Kualitas Air Tanah Menurun, Permintaan Sistem Pengolahan Air Terintegrasi Melonjak
Senin, 20 Juli 2026 - 14:08 WIB
loading...
Kesadaran masyarakat terhadap sanitasi dan kualitas air bersih yang layak konsumsi terus mengalami peningkatan.
A
A
A
JAKARTA - Kesadaran masyarakat terhadap sanitasi dan kualitas air bersih yang layak konsumsi terus mengalami peningkatan. Penurunan kualitas sumber air akibat polusi dan kontaminasi lingkungan kini menjadi pendorong utama melesatnya pertumbuhan industri teknologi pengolahan air di Indonesia.
Kondisi ini tergambar dalam ajang pameran Indonesia Building Technology (IBT) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (11/7/2026). Perusahaan penyedia solusi pengolahan air, FLAX, membidik lonjakan permintaan ini dengan menargetkan pertumbuhan bisnis yang signifikan.
Sales Manager FLAX, Willy Chandra, menilai pergeseran perilaku konsumen saat ini menuntut sistem pengolahan yang adaptif terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal.
"Kami tidak hanya menjual filter air. Yang kami tawarkan adalah sistem penjernihan yang dirancang sesuai kebutuhan sehingga konsumen bisa memperoleh kualitas air yang lebih baik. Bagi kami, air yang lebih baik akan berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat," ujar Willy.
Secara teknis, sumber air di Indonesia rentan terhadap risiko pencemaran, mulai dari kebocoran pipa PDAM hingga kontaminasi limbah rumah tangga. Di Pulau Jawa, tantangannya meliputi tingginya kandungan besi, mangan, silika, serta cemaran mikrobiologi yang kerap dipicu oleh rembesan septic tank.
Untuk mengatasinya, teknologi filtrasi dibagi ke dalam dua tahap: Point of Entry (POE) yang menyaring pasokan air saat memasuki bangunan, serta Point of Use (POU) guna memurnikan air agar aman diminum. Penentuan sistem tersebut wajib didahului oleh uji kualitas laboratorium.
"Kami percaya setiap sumber air memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, sebelum menentukan produk, tim kami selalu melakukan survei, menguji kualitas air, lalu memberikan rekomendasi sistem yang paling sesuai. Tidak semua air bisa diolah dengan mesin yang sama," katanya.
Di samping spesifikasi perangkat yang bersertifikasi halal, berstandar FDA, dan berbasis industrial grade, layanan purna jual menjadi faktor krusial. Perangkat pengolahan ini dipasarkan mulai dari Rp10 juta hingga lebih dari Rp30 juta.
"Kami bukan sekadar memasarkan mesin. Konsumen juga mendapatkan ketenangan karena ada layanan after sales 24 jam. Tim teknisi kami siap memberikan dukungan apabila terjadi kendala," ucapnya.
Tingginya permintaan kini telah menjangkau 20 kota besar hingga kawasan timur Indonesia, memicu hadirnya inovasi unit berkapasitas besar dan unit portabel.
"Bahkan untuk proyek di wilayah yang lebih jauh pun tetap bisa kami layani. Belum lama ini tim kami dari Bali menangani pemasangan sistem penjernihan air di empat resort di Sumba," katanya.
Mengenai unit portabel yang diluncurkan, Willy menambahkan fungsinya untuk mitigasi krisis. "Produk portable ini mudah dibawa dan dapat dimanfaatkan ketika terjadi kondisi darurat yang membutuhkan penyediaan air bersih secara cepat," tutur Willy.
Pelaku industri meyakini tren adopsi teknologi ini akan terus menanjak secara konsisten.
"Kami menargetkan pertumbuhan minimal 50 persen dibandingkan tahun lalu. Sampai saat ini tren pasar masih sangat positif karena masyarakat semakin sadar bahwa kualitas air merupakan investasi untuk kesehatan dan kualitas hidup," ujar Willy.
"Harapan kami, apa yang kami lakukan hari ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat melalui akses air bersih yang lebih baik," pungkasnya.
Kondisi ini tergambar dalam ajang pameran Indonesia Building Technology (IBT) 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (11/7/2026). Perusahaan penyedia solusi pengolahan air, FLAX, membidik lonjakan permintaan ini dengan menargetkan pertumbuhan bisnis yang signifikan.
Sales Manager FLAX, Willy Chandra, menilai pergeseran perilaku konsumen saat ini menuntut sistem pengolahan yang adaptif terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal.
"Kami tidak hanya menjual filter air. Yang kami tawarkan adalah sistem penjernihan yang dirancang sesuai kebutuhan sehingga konsumen bisa memperoleh kualitas air yang lebih baik. Bagi kami, air yang lebih baik akan berpengaruh langsung terhadap kualitas hidup masyarakat," ujar Willy.
Secara teknis, sumber air di Indonesia rentan terhadap risiko pencemaran, mulai dari kebocoran pipa PDAM hingga kontaminasi limbah rumah tangga. Di Pulau Jawa, tantangannya meliputi tingginya kandungan besi, mangan, silika, serta cemaran mikrobiologi yang kerap dipicu oleh rembesan septic tank.
Untuk mengatasinya, teknologi filtrasi dibagi ke dalam dua tahap: Point of Entry (POE) yang menyaring pasokan air saat memasuki bangunan, serta Point of Use (POU) guna memurnikan air agar aman diminum. Penentuan sistem tersebut wajib didahului oleh uji kualitas laboratorium.
"Kami percaya setiap sumber air memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, sebelum menentukan produk, tim kami selalu melakukan survei, menguji kualitas air, lalu memberikan rekomendasi sistem yang paling sesuai. Tidak semua air bisa diolah dengan mesin yang sama," katanya.
Di samping spesifikasi perangkat yang bersertifikasi halal, berstandar FDA, dan berbasis industrial grade, layanan purna jual menjadi faktor krusial. Perangkat pengolahan ini dipasarkan mulai dari Rp10 juta hingga lebih dari Rp30 juta.
"Kami bukan sekadar memasarkan mesin. Konsumen juga mendapatkan ketenangan karena ada layanan after sales 24 jam. Tim teknisi kami siap memberikan dukungan apabila terjadi kendala," ucapnya.
Tingginya permintaan kini telah menjangkau 20 kota besar hingga kawasan timur Indonesia, memicu hadirnya inovasi unit berkapasitas besar dan unit portabel.
"Bahkan untuk proyek di wilayah yang lebih jauh pun tetap bisa kami layani. Belum lama ini tim kami dari Bali menangani pemasangan sistem penjernihan air di empat resort di Sumba," katanya.
Mengenai unit portabel yang diluncurkan, Willy menambahkan fungsinya untuk mitigasi krisis. "Produk portable ini mudah dibawa dan dapat dimanfaatkan ketika terjadi kondisi darurat yang membutuhkan penyediaan air bersih secara cepat," tutur Willy.
Pelaku industri meyakini tren adopsi teknologi ini akan terus menanjak secara konsisten.
"Kami menargetkan pertumbuhan minimal 50 persen dibandingkan tahun lalu. Sampai saat ini tren pasar masih sangat positif karena masyarakat semakin sadar bahwa kualitas air merupakan investasi untuk kesehatan dan kualitas hidup," ujar Willy.
"Harapan kami, apa yang kami lakukan hari ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat melalui akses air bersih yang lebih baik," pungkasnya.
(dra)
Lihat Juga :