Gen Z Ramai Tinggalkan Wireless Earphone, Benarkah yang Pakai Kabel Lebih Sehat?
Minggu, 19 Juli 2026 - 11:37 WIB
loading...
A
A
A
“Soal radiasinya, dokter dari IPB University menegaskan bluetooth memancarkan gelombang non-ionizing yang tidak terbukti merusak sel atau DNA. WHO dan CDC pun belum menemukan bukti kuat bahwa TWS berbahaya bagi kesehatan. Jadi ketakutan itu belum mendasar secara sains,” ucap dia.
Alih-alih radiasi, Bang Sap justru menyoroti ancaman nyata yang luput dari perhatian: lonjakan sampah elektronik (e-waste). TWS yang ditinggalkan begitu saja berpotensi menjadi bom waktu bagi lingkungan.
Apalagi, TWS dirancang sebagai perangkat yang sepenuhnya dilem rapat. Jika terjadi kerusakan komponen atau penurunan performa baterai, perangkat ini hampir mustahil diperbaiki dan akhirnya dibuang.
Baca Juga : 6 Akibat Pakai Headset Terlalu Lama, Bisa Kehilangan Pendengaran
“TWS itu perangkat yang hampir seluruhnya dilem, enggak bisa dibuka. Dengan baterai lithium-ion mungil di dalamnya yang enggak bisa diganti. Begitu baterainya habis atau rusak, seluruh perangkatnya langsung dibuang, dan nyaris enggak ada fasilitas daur ulang yang siap menangkapnya,” ungkap Bang Sap.
Jika dibiarkan, fenomena ini akan memperpanjang daftar hitam masalah sampah elektronik di tanah air. Sebagai gambaran, pada 2023 lalu, sampah elektronik di Indonesia sudah menembus angka 2,1 juta ton dan diproyeksikan melonjak hingga 4,4 juta ton pada 2030 mendatang.
Ironisnya, kandungan kimia di dalam limbah elektronik ini jauh lebih beracun ketimbang gelombang radio yang ditakuti masyarakat.
Alih-alih radiasi, Bang Sap justru menyoroti ancaman nyata yang luput dari perhatian: lonjakan sampah elektronik (e-waste). TWS yang ditinggalkan begitu saja berpotensi menjadi bom waktu bagi lingkungan.
Apalagi, TWS dirancang sebagai perangkat yang sepenuhnya dilem rapat. Jika terjadi kerusakan komponen atau penurunan performa baterai, perangkat ini hampir mustahil diperbaiki dan akhirnya dibuang.
Baca Juga : 6 Akibat Pakai Headset Terlalu Lama, Bisa Kehilangan Pendengaran
“TWS itu perangkat yang hampir seluruhnya dilem, enggak bisa dibuka. Dengan baterai lithium-ion mungil di dalamnya yang enggak bisa diganti. Begitu baterainya habis atau rusak, seluruh perangkatnya langsung dibuang, dan nyaris enggak ada fasilitas daur ulang yang siap menangkapnya,” ungkap Bang Sap.
Jika dibiarkan, fenomena ini akan memperpanjang daftar hitam masalah sampah elektronik di tanah air. Sebagai gambaran, pada 2023 lalu, sampah elektronik di Indonesia sudah menembus angka 2,1 juta ton dan diproyeksikan melonjak hingga 4,4 juta ton pada 2030 mendatang.
Ironisnya, kandungan kimia di dalam limbah elektronik ini jauh lebih beracun ketimbang gelombang radio yang ditakuti masyarakat.
Lihat Juga :