Indonesia Kembangkan Vaksin Berteknologi mRNA untuk Antisipasi Penyakit DBD
Rabu, 08 Juli 2026 - 17:17 WIB
loading...
A
A
A
"Dari sisi kematian, paling tinggi TBC 126 ribu, HIV 25 ribu, dengue di atas malaria, dengue kan rankingnya kalau insiden 150 ribu, malaria 500 ribu, tapi kematian dengue itu 630 pertahun yang dicatat, malaria 132 orang, HIV 25 ribu, TBC 126 ribu. Jadi keempat vaksin ini kalau ditanya tadi mau jadi vaksin program apa enggak, memang prioritas kita dari yang besar dulu," jelas Budi lagi.
Dia menambahkan, pihaknya pun ke depan akan memprioritaskan proses vaksinasi pada penyakit yang paling tinggi angka kematiannya.
Sementara itu, Wamen Diktisaintek, Stella Christie mengungkap, pihaknya menggandeng universitas asal China itu lantaran kerja sama penelitian vaksin tersebut telah dilakukan sejak 2023 lalu. Lalu, dari sisi keahlian, Profesor di universitas China tersebut merupakan salah satu ahli vaksin top di China dan dunia.
"Alasan kedua, waktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan China untuk mensupport. Alasan ketiga, prime Industry dari Etana, saya sebagai profesor waktu itu menemani para industri kita ke Indonesia tahun 2023 untuk ke UI untuk melihat fasilitas di UI dan bagaimana kita sungguh bisa bekerjasama," katanya.
Dia menekankan, sejatinya kebanyakan vaksin manjur di dunia itu datangnya dari resep di universitas. Maka itu, penting sekali melakukan resep vaksin tersebut, yang prosesnya tidak dimulai dengan penandatanganan MoU dahulu, tapi justru dari bekerjasama dahulu.
Dia menambahkan, pihaknya pun ke depan akan memprioritaskan proses vaksinasi pada penyakit yang paling tinggi angka kematiannya.
Sementara itu, Wamen Diktisaintek, Stella Christie mengungkap, pihaknya menggandeng universitas asal China itu lantaran kerja sama penelitian vaksin tersebut telah dilakukan sejak 2023 lalu. Lalu, dari sisi keahlian, Profesor di universitas China tersebut merupakan salah satu ahli vaksin top di China dan dunia.
"Alasan kedua, waktu itu memang ada anggaran dari Ministry of Science and Technology untuk memulainya. Sehingga waktu itu kita memetakan kebutuhan Indonesia dan kemampuan China untuk mensupport. Alasan ketiga, prime Industry dari Etana, saya sebagai profesor waktu itu menemani para industri kita ke Indonesia tahun 2023 untuk ke UI untuk melihat fasilitas di UI dan bagaimana kita sungguh bisa bekerjasama," katanya.
Dia menekankan, sejatinya kebanyakan vaksin manjur di dunia itu datangnya dari resep di universitas. Maka itu, penting sekali melakukan resep vaksin tersebut, yang prosesnya tidak dimulai dengan penandatanganan MoU dahulu, tapi justru dari bekerjasama dahulu.
(nnz)
Lihat Juga :