GSDC 2026 di ICE BSD Perkuat Posisi Indonesia dalam Industri MICE Berkelanjutan
Selasa, 30 Juni 2026 - 20:22 WIB
loading...
Industri Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions (MICE) menunjukkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Indonesia. Foto/ist
A
A
A
JAKARTA - Industri Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions (MICE) terus menunjukkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan pariwisata Indonesia. Hingga September 2025, sebanyak 134 event nasional tercatat telah diselenggarakan dengan total 10,8 juta pengunjung.
Indonesia juga menempati peringkat ke-37 dunia dan ke-4 di kawasan ASEAN dalam industri MICE. Capaian ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi penyelenggaraan event dan konferensi internasional yang semakin kompetitif.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, pemerintah menargetkan kontribusi devisa sektor MICE meningkat dari sekitar 10% menjadi 15% pada 2029. Target itu didorong melalui penguatan ekosistem event nasional, peningkatan daya saing destinasi, serta perluasan dampak ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Momentum tersebut turut membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah forum global berskala besar. Salah satunya melalui penyelenggaraan Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan.
Forum pembangunan berkelanjutan ini mempertemukan para pemimpin global dari berbagai sektor untuk membahas inovasi, pertukaran pengetahuan, dan aksi nyata dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
General Manager ICE BSD, Siti Karmila, mengatakan penunjukan ICE BSD sebagai tuan rumah GSDC 2026 menjadi bentuk pengakuan terhadap kapasitas dan standar operasional yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
"Penunjukan ICE BSD sebagai tuan rumah GSDC 2026 merupakan kehormatan besar sekaligus pengakuan terhadap kapasitas dan standar operasional yang telah kami bangun selama bertahun-tahun. Kami berkomitmen tidak hanya menghadirkan fasilitas terbaik, tetapi juga menjadi hub kolaborasi global yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong inovasi dan pertukaran pengetahuan demi percepatan pembangunan berkelanjutan," ujar Siti Karmila.
Seiring meningkatnya tuntutan terhadap penyelenggaraan event yang lebih ramah lingkungan, ICE BSD terus memperkuat perannya sebagai destinasi MICE yang mengintegrasikan aspek operasional dengan tanggung jawab lingkungan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, mulai dari efisiensi energi lewat pemanfaatan pencahayaan alami, penggunaan lampu LED hemat energi, sistem daur ulang air, hingga penyediaan EV Charging Station bagi pengunjung dan peserta acara.
Dalam penyelenggaraan GSDC 2026, ICE BSD juga berkolaborasi dengan Rekosistem untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Inisiatif ini mencakup penyediaan tempat sampah terpilah, pendampingan edukator dalam proses pemilahan, serta penyediaan Reverse Vending Machine (RVM) untuk mendorong partisipasi peserta dalam pengumpulan material daur ulang.
Melalui kolaborasi tersebut, sebanyak 1,62 ton sampah berhasil dikelola selama penyelenggaraan GSDC 2026. Dari jumlah itu, Rekosistem mencatat tingkat pemulihan atau recovery rate mencapai 41% yang berhasil dialihkan dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) untuk masuk ke proses daur ulang.
Sementara itu, 57,30% sampah tercatat sebagai residu dan 1,60% lainnya berupa sampah organik. Dari total sampah yang dikumpulkan dalam empat kali frekuensi pengangkutan, material anorganik yang berhasil diselamatkan didominasi plastik sebesar 14,35% dan kertas sebesar 10,07%, disusul botol plastik, kardus, kaca, hingga logam.
Upaya pemilahan dan pengelolaan sampah terpadu tersebut juga berdampak pada pengurangan emisi karbon hingga 667,9 kg CO2. Angka itu setara dengan penanaman 11,35 bibit pohon selama 10 tahun, penghematan 285,70 liter bensin, atau 333,25 kg batu bara.
"Melalui GSDC 2026, kami ingin menunjukkan bahwa penyelenggaraan forum internasional berskala global dapat berjalan selaras dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi penyelenggara event lainnya dalam mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan dan berdampak luas bagi industri MICE," kata Siti Karmila.
GSDC 2026 menghadirkan lebih dari 5.000 peserta, 500 pembicara, 200 peserta pameran, serta delegasi dari lebih dari 100 negara. Forum ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pencapaian SDGs melalui inovasi, pengetahuan, dan aksi nyata.
Selain fasilitas penyelenggaraan, ICE BSD memiliki nilai tambah dari sisi aksesibilitas. Lokasinya dapat dijangkau melalui berbagai moda transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Bagi delegasi yang datang melalui jalur udara, perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju ICE BSD dapat ditempuh sekitar 35 menit menggunakan mobil maupun layanan kereta bandara.
Akses transportasi publik juga tersedia melalui rute Airport Train atau KAI Bandara Railink menuju Stasiun Duri, kemudian tersambung dengan kereta komuter melalui Tanah Abang menuju Rangkasbitung Line hingga Stasiun Cisauk. Dari stasiun tersebut, peserta dapat melanjutkan perjalanan singkat menggunakan taksi atau transportasi daring menuju lokasi acara.
Untuk akses darat, ICE BSD juga terhubung dengan jaringan jalan tol utama, termasuk Tol Prof. Dr. Sedyatmo, JORR W2, dan Tol Kunciran–Serpong.
Dengan area indoor dan outdoor seluas lebih dari 85.000 meter persegi, ICE BSD telah menjadi salah satu destinasi MICE utama di Indonesia. Selama lebih dari satu dekade, lokasi ini menjadi tuan rumah berbagai konferensi, pameran, konser, dan forum internasional.
