Hepatitis Merusak Hati Diam-Diam, Kenali Tanda dan Cara Mencegahnya
Rabu, 22 Juli 2026 - 15:00 WIB
loading...
Mudah lelah bisa menjadi salah satu tanda penyakit hepatitis. Foto: Texas Health
A
A
A
JAKARTA - Hati merupakan salah satu organ yang terkadang dianggap sepele bahkan dilupakan. Namun dibalik hal tersebut hati menjadi salah satu bagian krusial dalam segi kesehatan dimana jika organ hati sudah mulai mengalami kerusakan, maka bisa jadi berkembang menjadi sirois atau kanker hati.
Melansir dari unggahan edukasi kesehatan di akun instagram Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono @dante.harbuwono, kerusakan pada bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti penyakit hepatitis .
Sementara, data Kementerian Kesehatan (2025) mencatat setidaknya 6,7 juta penduduk Indonesia hidup dengan hepatitis B, sementara 2,5 juta lainnya terinfeksi hepatitis C. Angka ini menjadi alarm kewaspadaan nasional, mengingat tingginya populasi pengidap hepatitis berkaitan erat dengan meningkatnya risiko kerusakan fungsi hati secara permanen.
Baca Juga : Hepatitis B Kronis Tak Bisa Sembuh Total, Penderita Harus Minum Obat Seumur Hidup
Mengapa demikian? Hati merupakan organ vital yang menjalankan lebih dari 500 fungsi penting untuk menopang kehidupan, seperti mengubah makanan menjadi energi, menyaring racun, memproduksi empedu, hingga membentuk protein.
Ketika seseorang terinfeksi hepatitis atau mengidap gangguan lain seperti Metabolic Dysfunction Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) dan sirosis kemampuan organ hati dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut akan menurun secara bertahap.
Sayangnya, bahaya laten penyakit hati terletak pada sifatnya yang sering kali "senyap". Organ hati memiliki kemampuan luar biasa untuk beregenerasi dan mengkompensasi kerusakan, sehingga gangguan awal kerap tidak menimbulkan gejala sama sekali.
Akibatnya, sebagian besar pasien baru menyadari kondisi kesehatannya saat penyakit hati sudah memasuki tahap lanjut, bahkan berkembang menjadi sirosis hingga kanker hati.
Oleh karena itu, langkah pencegahan dan pemeriksaan dini sangat krusial sebelum fungsi hati terganggu parah.
Baca Juga : Jadi Penyakit Silent Killer, Kasus Hepatitis di Indonesia Urutan ke-4 Dunia
Masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami tanda-tanda seperti rasa lelah berlebihan dan berkepanjangan, warna menguning pada mata atau kulit (jaundice), pembengkakan atau pembesaran pada area perut dan warna urine yang mempekat gelap seperti teh.
Menjaga kesehatan hati tidak boleh menunggu hingga tubuh menunjukkan gejala sakit. Langkah preventif dapat dimulai dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang, menjaga berat badan ideal, berolahraga secara teratur, serta menghindari konsumsi alkohol dan obat-obatan tanpa resep dokter.
Selain itu, memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis sesuai kelompok usia dan faktor risiko terutama bagi individu dengan kondisi obesitas, diabetes, atau riwayat keluarga pengidap penyakit hati menjadi kunci penting untuk mendeteksi potensi gangguan hati sedini mungkin
Melansir dari unggahan edukasi kesehatan di akun instagram Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono @dante.harbuwono, kerusakan pada bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti penyakit hepatitis .
Sementara, data Kementerian Kesehatan (2025) mencatat setidaknya 6,7 juta penduduk Indonesia hidup dengan hepatitis B, sementara 2,5 juta lainnya terinfeksi hepatitis C. Angka ini menjadi alarm kewaspadaan nasional, mengingat tingginya populasi pengidap hepatitis berkaitan erat dengan meningkatnya risiko kerusakan fungsi hati secara permanen.
Baca Juga : Hepatitis B Kronis Tak Bisa Sembuh Total, Penderita Harus Minum Obat Seumur Hidup
Mengapa demikian? Hati merupakan organ vital yang menjalankan lebih dari 500 fungsi penting untuk menopang kehidupan, seperti mengubah makanan menjadi energi, menyaring racun, memproduksi empedu, hingga membentuk protein.
Ketika seseorang terinfeksi hepatitis atau mengidap gangguan lain seperti Metabolic Dysfunction Associated Steatotic Liver Disease (MASLD) dan sirosis kemampuan organ hati dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut akan menurun secara bertahap.
Sayangnya, bahaya laten penyakit hati terletak pada sifatnya yang sering kali "senyap". Organ hati memiliki kemampuan luar biasa untuk beregenerasi dan mengkompensasi kerusakan, sehingga gangguan awal kerap tidak menimbulkan gejala sama sekali.
Akibatnya, sebagian besar pasien baru menyadari kondisi kesehatannya saat penyakit hati sudah memasuki tahap lanjut, bahkan berkembang menjadi sirosis hingga kanker hati.
Oleh karena itu, langkah pencegahan dan pemeriksaan dini sangat krusial sebelum fungsi hati terganggu parah.
Baca Juga : Jadi Penyakit Silent Killer, Kasus Hepatitis di Indonesia Urutan ke-4 Dunia
Masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami tanda-tanda seperti rasa lelah berlebihan dan berkepanjangan, warna menguning pada mata atau kulit (jaundice), pembengkakan atau pembesaran pada area perut dan warna urine yang mempekat gelap seperti teh.
Menjaga kesehatan hati tidak boleh menunggu hingga tubuh menunjukkan gejala sakit. Langkah preventif dapat dimulai dengan menerapkan pola makan bergizi seimbang, menjaga berat badan ideal, berolahraga secara teratur, serta menghindari konsumsi alkohol dan obat-obatan tanpa resep dokter.
Selain itu, memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis sesuai kelompok usia dan faktor risiko terutama bagi individu dengan kondisi obesitas, diabetes, atau riwayat keluarga pengidap penyakit hati menjadi kunci penting untuk mendeteksi potensi gangguan hati sedini mungkin
(wur)
Lihat Juga :