak ada dua proyek hotel yang benar-benar sama.
Membuka sebuah resort tentu berbeda dengan hotel bisnis di pusat kota. Begitu pula proyek konversi bangunan lama memiliki tantangan yang berbeda dibanding pembangunan hotel baru dari nol.
Karena itulah setiap proyek membutuhkan pendekatan yang fleksibel.
Namun ada satu benang merah yang selalu sama, yakni disiplin dalam eksekusi, kesiapan operasional, strategi komersial yang matang, serta hubungan saling percaya antara pemilik dan operator.
Seiring berkembangnya industri perhotelan, para pemilik kini tidak lagi hanya mencari nama besar sebuah merek. Mereka menginginkan operator yang memahami realitas pengembangan proyek, mampu menyeimbangkan standar global dengan kebutuhan di lapangan, serta memiliki visi jangka panjang dalam mengembangkan bisnis.
Pada akhirnya, seremoni pemotongan pita hanyalah simbol dimulainya perjalanan sebuah hotel.
Rahasia sesungguhnya dari pembukaan hotel yang sukses justru tersembunyi pada seluruh proses yang terjadi sebelumnya—mulai dari perencanaan, koordinasi, kesiapan operasional, strategi komersial, hingga kekuatan kemitraan antara pemilik dan operator. Semua itulah yang menentukan apakah sebuah hotel mampu memberikan pengalaman terbaik kepada tamunya sejak hari pertama beroperasi.
Di balik sebuah grand opening yang berjalan mulus, terdapat perencanaan yang matang, koordinasi lintas tim, strategi bisnis yang presisi, hingga kesiapan sumber daya manusia yang tidak terlihat oleh publik.
Pandangan itu disampaikan Rob Collier, Managing Director Future Openings untuk kawasan Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara, dan Pasifik Selatan di Radisson Hotel Group. Selama berkarier, ia telah mengawal lebih dari 100 proyek pembukaan hotel dengan berbagai konsep, mulai dari hotel kelas menengah hingga properti mewah bergaya lifestyle.
Menurutnya, tidak ada satu rumus yang bisa diterapkan untuk semua proyek.
"Setiap hotel memiliki tantangan yang berbeda. Yang paling penting adalah memiliki struktur yang jelas, tim yang tepat, serta kemampuan beradaptasi ketika situasi berubah," kata Collier.
Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi dalam pengembangan hotel adalah anggapan bahwa persiapan baru dimulai ketika pembangunan fisik hampir selesai.
Faktanya, justru pada tahap awal berbagai fondasi keberhasilan sudah harus dibangun.
Mulai dari penyelarasan visi antara operator dan pemilik, penyusunan jadwal yang realistis, pengelolaan anggaran pra-pembukaan, perekrutan jajaran manajemen, hingga strategi pemasaran yang mampu memperkenalkan hotel ke pasar sejak dini.
Dengan kata lain, hotel tidak hanya harus siap secara fisik, tetapi juga siap beroperasi dan siap bersaing.
Industri perhotelan saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih dinamis dibanding beberapa tahun lalu.
Inflasi global, gangguan rantai pasok, keterbatasan tenaga kerja, hingga ketidakpastian geopolitik membuat jadwal proyek dapat berubah sewaktu-waktu. Anggaran pun sering kali harus disesuaikan dengan kondisi terbaru.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan beradaptasi menjadi kualitas yang tidak bisa ditawar.
Tim proyek harus mampu menjaga target tetap tercapai tanpa mengorbankan kualitas pelayanan yang nantinya akan dirasakan tamu.
Di dunia hospitality, menyelesaikan proyek sesuai jadwal memang penting. Namun menurut Rob Collier, membuka hotel tepat waktu belum tentu berarti membuka hotel dengan baik.