Berlokasi di BSD City yang terintegrasi dengan hotel, pusat komersial, dan akses transportasi, ICE BSD terus memperkuat posisinya dalam mendukung penyelenggaraan event berskala global, termasuk forum yang menempatkan isu keberlanjutan sebagai agenda utama.
Indonesia juga menempati peringkat ke-37 dunia dan ke-4 di kawasan ASEAN dalam industri MICE. Capaian ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi penyelenggaraan event dan konferensi internasional yang semakin kompetitif.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, pemerintah menargetkan kontribusi devisa sektor MICE meningkat dari sekitar 10% menjadi 15% pada 2029. Target itu didorong melalui penguatan ekosistem event nasional, peningkatan daya saing destinasi, serta perluasan dampak ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Momentum tersebut turut membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menjadi tuan rumah forum global berskala besar. Salah satunya melalui penyelenggaraan Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang Selatan.
Forum pembangunan berkelanjutan ini mempertemukan para pemimpin global dari berbagai sektor untuk membahas inovasi, pertukaran pengetahuan, dan aksi nyata dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
General Manager ICE BSD, Siti Karmila, mengatakan penunjukan ICE BSD sebagai tuan rumah GSDC 2026 menjadi bentuk pengakuan terhadap kapasitas dan standar operasional yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
"Penunjukan ICE BSD sebagai tuan rumah GSDC 2026 merupakan kehormatan besar sekaligus pengakuan terhadap kapasitas dan standar operasional yang telah kami bangun selama bertahun-tahun. Kami berkomitmen tidak hanya menghadirkan fasilitas terbaik, tetapi juga menjadi hub kolaborasi global yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong inovasi dan pertukaran pengetahuan demi percepatan pembangunan berkelanjutan," ujar Siti Karmila.
Seiring meningkatnya tuntutan terhadap penyelenggaraan event yang lebih ramah lingkungan, ICE BSD terus memperkuat perannya sebagai destinasi MICE yang mengintegrasikan aspek operasional dengan tanggung jawab lingkungan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif keberlanjutan, mulai dari efisiensi energi lewat pemanfaatan pencahayaan alami, penggunaan lampu LED hemat energi, sistem daur ulang air, hingga penyediaan EV Charging Station bagi pengunjung dan peserta acara.
Dalam penyelenggaraan GSDC 2026, ICE BSD juga berkolaborasi dengan Rekosistem untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Inisiatif ini mencakup penyediaan tempat sampah terpilah, pendampingan edukator dalam proses pemilahan, serta penyediaan Reverse Vending Machine (RVM) untuk mendorong partisipasi peserta dalam pengumpulan material daur ulang.
Melalui kolaborasi tersebut, sebanyak 1,62 ton sampah berhasil dikelola selama penyelenggaraan GSDC 2026. Dari jumlah itu, Rekosistem mencatat tingkat pemulihan atau recovery rate mencapai 41% yang berhasil dialihkan dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) untuk masuk ke proses daur ulang.
Sementara itu, 57,30% sampah tercatat sebagai residu dan 1,60% lainnya berupa sampah organik. Dari total sampah yang dikumpulkan dalam empat kali frekuensi pengangkutan, material anorganik yang berhasil diselamatkan didominasi plastik sebesar 14,35% dan kertas sebesar 10,07%, disusul botol plastik, kardus, kaca, hingga logam.
Upaya pemilahan dan pengelolaan sampah terpadu tersebut juga berdampak pada pengurangan emisi karbon hingga 667,9 kg CO2. Angka itu setara dengan penanaman 11,35 bibit pohon selama 10 tahun, penghematan 285,70 liter bensin, atau 333,25 kg batu bara.
"Melalui GSDC 2026, kami ingin menunjukkan bahwa penyelenggaraan forum internasional berskala global dapat berjalan selaras dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi penyelenggara event lainnya dalam mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan dan berdampak luas bagi industri MICE," kata Siti Karmila.
GSDC 2026 menghadirkan lebih dari 5.000 peserta, 500 pembicara, 200 peserta pameran, serta delegasi dari lebih dari 100 negara. Forum ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pencapaian SDGs melalui inovasi, pengetahuan, dan aksi nyata.
Selain fasilitas penyelenggaraan, ICE BSD memiliki nilai tambah dari sisi aksesibilitas. Lokasinya dapat dijangkau melalui berbagai moda transportasi umum maupun kendaraan pribadi. Bagi delegasi yang datang melalui jalur udara, perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju ICE BSD dapat ditempuh sekitar 35 menit menggunakan mobil maupun layanan kereta bandara.
Akses transportasi publik juga tersedia melalui rute Airport Train atau KAI Bandara Railink menuju Stasiun Duri, kemudian tersambung dengan kereta komuter melalui Tanah Abang menuju Rangkasbitung Line hingga Stasiun Cisauk. Dari stasiun tersebut, peserta dapat melanjutkan perjalanan singkat menggunakan taksi atau transportasi daring menuju lokasi acara.
Untuk akses darat, ICE BSD juga terhubung dengan jaringan jalan tol utama, termasuk Tol Prof. Dr. Sedyatmo, JORR W2, dan Tol Kunciran–Serpong.
Dengan area indoor dan outdoor seluas lebih dari 85.000 meter persegi, ICE BSD telah menjadi salah satu destinasi MICE utama di Indonesia. Selama lebih dari satu dekade, lokasi ini menjadi tuan rumah berbagai konferensi, pameran, konser, dan forum internasional.
Berlokasi di BSD City yang terintegrasi dengan hotel, pusat komersial, dan akses transportasi, ICE BSD terus memperkuat posisinya dalam mendukung penyelenggaraan event berskala global, termasuk forum yang menempatkan isu keberlanjutan sebagai agenda utama.
(dra)
Lihat Juga :