Generasi Muda dan Gaya Hidup Baru di Era Digital dan AI
Senin, 13 Juli 2026 - 20:02 WIB
loading...
A
A
A
Dalam bidang psikologi digital, misalnya, mahasiswa dapat mempelajari perubahan perilaku manusia ketika berinteraksi melalui media sosial dan berbagai platform daring. Sementara itu, desain komunikasi visual berperan dalam membentuk cara sebuah pesan disampaikan melalui gambar, video, serta konten kreatif.
Bisnis digital juga semakin relevan dengan kebiasaan masyarakat yang mengandalkan teknologi untuk berbelanja, bekerja, mencari hiburan, dan membangun usaha. Kondisi tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk menciptakan produk maupun layanan yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Belajar Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Pengalaman belajar juga diarahkan agar tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Lingkungan kampus dikembangkan sebagai bagian dari kawasan urban yang dilengkapi ruang publik, pusat aktivitas gaya hidup, area rekreasi, hunian, serta fasilitas olahraga.
Kehadiran berbagai fasilitas tersebut memungkinkan mahasiswa menjalani keseharian yang lebih dinamis. Mereka dapat belajar, berinteraksi, membangun komunitas, berolahraga, hingga mengembangkan proyek kreatif dalam satu lingkungan yang saling terhubung.
Teknologi dan kecerdasan buatan juga diterapkan dalam pengalaman belajar, pengelolaan kampus, serta simulasi dunia kerja. Pendekatan ini diharapkan membuat mahasiswa tidak hanya memahami teknologi secara teori, tetapi juga terbiasa menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mempelajari teknologi dan kecerdasan buatan secara teori, tetapi juga mengalaminya dalam proses pembelajaran, aktivitas kampus, dan interaksi dengan lingkungan sekitar,” ujar Dr. Fredy Purnomo, S.Kom., M.Kom., direktur kampus di Semarang.
Menurut Fredy, lingkungan yang terintegrasi dapat membantu mahasiswa menjadi pribadi yang adaptif, inovatif, dan mampu bekerja bersama orang lain. Keterampilan tersebut dibutuhkan karena dunia profesional terus berubah mengikuti perkembangan teknologi dan kebiasaan masyarakat.
Bisnis digital juga semakin relevan dengan kebiasaan masyarakat yang mengandalkan teknologi untuk berbelanja, bekerja, mencari hiburan, dan membangun usaha. Kondisi tersebut membuka peluang bagi generasi muda untuk menciptakan produk maupun layanan yang lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari.
Belajar Menjadi Bagian dari Gaya Hidup
Pengalaman belajar juga diarahkan agar tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Lingkungan kampus dikembangkan sebagai bagian dari kawasan urban yang dilengkapi ruang publik, pusat aktivitas gaya hidup, area rekreasi, hunian, serta fasilitas olahraga.
Kehadiran berbagai fasilitas tersebut memungkinkan mahasiswa menjalani keseharian yang lebih dinamis. Mereka dapat belajar, berinteraksi, membangun komunitas, berolahraga, hingga mengembangkan proyek kreatif dalam satu lingkungan yang saling terhubung.
Teknologi dan kecerdasan buatan juga diterapkan dalam pengalaman belajar, pengelolaan kampus, serta simulasi dunia kerja. Pendekatan ini diharapkan membuat mahasiswa tidak hanya memahami teknologi secara teori, tetapi juga terbiasa menggunakannya dalam aktivitas sehari-hari.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mempelajari teknologi dan kecerdasan buatan secara teori, tetapi juga mengalaminya dalam proses pembelajaran, aktivitas kampus, dan interaksi dengan lingkungan sekitar,” ujar Dr. Fredy Purnomo, S.Kom., M.Kom., direktur kampus di Semarang.
Menurut Fredy, lingkungan yang terintegrasi dapat membantu mahasiswa menjadi pribadi yang adaptif, inovatif, dan mampu bekerja bersama orang lain. Keterampilan tersebut dibutuhkan karena dunia profesional terus berubah mengikuti perkembangan teknologi dan kebiasaan masyarakat.
Lihat Juga :