Sebuah hotel mungkin sudah selesai dibangun, tetapi belum siap menerima tamu secara optimal apabila sistem reservasi belum berjalan sempurna, kanal digital belum aktif, materi promosi belum tersedia, atau tim operasional belum memperoleh pelatihan yang memadai.
Akibatnya, hotel bisa kehilangan momentum berharga pada hari-hari pertama operasional.
Padahal, kesan pertama tamu kini terbentuk sangat cepat melalui ulasan daring dan media sosial. Pengalaman awal yang kurang memuaskan dapat langsung memengaruhi reputasi sebuah hotel.
Menurut Rob, pola pikir para pemilik hotel juga mengalami perubahan. Jika dahulu fokus utama berada pada pembangunan fisik, kini perhatian bergeser ke strategi bisnis sejak sebelum hotel beroperasi.
Revenue management, pemasaran digital, reputasi online, hingga proyeksi permintaan pasar menjadi bagian penting dalam proses pembukaan.
Sebab, tamu masa kini tidak sekadar membeli kamar. Mereka membeli pengalaman yang bahkan sudah dimulai sejak pertama kali melihat hotel di internet.
Brand positioning yang kuat dan kepercayaan konsumen menjadi modal penting untuk memenangkan persaingan.
Dalam proyek sebesar pembangunan hotel, perubahan hampir selalu terjadi.Persetujuan yang terlambat dapat menghambat pelatihan karyawan. Masalah distribusi perlengkapan bisa memengaruhi kesiapan operasional. Kekurangan tenaga kerja juga berdampak langsung pada kualitas pelayanan.
Yang membedakan proyek sukses bukanlah tidak adanya masalah, melainkan kemampuan seluruh pihak untuk mengambil keputusan dengan cepat dan menyelesaikan persoalan secara bersama-sama.
Karena itu, hubungan yang erat antara pemilik dan operator menjadi faktor yang sangat menentukan.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), kini semakin banyak dimanfaatkan dalam proses pembukaan hotel.
AI membantu mempercepat analisis data, menyusun proyeksi bisnis, meningkatkan efektivitas pemasaran, hingga mendukung pengalaman tamu sejak sebelum check-in.
Meski demikian, teknologi tetap tidak dapat menggantikan peran manusia.
General Manager yang kompeten, pemimpin departemen yang berpengalaman, serta budaya kerja yang positif tetap menjadi penentu utama kualitas layanan.
Hotel yang berhasil biasanya sudah memiliki tim yang merasa memiliki hotel tersebut bahkan sebelum tamu pertama datang.
Tidak ada dua proyek hotel yang benar-benar sama.
Membuka sebuah resort tentu berbeda dengan hotel bisnis di pusat kota. Begitu pula proyek konversi bangunan lama memiliki tantangan yang berbeda dibanding pembangunan hotel baru dari nol.
Karena itulah setiap proyek membutuhkan pendekatan yang fleksibel.
Namun ada satu benang merah yang selalu sama, yakni disiplin dalam eksekusi, kesiapan operasional, strategi komersial yang matang, serta hubungan saling percaya antara pemilik dan operator.
Seiring berkembangnya industri perhotelan, para pemilik kini tidak lagi hanya mencari nama besar sebuah merek. Mereka menginginkan operator yang memahami realitas pengembangan proyek, mampu menyeimbangkan standar global dengan kebutuhan di lapangan, serta memiliki visi jangka panjang dalam mengembangkan bisnis.
Pada akhirnya, seremoni pemotongan pita hanyalah simbol dimulainya perjalanan sebuah hotel.
Rahasia sesungguhnya dari pembukaan hotel yang sukses justru tersembunyi pada seluruh proses yang terjadi sebelumnya—mulai dari perencanaan, koordinasi, kesiapan operasional, strategi komersial, hingga kekuatan kemitraan antara pemilik dan operator. Semua itulah yang menentukan apakah sebuah hotel mampu memberikan pengalaman terbaik kepada tamunya sejak hari pertama beroperasi.
(dra)
Lihat Juga :